MI Gaya

Mencari Adrenalin di Atas Tali

Ahad, 24 January 2016 12:45 WIB Penulis: Bintang Krisanti

MI/BINTANG KRISANTI

AREA depan toko Eiger di Jalan Sumatera, Bandung, Jawa Barat biasa diwarnai aksi muda-mudi. Namun Sabtu (16/1), mereka bukan saja mengulur tali di dinding panjat yang memang menjulang di pinggir toko melainkan juga di sebagian besar tempat parkir.

Ada dua tali dengan lebar sekira dua kali lebar ikat pinggang yang diregangkan tidak jauh dari jajaran mobil. Masing-masing tali dipancangkan mendatar pada tiang besi setinggi sekitar 1 meter.

Sejurus kemudian seorang perempuan muda berusaha meniti tali yang memiliki panjang sekitar 5 meter. Tubuhnya oleh ke kanan dan kiri namun ia begitu serius mencapai ujung.

Agak jauh di sebelah kirinya, seorang pemuda lincah memantul-mantul di atas tali sepanjang sekitar 12 meter. Bukan cuma memantul sambil berdiri, ia lincah berganti dari rebah ke posisi duduk atau sambil menekuk kaki ke belakang.

"Kalau mau gabung silahkan aja," ujar seorang pemuda yang sebelumnya tampak serius mengamati teman-temannya beraksi kepada Media Indonesia. Fikri Dhiyaul Haq, demikian namanya, menjelaskan bahwa aksi yang sedang dilakukan adalah Trickline yang merupakan salah satu cabang dari Slackline.

Olahraga yang dimulai oleh pemanjat tebing Amerika Serikat, Adam Grosowsky pada 1976. Pada dasarnya olahraga ini aksi keseimbangan di atas tali yang diregangkan di antara dua titik.

Kini olahraga yang pertama kali terinpirasi dari aksi handstand seorang pesirkus di atas kabel itu telah berkembang dalam tujuh jenis. Trickline, seperti yang dilakukan Fikri pada hari itu adalah Slackline di ketinggian 1 meter sampai 1,2 meter dan menonjolkan kreativitas para pelakunya untuk menyeimbangkan dan memantulkan tubuh dengan berbagai posisi. Untuk posisi statis (diam), salah satu yang tampak banyak dipelajari sore itu adalah posisi Side Budha yang dilakukan dengan duduk bersila di atas tali.

"Jadi lebih ke freestyle. Tapi untuk bisa mantul-mantul dan beragam trik itu awalnya latihan jalan dulu," jelas Gingin Ginanjar. Pria yang datang belakangan dengan mengendarai sepeda ini merupakan salah satu pionir Slackline di Indonesia. Lama menekuni panjat tebing, mulai sekitar tahun 2011, ia dan beberapa teman menyebarkan kegemaran ber-slackline lewat komunitas Pushing Panda.

Jenis Slackline lainnya yang juga ditekuni Gingin adalah Highline (di ketinggian 10 meter ke atas), Waterline (di atas air), Rodeoline (tali dibuat kendur) dan Longline (panjang tali 30 meter ke atas). Sementara jika melihat situs-situs penggemar Slackline, terdapat satu lagi jenis yang juga populer yakni Windline (dalam kondisi angin kencang).

Di Atas Gunung

"Awalnya penasaran karena melihat kayaknya mudah, pas dicoba ga ada mudah-mudahnya," aku Gingin soal ketertarikan awal pada Slackline. Butuh waktu sekitar seminggu bagi pria berusia 31 tahun itu agar bisa berjalan di atas tali Trickline yang memiliki lebar 2 inchi.

Berjalan merupakan tahap pertama bagi orang untuk bisa melakoni berbagai jenis Slackline. Tidak berhenti sampai trik memantul-mantul, Gingin pun melakoni Slackline yang memang sesuai dengan hobi sejatinya, yakni di atas ketinggian. Ia mengakui pernah melakoni Highline di atas ketinggian 80 meter di Gunung Hawu, Padalarang. Tantangan makin berat karena tali untuk Highline hanya memiliki lebar 1 inchi.

"Kita pakai harness (tali pengaman) dan punya lisensi soal ketinggian dari panjat tebing," tutur Gingin soal kelengkapan beraksi.

Bersama rekannya, Cheppy Chair Bekajaya, pada 8 Januari lalu, ia berhasil meniti tali di ketinggian 60 meter di atas dua tower di Sentra Timur Superblok, Jakarta Timur. Aksi yang dibuat dengan dukungan media Kompas ini dikatakan juga menjadi aksi pertama manusia meniti tali di atas gedung bertingkat di Indonesia.

Bagi Cheppy sesungguhnya ketinggian itu tidak terlalu mencegangkan. Tahun 2013, pria yang sebaya dengan Gingin ini meniti tali diantara dua jembatan kereta api setinggi 110 meter di Cisomang, Purwakarta.

"Yang satu rel kereta mati, yang satu lagi aktif jadi sebenarnya memang rada ilegal," ucapnya sambil tertawa.
Namun kepuasan mulus meniti tali sepanjang 20 meter tampaknya menjadi bayaran yang setimpal baginya. Terbukti, ia terus haus memacu adrenalin di tempat-tempat tinggi lainnya.

Namun menurut Gingin, Slackline sesungguhnya tidak hanya soal adrenalin atau pamer ketangkasan. Pria yang bekerja di bidang terkait tali-temali untuk ketinggian ini mengaku fokusnya jadi terlatih.

"Jangan untuk (melakukan) panjat tebing, fokus di pekerjaan juga jadi lebih baik. Untuk pekerjaan yang membutuhkan detil tinggi, (saya) jadi bisa lebih tahan lama fokus," tambahnya.

Di sisi lain, olahraga ini sesungguhnya juga tidak dapat dikatakan murah. Meski dapat beraksi dengan pakaian dan sepatu biasa (sol harus yang datar dan tidak bergerigi), tali yang digunakan tidak sembarang.
Tali Slackline dengan panjang 30 meter berharga sekitar Rp2,9 juta. Belum lagi kelengkapan tali pengaman, jika ingin melakukan Highline.

Sebab itu penggemar olahraga ini umumnya bergabung dalam komunitas sehingga dapat mengumpulkan sumberdaya secara bersama. Buat anda yang ingin menjajal silahkan datang ke lokasi itu di hari Jumat atau Sabtu; atau bisa pula menghubungi Pushing Panda melalui media sosial mereka. (M-5)

Komentar