Spektrum

Kesaksian dalam Kenestapaan

Selasa, 6 October 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

PRESIDEN Joko
Widodo berdiri di tengah hamparan lahan yang tumbuhannya telah menjadi
arang. Sore itu, masker yang dipakainya hanya menutupi dagu. Ia
sendirian. Raut wajahnya terlihat gelisah. Lahan di Banjarbaru,
Kalimantan Selatan, tempatnya berpijak, ialah salah satu penyebab
munculnya kabut asap. Asap yang mengubah kualitas udara di sejumlah kota
di Kalimantan dan Sumatra berada pada level sangat berbahaya.

Fakta visual bidikan jurnalis foto Agence France-Presse (AFP) Romeo Gacad itu terpampang di halaman 2 Media Indonesia edisi
Jumat (25/9).  Sebuah adegan yang dicuplik ketika Presiden Jokowi
kembali ke lokasi kebakaran lahan yang 3 jam sebelumnya telah ia
datangi. "Saya hanya ingin memastikan apakah api sudah dipadamkan atau
cuma acara seremonial saja," ucapnya. Meski tak melihat lagi aktivitas
pemadaman, ia mengaku tidak kecewa karena sebagian besar lahan yang
terbakar telah dipadamkan.

Foto-foto hampir serupa, termasuk yang bersumber dari Presiden
Jokowi, sebelumnya telah lebih dahulu meramaikan jagat maya. Beragam
komentar bermunculan hingga memantik pro kontra tentang kinerja Kepala
Negara. Banyak komentar bernada positif, tetapi tak sedikit yang
memberikan tafsiran negatif. Ada pula yang larut dalam perdebatan
berkepanjangan.

Itulah konsekuensi yang melekat pada foto
jurnalistik. Semua bebas memaknainya. Tentu saja pemaknaan itu sangat
bergantung pada bermacam latar belakang dan perspektif yang melihatnya.
Ruang-ruang argumentasi selalu terbuka jika kita bicara makna pada foto
berita. Makna yang boleh jadi menggambarkan tingkat kecerdasan atau
sekadar perayaan intelektualitas para pembuatnya.

Masalah asap
ialah anomali tingkat tinggi di Republik ini. Anomali karena galibnya
pemerintah di mana pun bisa mengatasi masalah yang sudah gamblang
diketahui musababnya. Akan tetapi, anehnya, pemerintah tak kunjung bisa
menyelesaikan persoalan pembakaran hutan dan lahan. Mereka sepertinya
tak pernah mau menjadikan pengalaman masa lalu sebagai guru. Sengaja
atau tidak, setiap tahun api selalu membakar hutan dan lahan sejak 18
tahun silam. Dampaknya, kabut asap dari tahun ke tahun bertambah pekat.
Asap menyesakkan aliran napas lebih dari 26 juta manusia di Kalimantan
dan Sumatra. Asap bahkan telah membunuh beberapa jiwa. Asap juga
menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat Malaysia dan Singapura. Hal itu
menorehkan noktah pada kehidupan bertetangga.

Hingga kini
penyakit kronis itu belum mendapatkan solusi berarti. Segala daya dan
upaya sepertinya sudah dikerahkan, tapi asap terus berkelindan.
Pemerintah kewalahan menghadapi kepungan asap yang kian masif.
Dampaknya, puluhan ribu orang terserang infeksi saluran pernapasan atas
(ISPA). Tak hanya itu, kegiatan sekolah dan laju transportasi pun
menjadi tak menentu.

Fakta-fakta buram itulah yang tiga bulan
terakhir ini menghiasi layar kaca, dunia maya, dan halaman koran yang
merupakan tempat kesaksian visual para pewarta. Kesaksian tentang
bencana asap serta segenap upaya pemerintah mengatasi masalah. Kesaksian
tentang rakyat yang putus asa dan tak berdaya akibat berbulan-bulan
terpapar kabut asap.

Pada hamparan fakta itulah para pewarta foto
menunjukkan peran. Mereka berbicara melalui kamera, menghasilkan karya
yang tidak sekadar mengabarkan fakta tetapi juga mencoba 'berenang'
dalam kedalaman makna, serta  mewartakan sekaligus mengingatkan bahwa
kebakaran hutan dan lahan bukanlah sebuah keniscayaan. Adanya bencana
bukan kehendak alam semata, melainkan karena ada ulah manusia serakah.
Semua itu akan menjadi nyata jika pewarta menyadari fungsinya.

Bukankah kesaksian harus dikabarkan agar hidup senantiasa terjaga?

Komentar