Sosok

Mengubah Paradigma Penyandang Disabilitas

Kamis, 25 February 2016 09:05 WIB Penulis: DZULFIKRI PUTRA MALAWI

Sabar Groky di Elbrus, Kilimanjaro--Dok. Pribadi

SELAIN mendaki gunung, Sabar juga hobi panjat dinding. Dia bahkan sempat ikut mendirikan federasi panjat HCC (Hong Kong Climbing Club) pada 1993 di Solo. Bekal itulah yang membuat Sabar hingga saat ini masih aktif bekerja membersihkan gedung-gedung tinggi atau <>vertical service.

Namun, dalam melakoni pekerjaannya itu, Sabar bukan menggunakan gondola, melainkan dengan teknik panjat tebing. "Kerjaan sekarang ngecat gedung, bersihin gedung di Solo. Kadang tiga bulan baru dapat, kadang sebulan tiga sampai empat kali," ungkapnya.

Pria bertubuh kurus, tapi kekar ini tertantang mempelajari olahraga panjat tebing setelah melihat aksi mahasiswa-mahasiswa Universitas 11 Maret, Solo. Kebetulan rumahnya dekat kampus tersebut dan punya banyak kawan di sana. Di kampus itulah, Sabar belajar memanjat dinding tebing buatan.

"Saya cuma lulusan SMA. Kenal mereka karena lingkungan yang dekat dan sering main dengan mereka (mahasiswa). Lalu diajak panjat tebing," tutur Sabar menceritakan pengalamannya.

Dari hobinya itu, Sabar telah meraih sejumlah prestasi, di antaranya memenangi kejuaraan panjat dinding di Korea Selatan. Di event itu, dia bahkan mampu mengalahkan atlet normal.

Sabar seperti menjadi penyulut api semangat bagi para penyandang cacat fisik. Ia juga ingin mengubah paradigma penyandang disabilitas untuk berprestasi dan melawan depresi.

"Depresi dengan kondisi seperti ini sangat normal. Mengatasi depresinya dengan komunikasi bersama lingkungan. Lingkungan harus kasih kesempatan, perhatian, tapi jangan dikasih uang. Kasih kesempatan penyandang disabilitas untuk bekerja. Kalau dikasih uang nanti malah minta lagi, tidak mau menembus keterbatasannya," pesannya.

Keterbatasan fisik memang tidak menghalangi Sabar untuk melakukan aktivitas apa pun. Pria yang dua tahun silam pernah memanjat puncak Monas ini bahkan menyimpan obsesi mendaki seluruh tujuh gunung tertinggi di dunia (Seven Summits) yang empat di antaranya sudah dilakoni Sabar. Mengapa dia begitu nekat?

"Kalau Anda takut mati, Anda akan ketakutan terus. Saat kita jalan satu langkah ke depan, kita pun enggak ngerti bakal terjadi apa. Semua terserah sama yang Maha Kuasa. Kita tidak tahu akan berhenti di usia berapa. Hidup saya mengalir saja seperti air," pungkasnya.(Fik/M-4)

Komentar