Spektrum

Melepas Fotografer Lepas

Selasa, 15 September 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto


Foto Immanuel Antonius yang meraih MH Thamrin Award 2015.
Orang awam mungkin belum terbiasa mendengar istilah stringer. Namun, di jagat jurnalistik, term itu merupakan hal jamak. Stringer adalah fotografer atau reporter lepas yang mendapat imbalan jika karya mereka ditayangkan. Pada masa lampau, ketika awal perkembangan jurnalisme di Amerika Serikat, besar-kecilnya imbalan pewarta lepas dihitung berdasarkan panjang kolom yang diukur menggunakan seutas benang (string). Nah, dari kata string itulah sebutan stringer bermula.

Hari-hari ini, di era jurnalisme yang berkembang sangat masif, peluang menjadi jurnalis kian terbuka lebar. Oportunitas itu tentu saja tidak disia-siakan mereka yang ingin menjadi pewarta. Di negeri ini, tak sedikit media yang memakai daya stringer. Bukan hanya media cetak, melainkan juga media elektronik dan daring.

Barisan pewarta foto lepas tidak sekadar mengisi ruang-ruang kosong yang sejatinya tanggung jawab pekerja tetap. Mereka bukan hanya sparring partner, melainkan juga lawan tangguh bagi pemilik prioritas. Peran tersebut menuntut seorang stringer berjiwa sebagai petarung sejati. Ia harus menjadi sosok kuat yang siap berlaga dengan siapa saja. Ia juga wajib berbekal kemampuan fotografi yang mumpuni, militansi, dan kejelian menangkap peluang.

Kehadiran para jurnalis foto lepas menumbuhsuburkan persaingan sehat di banyak media, termasuk Media Indonesia. Fotografer 'staf' tentu tidak ingin perannya dipinggirkan stringer. Apalagi oleh stringer yang baru menjejakkan kaki di dunia jurnalistik. Kondisi itu memacu fotografer 'staf' dan 'nonstaf' bersaing secara positif untuk menunjukkan kualitas mereka.

Tidak sedikit stringer yang mengawali langkah dan menjadikan Media Indonesia sebagai kawah candradimuka untuk menempa diri. Anak-anak muda itu dengan segala potensi yang mereka miliki tumbuh menjadi stringer jempolan. Bahkan, beberapa penghargaan bergengsi telah mereka raih.

Angga Yuniar dan Immanuel Antonius contohnya. Keduanya telah beberapa kali mengukir prestasi. Satu di antaranya, foto bidikan Angga menjadi Photo of the Year 2012 Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI), sedangkan Anton belum lama ini menorehkan prestasi tertinggi MH Thamrin Award 2015 kategori foto jurnalistik.

Sekarang, para stringer itu menjadi sosok incaran. Demi hidup dan pendapatan yang lebih pasti, ada di antara mereka yang akhirnya melepaskan status sebagai fotografer lepas. Media yang ditinggalkan tentu merasa kehilangan. Hal yang sama juga saya rasakan ketika Angga dan Anton pekan lalu berpamitan. Keduanya direkrut menjadi fotografer tetap oleh sebuah media online.

Kehilangan dua stringer muda berbakat bagi saya dan editor foto lainnya di Media Indonesia memang berat. Namun, kami menyadari bahwa jalan kehidupan yang ditempuh setiap orang belum tentu searah. Itulah sebabnya kami tetap melepas mereka dengan senyuman. Namun, dalam hati saya merasakan masih ada pekerjaan rumah yang ingin saya berikan kepada mereka.

Kini, bersama anak-anak muda lainnya, kami tetap menjaga kawah candradimuka itu agar selalu membara. Kawah yang membuat mimpi mereka hari ini bersalin nyata di kemudian hari. Kawah yang menumbuhkan harapan dan gairah untuk mengguratkan catatan sejarah. Soal di mana kelak mereka berlabuh, hak mutlak ada dalam genggaman mereka.

Biarkanlah tunas-tunas itu bermekaran. Kini, tugas kami ialah menyemai benih bagi tumbuhnya tunas-tunas baru.


 

Karya Angga Yuniar yang menjadi Photo of the Year Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2012.

 

Komentar