Spektrum

Jejak yang Langka

Selasa, 22 September 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

SEJARAH bukanlah risalah rekaan masa silam. Ia bukan khayalan, melainkan bangunan dari kumpulan kenyataan. Fakta yang kelak tidak hanya sebagai jejak, tetapi juga landasan berpijak. Sejarah serupa peta penunjuk arah bagi berjalannya kehidupan, yang jika ditinggalkan akan membuat kita tersesat di jalan. Suratan itulah yang membuat Bung Karno tegas menyatakan, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah."

Karena keinginan belajar dan memaknai sejarah jualah, Sabtu (19/9) lalu, saya mendatangi Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), Pasar Baru. Di gedung bersejarah itu saya menyimak diskusi dan pemutaran film dokumenter Rapat Raksasa Ikada, 19 September 1945. Film berkisah tentang kegairahan rakyat terlepas dari belenggu penjajahan. Itulah kisah euforia ratusan ribu manusia di lapangan Ikatan Atletik Djakarta (Ikada) yang menuntut kedaulatan di tanah Indonesia. Saat itu tepat sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan.

Menurut sejarawan Rusdhy Hoesein, film bikinan Berita Film Indonesia, cikal bakal Produksi Film Negara (PFN), itu sebelumnya merupakan koleksi Library of Congress Amerika Serikat. Adalah mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang menyerahkan salinan film langka tersebut kepadanya.

Beragam kalangan menghadiri acara itu, mulai anak-anak muda, pejabat pemerintah, akademisi, hingga praktisi. Itulah bukti bahwa pemaknaan sejarah pada hakikatnya tidak mengenal kasta dan generasi. Kepedulian mengelola sejarah akan menumbuhsuburkan harapan bagi pengemban masa depan. Bahkan, itu memberi energi yang membangkitkan semangat nasionalisme.

Tak hanya pemutaran film, di gedung itu juga dipamerkan foto-foto sejarah dan poster-poster propaganda yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dari fakta visual yang menempel di dinding GFJA hingga 14 Oktober itu, kita dapat melihat luasnya samudra sejarah. Samudra yang telah diarungi para pelaut pemersatu kemajemukan Nusantara.

Hari itu, seperti hari-hari lalu, GFJA kembali menjadi tempat bersemainya benih-benih kecintaan pada Republik ini. Sebelum pameran bertajuk 70 Th RI: Histori Masa Depan, lembaga nirlaba itu pernah menggelar pameran foto jurnalistik Tahun-Tahun Mukjizat (1995), Independiente (2007), Identitas untuk Kebangkitan (2008), Merdeka, Merdeka (2009), Dari Pegangsaan sampai Rijswijk (2011), dan IPPHOS Remastered (2013).

Salah satu yang menarik ialah foto tentang proklamasi kemerdekaan. Selama ini paling banyak ada empat foto saat pembacaan naskah proklamasi beredar. Kini, kita dapat melihat 13 foto karya Frans Mendur yang dikumpulkan Yayasan Bung Karno dari berbagai sumber. Catatan sejarah yang bercerita lebih lengkap tentang peristiwa monumental itu dipamerkan dalam kemasan kekinian, dengan menggunakan aplikasi berbasis Android.

Hal lain yang tak kalah menarik ialah foto serdadu Belanda yang memajang lukisan wajah Bung Karno menutupi moncong tank yang mereka naiki. Mereka terlihat semringah karena berhasil menyita aset berharga dari rumah warga yang dicurigai sebagai gerilyawan, di Cirebon, 27 Juli 1947. Foto yang menjadi kover buku 70th HistoRI Masa Depan itu diperoleh dari hasil 'gerilya' duet petinggi GFJA Oscar Motuloh dan Hemanus Prihatna di Museum Bronbeek, Belanda.

Selama empat hari membongkar manuskrip di Museum Bronbeek, keduanya membawa oleh-oleh yang luar biasa. Mereka membawa pulang ribuan fakta visual sepak terjang tentara Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) selama menjajah negeri kita. Sebagian di antaranya (periode 1945-1950) telah menghiasi ruang pamer GFJA. Foto-foto lainnya dapat kita lihat di halaman-halaman buku 70th HistoRI Masa Depan yang telah diluncurkan bulan lalu.

Kita patut angkat topi untuk Oscar, Hermanus, dan teman-teman di GFJA atas jerih payah mereka menghimpun kepingan-kepingan fakta sejarah. Mereka sejatinya bukan sekadar memamerkan dan menerbitkan buku tentang tanah yang pernah bersimbah darah dan air mata para pahlawan kita. Lebih dari itu, mereka juga mengingatkan kita supaya tak pernah abai merawat fakta sejarah. Merawat tiap-tiap jejak yang sudah kita pijak agar catatan sejarah tak lagi langka dan berserak di mana-mana.

Komentar