Spektrum

Dusta

Senin, 30 November 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

(Atas)
Foto gorila yang telah dimanipulasi karya David Caird, sedangkan bawah adalah
foto di even yang sama karya fotografer lainnya, tetapi tidak dimanipulasi.

HIDUP sukses merupakan impian banyak orang. Itulah aksioma jamak yang hidup di tengah masyarakat. Namun, tak banyak yang membangun impian dengan pilar-pilar kejujuran. Kejujuran itu serupa keramik, yang jika jatuh dan pecah, akan sangat sulit mengembalikannya seperti sedia kala. Tak sedikit di antara kita yang keluar dari jalan kejujuran dan lebih memilih jalan pintas agar sekonyong-konyong sukses, lalu terlihat hebat.

Hari-hari ini pendar kejujuran kian memudar. Tingkat korupsi, ingkar janji, dan manipulasi bertambah tinggi. Semua itu terjadi mulai ranah birokrasi hingga merasuki wilayah fotografi. Tidak saja pada skala lokal kejujuran itu melindap, tetapi juga radius nasional, bahkan internasional. Kejujuran seolah menjadi barang sangat mewah. Padahal, kejujuran seharusnya menjadi bekal setiap manusia ke mana pun ia melangkah.

Dalam jagat fotografi, arus besar revolusi teknologi digital kerap menjadi musabab terjerumusnya seorang fotografer pada jurang kedustaan. Sejumlah fotografer ternama pernah menyampaikan kegelisahan mereka. Yang teranyar ialah fotografer perang kondang Don McCullin, 80. Salah satu jurnalis foto paling berpengaruh abad ke-20 itu menyampaikan kerisauannya ketika mendapatkan gelar Photo London Master of Photography for 2016 di London, Inggris, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan, Digital photography can be totally lying experience - you can move what you want, the whole thing can't be trusted really. When i see these extraordinary pictures in color it looks as if someone is trying to redesign the chocolate box. For me it doesn't work, it's hideous.
Sebuah ungkapan kegelisahan yang sangat beralasan.

Sekarang, manipulasi dalam fotografi telah menembus semua ruang, termasuk ruang-ruang fotografi jurnalistik. Awal November lalu, fotografer News Corp, David Caird, akhirnya menarik diri dari daftar finalis Nikon-Walkley Press Photographer of the Year Award 2015. Caird diketahui berbuat curang karena menghapus jerami yang ada pada foto gorila di Kebun Binatang Melbourne bidikannya. Laku culas itu diketahui setelah fotografer lain yang memotret di event yang sama menyadari dan melaporkan kepada penyelenggara bahwa ada bagian yang dihilangkan dalam foto karya Caird.

Peristiwa hampir serupa juga terjadi pada World Press Photo (WPPh) 2014 yang diumumkan awal 2015 lalu. Kontes fotografi jurnalistik paling bergengsi sejagat itu dicemari tipu daya sejumlah peserta. Sebanyak 20% dari 97.912 foto bidikan 5.692 peserta dari 131 negara mendapat sentuhan kosmetik begitu menor sehingga terpaksa didiskualifikasi oleh para juri.

Meskipun demikian, 17 juri pada kontes itu masih saja 'kecolongan' oleh kebohongan fotografer Italia Giovanni Troilo yang memenangi kategori contemporary issues stories. WPPh akhirnya mencabut gelar Troilo karena terbukti membuat cela yang mencoreng wajah fotografi jurnalistik dunia. Troilo mengakui telah memasukkan foto di lokasi berbeda pada esai fotonya yang berkisah tentang potret buram kehidupan di Charleroi, Belgia.

Kini, tugas berat tambahan bagi juri dalam sebuah kompetisi foto ialah memastikan keabsahan foto yang telah dipilih sebagai pemenang. Apakah foto itu sesuai dengan ketentuan lomba atau tidak. Mengandung unsur manipulasi atau tidak. Pun begitu dengan beban yang diemban oleh editor foto. Sebelum menayangkan foto di halaman-halaman media, fakta visual itu harus bebas dari elemen-elemen muslihat digital.

Revolusi teknologi fotografi sejatinya ialah berkah bagi kita. Mari menghargai berkah itu dengan landasan kejujuran. Jauhi dusta. Jangan pernah berpikir bahwa dusta akan kekal selamanya. Karena kelak, cepat atau lambat, setiap dusta tak kan lagi menjadi rahasia. Sekali kita berdusta dalam berkarya, maka sepanjang karier akan merana.

Komentar