Jejak Hijau

Jangan Berhenti di Kantong Plastik

Sabtu, 20 February 2016 04:30 WIB Penulis: */Msnbc.com/M-3

MI/RAMDANI

ANDA yang tinggal di kota-kota besar janganlah heran jika saat berbelanja esok akan dikenai biaya untuk kantong plastik.

Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah yang jatuh 21 Februari, pemerintah menerapkan uji coba kantong plastik berbayar.

Program itu dilakukan di 22 kota besar di Indonesia. Di antaranya ialah Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan Papua.

Sesuai surat edaran Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar pada Usaha Ritel Modern, uji coba ini menyasar peritel modern.

Namun, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) juga ikut menyosialisasikan kepada anggotanya.

Dalam uji coba ini tiap kantong plastik yang digunakan akan dihargai Rp200.

Di sisi lain, bukan berarti harga tersebut merupakan representasi biaya untuk mengolah plastik.

Pasalnya, biaya yang dibutuhkan tetap jauh lebih besar.

"Selembar memang seharga Rp200, tapi mengelolanya bisa ratusan ribu," kata Kepala Seksi Bina Peritel, Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Supriyanto, dalam konferensi pers Kantong plastik tidak gratis: kenapa harus kita dukung? yang berlangsung di Jakarta, Rabu (17/2).

Uji coba ini rencananya bakal berlanjut terus hingga penerapan resmi aturan kantong plastik berbayar yang ditargetkan bakal terbit Juni tahun ini.

Hanya dipakai dua jam

Meskipun pemberlakuan resmi masih beberapa bulan lagi, gaya hidup minim atau malah tanpa kantong plastik mestinya memang dilakukan masyarakat.

Agus mengungkapkan kantong plastik rata-rata hanya digunakan selama dua jam.

Setelah itu, langsung menjadi sampah.

Bahkan, tidak jarang kita lihat orang yang langsung membuang kantong plastik begitu keluar dari minimarket.

Artinya, sesungguhnya banyak penggunaan kantong plastik yang tidak perlu, terutama dalam pembelian jumlah barang yang tidak seberapa atau jenis barang yang langsung dikonsumsi.

Sayangnya, ketidakpedulian masyarakat dan pelayan toko ritel untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik telah membawa akibat besar.

Timbunan sampah plastik terus meningkat, bahkan mencemari lautan.

Dalam 10 tahun terakhir, diperkirakan ada 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Sementara mayoritas di antaranya atau hampir 95% kantong plastik dengan cepat menjadi sampah.

"Pemulung tidak doyan sampah plastik, di TPA (tempat pembuangan akhir) tidak bisa hancur sendiri, di saluran air malah menyumbat, bisa banjir. Dibakar bikin penyakit, membakar sampah tidak sesuai standar lingkungan hidup juga melanggar peraturan," jelas Agus.

Wisata plastik

Gambaran nyata akan bahaya kantong plastik di antaranya bisa dilihat lewat program Wisata Plastik yang digelar Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP).

Organisasi ini merupakan salah satu yang terdepan mendorong kantong plastik berbayar.

Sejak 2013, GIDKP mengampanyekan petisi #pay4plastic lewat situs Change.org.

Petisi ini berhasil mengumpulkan 70 ribu tanda tangan dan akhirnya mendorong KLHK membuat aturan kantong plastik berbayar.

Koordinator Harian GIDKP, Rahyang Nusantara, menjelaskan lewat kegiatan wisata plastik, masyarakat diajak melihat dampak sampah plastik pada ekosistem sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung.

Dalam menggelar kegiatan ini, GIDKP bekerja sama dengan komunitas di Sungai Ciliwung.

Selain itu, GIDKP juga kerap menggelar acara Rampok Plastik dalam kegiatan car free day.

"Ketika melihat seseorang yang membawa kantong plastik, kami tukar dengan tas," terang Rahyang.

Untuk masyarakat usia sekolah, GIDKP juga memiliki modul yang dapat diakses melalui situs www.dietkantongplastik.info.

Lewat situs itu, siswa SD, SMP, dan SMA bisa belajar bahaya kantong plastik dan cara meminimalisasi penggunaannya.

"Tahun lalu kami sudah ke enam sekolah di Jakarta dan Bandung, mereka memang sudah cukup paham dengan isu lingkungan. Yang jadi masalah adalah bagaimana pihak sekolah mengakomodasi agar sekolah bisa mengurangi penggunaan plastik," tandas Rahyang.

Komentar