Spektrum

Jangan Tutupi Cela Jangan Sembunyikan Karya

Senin, 26 October 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

MI/Rommy
Pujianto


SATU
tahun usia sebuah pemerintahan tak bisa dipandang hanya dalam dua sisi: gelap dan terang. Ruang remang-remang, ruang putih cemerlang, hingga ruang gulita masih terbentang di depan mata. Itulah sebabnya tidak proporsional rasanya jika kita memotret sewarsa berkuasanya Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla dalam lanskap hitam dan putih semata.

Selasa (20/10) pekan lalu, tepat satu tahun masa kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Keduanya mengawali untuk memimpin bangsa ini dengan bersumpah, "Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa."

Jokowi mulai menggenggam kekuasaan berbekal harapan besar jutaan rakyat Indonesia. Rakyat di republik yang majemuk ini seolah mendapat energi luar biasa untuk bergerak dan bekerja bersama. Benih-benih harapan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat gegap gempita menyambut pemimpin baru yang berasal dari kaum rata-rata. Pemimpin yang tak berjarak dengan kawulanya. Semua bersatu menuju Indonesia maju.

Fase 20% usia pemerintahan Jokowi-JK setidaknya telah menumbuhkan iklim kondusif di berbagai sektor, seperti sektor maritim, pariwisata, dan industri kreatif. Sendi-sendi ekonomi kerakyatan mulai bergairah. Program Nawa Cita, sembilan agenda prioritas menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri di bidang ekonomi, serta berkepribadian dalam kebudayaan yang mereka usung, mendapat respons positif.

Catatan konkretnya ialah kesuksesan menggelar peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika, penenggelaman kapal pencuri ikan, pemangkasan dwelling time, dan hukuman mati terhadap bandar narkoba. Termasuk diluncurkannya bermacam program untuk mengatasi problematik pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Namun, dalam kurun setahun ini deretan fakta buram belum berubah menjadi terang. Di antaranya tingginya angka kemiskinan, pengangguran, ketimpangan pendapatan, serta tidak meratanya pendidikan. Ihwal lain yang juga belum terselesaikan ialah kabut asap yang bertambah pekat. Selain itu, krisis ekonomi global yang berujung pada pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional turut menjadi batu sandungan.

Fakta-fakta itulah yang sejatinya menjadi napas kehidupan bagi para pewarta foto. Baik atau buruk kinerja pemimpin merupakan kenyataan yang tak boleh diabaikan. Rakyat, sebagai pemberi mandat kekuasaan, berhak tahu atas apa yang telah ditorehkan pemimpin mereka. Melalui karya visualnya, seorang jurnalis foto memiliki kekuatan untuk membangun persepsi publik: positif dan negatif. Karena itu, selain bekerja pada tumpuan kenyataan, jurnalis wajib memegang teguh nilai-nilai kebangsaan dan kejujuran.

Perjalanan sang pemimpin untuk sampai ke ujung masih teramat panjang. Kerja juga masih jauh dari kata paripurna. Karena itu, terus mengawal perjalanan ialah keniscayaan. Jangan sembunyikan keberhasilan, jangan pula tutupi cela. Agar laju pemerintahan tetap berada di jalurnya. Agar kehidupan rakyat semakin bermartabat.

Komentar