Spektrum

Salah

Selasa, 3 November 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

Twitter

Postulat bahwa tiada yang sempurna dalam kehidupan memang benar adanya. Seperti kata pepatah, 'Tak ada gading yang tak retak'. Kita juga mengenal adagium 'Manusia tempat salah dan lupa'. Hal itu, satu di antaranya, dikisahkan dalam lirik lagu bertajuk Nobody's Perfect yang dipopulerkan penyanyi R&B kelahiran London, Jessie J.

Banyak ragam kesalahan dalam laku kehidupan. Bagaimana menilai tingkat kesalahan itu, amat bergantung pada seberapa jauh kadar kesalahan yang kita lakukan. Ada kesalahan yang lumrah, tak jarang pula muncul 'ketergelinciran' yang teramat fatal hingga sulit diterima nalar. Namun, setiap kesalahan sejatinya merupakan cermin buram yang harus segera kita jernihkan.

Dalam jagat jurnalistik, sebuah kesalahan ialah noktah tebal yang tak mudah dihapuskan. Apalagi jika salah pada hal-hal mendasar. Kesalahan elementer itulah yang telah dilakukan oleh The Washington Post pada edisi Selasa (27/10) lalu. Koran kondang di Amerika Serikat itu melakukan kesalahan fatal yang membuat para pembacanya geleng-geleng kepala.

Betapa tidak, media seterkemuka The Washington Post salah mengidentifikasi nama tokoh dalam keterangan foto yang mereka terbitkan. Tercantum teks foto 'Indonesian President Joko Widodo salutes a color guard at the Pentagon on Senin. At right is Defense Secretary Ashton B Carter'. Padahal, sosok yang tampak dalam foto tersebut ialah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, bukan Presiden Joko Widodo.

Foto beserta keterangan yang salah itu menyertai berita di halaman A10 berjudul 'Pollution Disaster Cuts Short Indonesian Leader's Trip' yang ditulis jurnalis senior The Washington Post Juliet Eilperin. Dalam akun Twitter-nya, @eilperin, ia mengakui bahwa dirinya yang menulis artikel tersebut. Namun, Eilperin juga menjelaskan foto salah caption yang disediakan desk foto The Washington Post itu berasal dari Getty Images.

Surat kabar ternama itu akhirnya meralat pada halaman A2 edisi Kamis (29/10). Dalam keterangan foto yang telah diralat tertulis: 'Indonesian Defence Minister Ryamizard Ryacudu salutes alongside Defence Secretary Ashton B. Carter at the Pentagon'.

Kesalahan yang dilakukan The Washington Post pekan lalu itu sejatinya memberi sinyal kuat bagi kaum pewarta bahwa kesalahan sekecil apa pun tidak boleh terjadi pada dunia jurnalistik. Jika telanjur diterbitkan, kesalahan itu berpotensi dibaca jutaan orang. Ujungnya, dapat dipastikan, hal itu akan mereduksi kredibilitas media yang bersangkutan.

Produk jurnalistik seperti berita dan foto beserta caption-nya tidak boleh melenceng, apalagi keluar dari faktanya. Jurnalisme harus presisi, mesti zero defects. Persis seperti yang dinubuatkan ahli manajemen Philips B Crosby yang menyebutkan bahwa zero defects ialah kesesuaian 100% dengan spesifikasi produk.

Menyebarluaskan kesaksian yang bertumpu pada fakta merupakan syarat mutlak bagi pewarta. Namun, hingga kini masih banyak di antara mereka yang belum mampu menjalankannya. Tiap kali membaca surat kabar, majalah, dan media daring (online), tidak sulit bagi pembaca untuk menemukan kesalahan. Tidak saja kesalahan penggunaan bahasa Indonesia, tetapi banyak juga media yang salah menulis nama orang, jabatan, lembaga, dan nomenklatur lainnya.

Bagi pewarta, menyerah kalah oleh rupa-rupa kesalahan mestinya bukanlah pilihan. Itu hanyalah selubung persembunyian dari kegagalan mengatasi keadaan. Kesalahan bukan untuk dimaklumi. Jurnalisme tak boleh dibangun dengan pilar-pilar pemakluman karena ia mengemban misi mengabarkan fakta di atas altar kebenaran.

Komentar