Jejak Hijau

Lampu Berenergi Air Garam

Sabtu, 27 February 2016 06:50 WIB Penulis: Wnd/M-3

MI/SITI RETNO

NELAYAN di Pesisir Marunda, Jakarta Utara, riuh saat melihat kumpulan ikan berkumpul di bawah cahaya petromaks.

Namun, tidak seperti lampu pijar berbahan bakar parafin atau minyak yang digunakan dengan digantung di atas air, lampu ini dibiarkan mengambang di air.

Tidak ada pembungkus yang dipasangkan nelayan pada lampu itu, hanya tali rafia untuk mencegah lampu itu lepas terbawa arus.

Meski bentuknya mirip, lampu tersebut memang bukan petromaks.

Namanya ialah Age-Petromat, berbohlam LED dan diklaim ramah lingkungan.

Pembuat lampu tahan air (water resistant) ini ialah Rudi Wahyudi, Peneliti Institut Pertanian Bogor di Bidang Teknik Mesin.

Ditemui di bengkel usahanya di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Rabu (17/2), ia menjelaskan sistem ramah lingkungan diciptakan dengan penggunaan air garam atau air laut sebagai sumber energi listrik.

"Logam apa pun yang terendam pada air laut atau air garam akan habis, berarti kan ada energi. Saya mulai buat percobaan untuk mendapatkan energi listrik, dan tahun lalu, baru saya bisa meluncurkan produk yang disebut Petromat," kata Rudi sembari memperlihatkan beberapa tipe lentera tersebut.

Tanpa limbah dan racun

Rudi menyebut segala macam komponen pembentuk Petromat berasal dari dalam negeri, mulai dari badan lentera yang terbuat bahan heavy duty polyester dan kaca bening lampu yang terbuat dari akrilik sehingga lampu tersebut dinyatakan tahan bentur, tahan air, dan mudah dibawa ke mana-mana.

Cara kerjanya menggunakan reaksi kimia redoks, yakni udara menjadi katoda, elektroda sebagai anoda, dan air garam atau air laut sebagai katalisator.

Rudi mengklaim penemuannya sebagai alat penerangan yang sangat murah karena air laut bisa didapat secara gratis pun dengan air tawar yang ditambahkan garam tidak sebanding dengan biaya membeli bahan bakar minyak.

"Tabung penyimpanan air garam memiliki kapasitas 380 CC, kalau menggunakan air tawar memasukan garamnya cukup 3-5%, atau sekitar dua sendok garam. Nah, air ini harus diganti setiap delapan jam sekali, sementara elektrodanya bisa bertahan hingga 120 jam. Kalau elektroda habis baru ganti," ujar Rudi.

Hari itu ia dibantu pegawainya melakukan demonstrasi alat yang memiliki besaran cahaya 110-125 lumen (nyala lilin) untuk lampu dengan satu elektroda, dan 210-250 lumen untuk lampu dengan dua elektroda.

Penggunaan lampu ini tak hanya untuk nelayan, tetapi juga digunakan untuk skala rumah tangga, baik masyarakat pesisir maupun masyarakat perkotaan di saat mati listrik.

Aktivitas di luar ruangan seperti berkemah, naik gunung, hingga sebagai sumber listrik bagi ponsel.

Hanya saja, jika port USB digunakan maka lampu akan mati. Emisi seperti asap, limbah, dan racun juga dinyatakan tidak ada, hal tersebut sudah melalui penelitian dengan berbagai pihak dan mendapat apresiasi besar dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kementerian ESDM telah menyalurkan lampu Age-Petromat sebagai bantuan untuk nelayan di berbagai daerah.

"Tidak menyisakan apa pun, termasuk air garamnya kalau dibuang tidak mengandung limbah. Jika lampu tidak dipakai, buang airnya melalui katup di bagian bawah. Perbandingannya, kalau Petromat hanya menghabiskan biaya Rp1-2 ribu per malam, sementara BBM sekitar 2 liter per malam," ungkap peneliti yang hobi memancing ini.

Kini, lampu bertenaga air garam tersebut sudah digunakan banyak nelayan seperti di Cirebon, Carita, Probolinggo, juga di Marunda.

Sementara negara lain yang sudah menjajaki kerja sama dengan Rudi, yakni Malaysia, Brunei, Australia, hingga Turki.

Untuk elektroda, Rudi membuat sendiri dan menyebarkan di berbagai daerah agar bisa dijangkau oleh pengguna petromat.

Harganya pun terjangkau berkisar Rp40 ribu-an untuk satu paket.

Sementara untuk lampu harganya berkisar dari Rp400-900ribu sudah termasuk dua botol plastik yang digunakan sebagai corong memasukkan air dalam lubang petromat dan kartu garansi hingga satu tahun.

Komentar