MI Gaya

Tentang Basket, Gaya, dan Musik

Ahad, 31 January 2016 10:00 WIB Penulis: MI/Fario Untung Tanu

MI/ADAM DWI

Di olahraga ini 'poin' bukan dari memasukkan bola ke jaring, melainkan membuatnya lekat di tubuh. Tidak hanya itu, gaya Anda juga harus keren dan seirama musik.

BERGAYA layaknya seorang penyanyi hip hop, Richard Insane Latunusa dengan mantap memainkan bola basket di seluruh bagian tubuhnya. Sesekali, dirinya sampai jungkir balik dengan tangan di bawah dan kaki di atas. Meski begitu, bola basket tetap mulus bergulir tanpa jatuh ke lantai.

Untuk teknik yang bernama hand stand pick up itu, pria yang akrab disapa Insane itu mengaku butuh latihan yang cukup lama. Kekuatan tangan menjadi modal utama.

Tidak hanya Insane, Kamis (21/1) senja itu di sebuah gerai di Grand Indonesia, Jakarta, ada delapan pemuda lain yang unjuk kebolehan dalam freestyle basketball. Setidaknya sekali dalam seminggu, di gerai yang menjual sepatu itu, mereka bertemu. Sambil kongko, mereka unjuk kebolehan hasil latihan yang juga rutin diadakan di tempat lain. Aksi mereka bisa makin seru dengan iringan musik.

"Dulu saya hanya bermain basket. Namun, setelah melihat freestyle basket, saya kagum dan mencoba untuk belajar hingga akhirnya bisa sampai sekarang," ujar Insane yang menjabat Ketua Asosiasi Bola Basket Seni Indonesia (ABBSI). Asosiasi itu menjadi wadah para penggemar freestyle basketball atau disebut freestyler.

Seperti bisa dilihat, olahraga itu punya perbedaan mendasar dengan basket biasa. Bola tidak dijaringkan, tetapi sedapat mungkin dimainkan di tubuh. Tidak hanya itu, tampilan freestyler juga penuh gaya dan gerak mereka harus sesuai dengan musik.

Perbedaan itu pula yang membuat Insane banting setir menjadi freestyler. Ia melihat aksi itu layaknya seni.

"Kita sebut (freestyle basket) di Indonesia sebagai bola basket seni karena tidak seperti main basket pada umumnya. Di sini kita harus memadukan gaya dengan alunan dan tempo musik," tuturnya.

Setidaknya ada empat teknik dasar yang harus bisa dikuasai untuk bisa menjadi freestyler. Teknik sedikit mirip berbeda dengan awal belajar bermain basket.

Keempat teknik itu ialah dribbling (memantulkan bola), spin (memutar bola di tangan atau bagian tubuh lain), roll (melingkarkan bola di tubuh) dan arm roll (memutar dan menjalankan bola di tangan).

Orang yang telah mampu bermain basket diyakini akan lebih mudah menjadi freestyler karena sudah memahami karakter gerak bola.

Insane mengingat olahraga yang sudah ada lama di luar negeri itu masuk ke Indonesia pada sekitar 2000. Saat itu sebuah produsen perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat memasukkannya ke kampanye olahraga urban mereka.

Seiring dengan waktu, penggemar olahraga itu di dalam negeri makin banyak, bahkan ditekuni serius. Insane dan rekan-rekannya pun serius mengasah kemampuan dengan belajar berbagai trik dan teknik dari freestyler luar. Lewat internet pula mereka memamerkan teknik dan gaya yang dikembangkan sendiri.

Insane pun bangga mengatakan kemampuan mereka dipuji Harlem Globetrotters, salah satu freestyler ternama dunia. Tim basket yang dalam beraksi memadukan gerakan atletik, teater, dan komedi itu beberapa waktu lalu berkunjung ke Indonesia. "Mereka bilang perkembangan freestyle basket di negara kita sangat pesat," tambahnya.

Khas Indonesia

Untuk bisa menjadi seorang freestyler sukses, Ketua Komunitas Masa Depan Freestyle Basketball Indonesia Israndi Pasopati menekankan kreativitas dan orisinalitas. Kedua hal itu menjadi penilaian penting di turnamen-turnamen freestyle basketball.

Israndi memiliki gaya orisinal yang dilakukan berduet Brahmanda Pandya Dipta. Dengan rekan freestyler-nya itu Israndi melakukan gaya flip and flop.

Orisinalitas juga mereka buat dengan menonjolkan budaya Indonesia. Hal itu dilakukan dengan iringan lagu-lagu Indonesia modern dan lagu daerah.

Untuk kostum, tak ada penggunaan pakaian olahraga khusus. Brahmanda yang hari itu juga hadir mengaku lebih suka bergaya kasual. Hari itu pun dengan berbalut sweter tangan panjang dan jins, ia sama sekali tidak kesulitan dalam memainkan si kulit bulat.

"Saya memang kalau tampil selalu pakai pakaian seperti ini. Menurut saya, ini sudah nyaman dan tidak perlu memakai setelan baju olahraga," ujar pria yang pernah memenangi penghargaan kostum terbaik dalam suatu turnamen freestyle bola basket itu.

Tak hanya itu, dalam sebuah pertunjukan, Brahmanda bersama dengan komunitasnya itu juga kerap mengenakan baju etnik khas daerah tertentu untuk menghargai budaya Indonesia. "Kita juga sering menggunakan sarung, batik, dan kopiah saat pertunjukan untuk menciptakan sesuatu yang unik dan kreatif," pungkasnya. (M-3)

Komentar