Sosok

Sabar Gorky, Menembus Keterbatasan

Kamis, 25 February 2016 09:00 WIB Penulis: DZULFIKRI PUTRA MALAWI

MI/Ramdani

SUATU hari di awal 1990-an silam, Sabar Gorky harus menerima kenyataan pahit kehilangan kaki kanannya. Ketika itu, dia terjatuh dari kereta dalam perjalanan dari Jakarta ke Solo seusai mendaki Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat. Bisa dibayangkan betapa terpukulnya pria kelahiran 9 September 1968 itu.

Sebagai remaja, kala itu, Sabar tengah gagah-gagahnya. Impiannya untuk masuk tentara pun sirna. "Kejadiannya pada April pukul 14.00. Setelah itu, saya diledek teman-teman dan mulai goyah, tapi saya bangkit untuk bisa naik gunung lagi," ujarnya saat berbincang dengan Media Indonesia, beberapa jam sebelum bertolak ke Argentina, Kamis (18/2) lalu.

Kepergian Sabar ke 'Negeri Tango' pun untuk tujuan naik gunung. Bersama delapan pendaki Indonesia lainnya, dia bertekad menaklukkan salah satu gunung tertinggi di dunia, Aconcagua. Dia satu-satunya pendaki difabel dalam rombongan itu. Gunung setinggi 6.962 meter dari permukaan laut itu akan mereka libas dalam tempo 20 hari perjalanan naik dan turun.

Sabar memang hobi naik gunung. Sebelum kecelakaan maut itu, berbagai gunung di Pulau Jawa telah ia jelajahi. Bahkan, selang tujuh bulan setelah kaki kanannya diamputasi, dia telah merangkak naik dan berhasil menaklukkan sejumlah gunung, seperti Lawu, Semeru, Merapi, Merbabu, Sendoro, dan Sumbing.

Namun, Sabar mengakui, sejak kehilangan satu kaki, dia merasa lebih lelah karena tidak bisa berlari seperti semula saat mendaki. Kendati demikian, dia tetap menikmati petualangan itu. Bahkan, ia enggan untuk digendong. "Merangkak pun kalau perlu saya jalani. Saya selalu semangat kalau naik gunung karena saya merasa 'dimanusiakan'. Lingkungan ini yang utama," tegasnya.

Sabar tak gentar kendati cuaca di gunung, terutama Aconcagua, amat ekstrem dan dapat berubah seketika. Bahkan, kata dia, perubahan cuaca di sana secepat memadamkan lampu. "Sekarang panas, seketika bisa datang badai," ungkap Sabar.

Bagi ayah dua anak ini, modalnya untuk mencapai puncak gunung tertinggi kedua di dunia itu ialah kekompakan tim. Ia percaya tidak akan berhasil jika komunikasi dan kerja sama antartim tidak berjalan. Untuk mewujudkan keinginannya mencapai puncak, tim pendaki yang terdiri dari empat warga sipil termasuk seorang wanita dan lima pasukan Marinir itu didampingi tiga guide setiap orangnya.

"Persiapan khusus saya hanya bersepeda, saya hobi sepeda onthel pukul 12.00 sampai pukul 15.00. Kadang pukul 04.00-06.00 setiap hari. Kalau makanan biasa, tetap makan nasi. Ke sana bawa nasi juga. Persiapan lainnya sama seperti di Gunung Elbrus, perlengkapannya harus lengkap. Saya hanya atlet, ikuti mapping dari komandan," jelas Sabar soal persiapannya mendaki Aconcagua.

Sebelumnya, Sabar telah berhasil mendaki puncak Gunung Elbrus (Rusia) setinggi 5.642 m serta Kilimanjaro, Tanzania (5.895 m), dan terakhir Cartenz, Papua (4.884 m) pada tahun lalu bersama pasukan Marinir. "Aconcagua ini gunung keempat dunia yang saya daki," ujarnya menyiratkan optimisme.

Arti nama Gorky
Sabar memang terbilang nekat. Nama Gorky bahkan didapatnya dari kenekatannya itu. Menurut penuturannya, nama itu didapat setelah dia sukses mendaki Gunung Elbrus di Rusia pada 2011.

Setelah menancapkan Merah Putih di puncak dan berhasil kembali lagi ke Moskow, seorang staf kedutaan Indonesia untuk Rusia yang kagum dengan keberaniannya lalu memberikan nama Gorky. Dalam bahasa Rusia, nama Gorky artinya pahit. "Karena orang melihat saya pahit, hidupnya sudah pahit, dengan perjuangannya itu menjadi manis," ujar Sabar sambil terkekeh.

Berkat hobinya itu, kini Sabar telah mendulang sejumlah prestasi. Ia, misalnya, pernah meraih medali emas Kejuaraan Panjat Dinding Asia di Korea Selatan pada 2009.

Selain mencapai puncak Gunung Elbrus, dia juga pernah menaklukkan Gunung Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika, dengan ketinggian 5.895 mdpl pada 13 November 2011.

Sabar bahkan menjadi pendaki tunadaksa pertama di dunia yang berhasil menginjakkan kaki di puncak Gunung Kilimanjaro tanpa bantuan orang lain.

Dalam setiap pendakian, Sabar kerap memiliki pengalaman pahit maupun manis, termasuk saat mendaki Kilimanjaro. Kata dia, saat ia menuruni Puncak Kilimanjaro yang berhasil digapainya, beberapa pendaki asing enggan memberi selamat atas keberhasilannya.

Mereka tak percaya seorang penyandang disabilitas mampu melakukan apa yang ditempuh pendaki profesional. Ketika itu, Sabar mendaki puncak tertinggi gunung di 'Benua Hitam' dengan lima sahabatnya.

"Enggak ada yang percaya saya sampai Puncak Kilimanjaro, karena rombongan pendaki lainnya bertemu saya saat saya sudah di perjalanan turun dari puncak. Karena enggak ada yang papasan di puncak, mereka menolak saat tim saya menyuruh mereka memberikan selamat kepada saya," kenang Sabar seraya tersenyum.

Kini, pria yang juga hobi panjat dinding ini, memilih jalan hidup sebagai pendaki. Melalui hobinya itu, dia bertekad mengharumkan nama bangsa.

"Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tunadaksa masih mampu berkarya. Kalau Anda tidak mau hadapi masalah, akan ada masalah baru lagi. Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya terserah Anda," katanya berpesan.(M-4)

--------------------------------------

BIODATA:

Nama Lengkap: Sabar Gorky
Tempat, Tanggal, Lahir: Solo, 9 September 1968
Istri: Lenie Indria
Anak : Novalia Eka

Pendidikan :
- SD Gulon, Solo
- SMP Purnama 1, Solo
- SMA Wolter Monginsidi, Solo

Prestasi :
- Mencapai puncak Gunung Cartenz (4.884 mdpl), Papua, gunung tertinggi di Oseania, 17 Agustus 2015
- Peringkat empat besar dunia dalam World Championship Difable Climbing Competition, 12-16 September 2012, di Bolevard Berci, Paris, Prancis
- Mendapatkan kehormatan untuk menjadi pemegang obor ASEAN Paragames VI yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah, pada Desember 2011
- Mencapai puncak Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), gunung tertinggi di Afrika, 13 November 2011
- Mencapai puncak Gunung Elbrus (5.642 mdpl), gunung tertinggi di Eropa, 17 Agustus 2011
- Peraih medali emas Kejuaraan Panjat Dinding Asia di Chuncheon, Korea Selatan tahun 2009

Komentar