Spektrum

Warisan tak Berwujud

Selasa, 13 October 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto


KEBUDAYAAN ialah realitas alamiah setiap langkah manusia. Ia terbentuk dari beraneka etika, nilai, atau norma. Baik berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible), kebudayaan sejatinya merupakan jejak sebuah peradaban. Eksistensi kebudayaan akan memberi arah pada laku kehidupan. Pula, itu memberi panduan bertumbuhnya kemajuan saban zaman.

Lantas apa kaitannya dengan fotografi, terutama foto jurnalistik? Tentu saja itu bertalian sangat erat. Sebagai anak kandung kebudayaan, fotografi memiliki peran dominan dalam mencatat, merawat, dan mengembangkan tiap-tiap entitas peradaban. Fungsi itu berjalan sejak masa silam, sekarang, hingga hari depan.

Selaras dengan itu, kita patut angkat topi kepada pihak-pihak yang telah menaruh perhatian dan kontribusi pada tumbuhnya tunas-tunas baru di jagat fotografi jurnalistik. Termasuk untuk Bank Permata, yang rutin setiap tahun sejak lima tahun lalu memberikan beasiswa kepada 10 jurnalis foto muda. Beasiswa yang diberikan berupa pendidikan dan dana melalui program Permata Photo Journalist Grant (PPG) dan Erasmus Huis Fellowship to Amsterdam.

Setelah mengangkat kisah visual bertajuk Pendidikan, Cermin Pendidikan, Pemberdayaan, dan Indonesian heritage, tahun ini PPG mengusung tema Indonesian intangible heritage. Melalui topik-topik itu, esok hari para jurnalis foto diharapkan sanggup membangun persepsi publik, memengaruhi, dan menginspirasi melalui fotografi. Bahkan, itu bisa menghasilkan karya yang memberi dampak pada perubahan, terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan. Seperti terpancar dalam pesan Nabi Muhammad: "Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya." Atau, seperti falsafah Jawa urip iku urup yang maknanya orang hidup sudah selayaknya menerangi atau bermanfaat bagi orang di sekitarnya.

Untuk mengikuti PPG, para jurnalis foto harus lulus seleksi menyingkirkan puluhan sejawat mereka dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah berhasil melewati seleksi, mereka akan ditempa pakar foto berita dari Kroasia, Belanda, dan Indonesia yang telah menggenggam sertifikasi dari World Press Photo.

Di tengah langkanya program yang dapat meningkatkan kualitas jurnalis foto, PPG setidaknya menjadi embrio munculnya kepedulian dari korporasi dan lembaga lainnya. Program yang dari tahun ke tahun bertambah peminatnya itu membuka pendaftaran hingga Sabtu (31/10). Sejak kali pertama digelar, selalu ada pewarta foto Media Indonesia yang mendapatkan beasiswa.

Lalu, adakah ilmu yang mereka serap setelah mengikuti 16 kali pertemuan selama tiga bulan belajar memproduksi esai foto berdasar pada konsep, tuturan visual, dan penulisan yang benar? Pasti. Salah satu tolok ukur ialah melimpahnya materi photo story yang kami miliki. Sebelum 2012, para editor foto Media Indonesia kesulitan mendapat materi photo story yang wajib tayang setiap pekan. Kini, hingga pertengahan Oktober ini, ada 16 materi dengan tema berbeda-beda yang antre untuk ditayangkan. Sebanyak 13 di antaranya karya alumnus PPG.

Saat ini, kesulitan baru yang kami dapati ialah mencarikan halaman bagi karya kawan-kawan yang temanya terkait dengan aktualitas. Selain itu, kami harus siap beradu gagasan jika ada cerita yang mereka tawarkan belum atau tidak kami terima. Tentu saja itu gagasan yang bertumpu pada kekuatan argumentasi.

Apa yang telah dirintis PPG sejatinya menjadi warisan berharga bagi jurnalis foto dalam mengembangkan kapasitas mereka. Warisan yang tidak hanya menggairahkan rivalitas sehat di medan liputan, tetapi juga menumbuhsuburkan kepedulian terhadap pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan manusia. Agar napas kebudayaan menjadi panjang, supaya jejak peradaban kian tebal.

Komentar