Humaniora

Kesetaraan untuk Saling Melengkapi

Ahad, 19 April 2015 00:00 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/IMMANUEL ANTONIUS

MATANYA terbuka, senyum mengembang di bibir bocah cilik usia 2,5 tahun, Kai Imara Mahendra.

Sembari mengucek mata, Kai perlahan bangun dari tidurnya dan duduk di kursi ruang tamu.

Sang ayah, Mekka Mahendra, 32, mengatakan anak perempuannya tersebut tidak tidur siang sehingga baru pukul 06.00 WIB sudah terlelap.

Sementara itu, sang istri, Anissa Hadju, 30, baru saja pulang dari kantor, belum juga berganti pakaian, Kai langsung meminta duduk bersama Anissa.

Sejak Kai berusia 1,5 bulan lebih banyak menghabiskan keseharian bersama Mekka.

Mekka tidak pernah melarang Anissa berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga karena itu sudah disepakati sejak Annisa mengandung.

Pekerjaan Mekka sebagai fotografer freelance membuatnya sering bekerja dari rumah, sedangkan Annisa bekerja kantoran.

Meski begitu, mereka tetap memperhatikan tumbuh kembang anak.

Keputusan itu bukan tanpa evaluasi, Annisa yang akrab disapa Icha kerap memperhatikan dampak yang muncul pada Kai dari pola asuh yang berbeda dari keluarga pada umumnya.

"Bukan berarti saya kerja, hubungan saya dan anak jadi merenggang. Saya tetap berusaha untuk memiliki ikatan yang kuat dengan Kai, salah satunya dengan cara tetap menyusui sebelum berangkat kerja dan selalu berbicara dengan Kai saat jam istirahat kantor sejak masih bayi," kata Icha saat ditemui di rumahnya, Tangerang Selatan, Kamis (16/4).

Demikian juga dengan Mekka.

Memilih menjadi stay at home dad atau bapak rumah tangga bukan keputusan tiba-tiba.

Sejak Icha mengandung, keduanya sangat aktif mengikuti kelas edukasi di lembaga AIMI.

Saat Kai baru lahir, Mekka meminta kepada suster yang membantu persalinan agar mengajarinya menggendong dan memandikan bayi dengan benar.

Mengganti pokok dan terbangun di tengah malam untuk menemani Icha menyusui sudah biasa dilakukan Mekka.

Karena itu, sejak meninggalkan Kai bersama Mekka, tidak ada perasaan khawatir dari Icha.

Tidak gengsi
Mekka pun tidak merasa malu, harus mengurus segala keperluan Kai, termasuk mengantarnya latihan gimnastik.

Namun, soal urusan makan, Mekka kerap berdiskusi dengan Icha.

"Saya memang ingin sekali dekat dengan anak, kecerdasan itu katanya menurun dari ibu, nah saya ingin menyumbang akhlak yang baik kepada Kai. Kalau pagi Kai sudah bangun, kami berdua antar Icha ke stasiun, kalau belum bangun ya Icha berangkat sendiri. Lalu nanti mandiin Kai, main bareng di rumah, masak untuk makan siang, sore baru Kai main dengan teman-teman di luar rumah," tukas Mekka.

Pengorbanan seorang perempuan, kata Mekka, sangatlah besar dan tidak seberapa dengan apa yang dilakukannya saat ini.

Keputusan Mekka dan Icha tidak selalu dinilai positif.

Banyak yang menilai Mekka mendompleng istri.

Namun, mereka tidak mendengarkan dan tidak ada perubahan sikap di antara keduanya.

Misalnya, kata Mekka, Icha kerap kali membiarkan Mekka dan Kai tertidur sembari beberes rumah setelah pulang kerja.

"Ibu lagi kelja (kerja) ke kantoi (kantor). Papa lagi kelja ceklek ceklek (menirukan gerakan memotret)," ujar Mekka menirukan jawaban anaknya ketika ditanya tentang orangtuanya.

Hal tersebut juga terlihat ketika ingin memangku Kai, tetapi Kai lebih memilih untuk duduk berdekatan dengan ibunya.

Seperti Mekka dan Icha, Wiwin Pratiwanggini, 40, dan Sri Mahamat Maaji, 38, juga memiliki konsep serupa.

Wiwin bekerja kantoran dan Sri mencari nafkah secara daring.

Mereka menekankan perilaku saling melengkapi.

Wiwin merasakan adanya perbedaan pola asuh yang didapatkan dirinya dengan sang anak.

Sewaktu dirinya kecil, Wiwin mengaku banyak diladeni ibunya sehingga membuat dirinya kurang mandiri.

"Anak saya mandiri karena sejak kecil sudah diajari pekerjaan rumah tangga oleh suami, kini anak saya sudah berusia 12 tahun. Suami saya juga sepertinya kurang percaya jika saya yang membesarkan anak he he he pasti lebih banyak pemaklumannya, kurang tegas," tukasnya.

Bersama lebih berharga
Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan salah satu orangtua bukan berarti memiliki kasih sayang terbatas.

Kedua keluarga itu tetap memastikan sang anak mendapat rasa yang seimbang antara ibu dan bapak.

Anak pun perlu diedukasi.

Meski ibu memiliki keterbatasan waktu bermain, semua dilakukan untuk keluarga.

Karena itu, Icha berupaya meluangkan waktu untuk buah hatinya.

"Ingin masak apa, itu harus tanya Mekka. Pun ketika ingin membeli sesuatu, enggak pernah merasa memiliki posisi lebih tinggi dari Mekka. Persoalan pembagian uang juga sering kami lakukan di depan Kai agar ia tahu terkadang biaya datang dari ibu, kadang dari ayahnya. Kasih sayang dan perhatian datang dari kedua orangtua," imbuh Icha.

Begitu juga Wiwin dan Sri, selalu mengajarkan kepada anaknya tidak semua pekerjaan harus dilakukan di luar rumah dalam jangka waktu lama.

Salah satunya Sri yang bisa bekerja dari rumah.

Sri pun berpesan pada calon ayah nanti, mengurus anak bukan berarti menurunkan kodrat sebagai seorang laki-laki karena prinsip berumah tangga ialah saling melengkapi.

"Satria tahu, ayahnya tidak seperti orang lain yang bekerja kantoran, tetapi bisa memberikan penghasilan. Kami memiliki cara yang berbeda tetapi satu tujuan, mengurus anak secara bersama," tukas Sri. (M-4)

Komentar