Spektrum

Memperjuangkan Kehidupan

Selasa, 8 September 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

Rabu (2/9) pagi, kisah menyayat hati menyebar dari Pantai Bodrum, Turki. Potret duka tentang kematian seorang bocah berusia 3 warsa. Aylan Kurdi namanya. Tubuh mungilnya tertelungkup di bibir pantai. Sebagian wajahnya terbenam di pasir. Jasadnya telah kaku. Celana pendek biru, sepatu, dan kaus merah yang membalut tubuhnya sesekali bergerak dihempas ombak. Gambaran berikutnya, Sersan Mayor Mehmet Ciplak, perwira polisi, mengangkat dan membawa mayat Aylan ke daratan.

Balita malang itu ialah pengungsi. Ia bersama ayah, ibu, dan kakaknya terusir dari kampung halamannya di Kobane, Suriah, yang porak-poranda karena perang saudara. Mereka ingin mencari suaka ke tanah Eropa agar dapat hidup dalam kedamaian. Malam hari, Aylan mengikuti keluarga dan pengungsi lainnya menaiki perahu menyeberangi Laut Mediterania menuju Pulau Kos, Yunani.

Namun, takdir berkata beda. Belum sempat menjejakkan kaki di negeri nan damai, biduk yang mereka naiki tenggelam diterjang gelombang. Impian Aylan bersama kakaknya, Galib Kurdi, 5, dan ibunya, Rehanna, 35, akhirnya kandas. Mereka ditemukan tewas terdampar di pantai sebelum merasakan segarnya hembusan udara di tanah harapan. Kini, sang ayah, Abdullah Kurdi, hidup sebatang kara.

Kisah pilu itu menyebar ke seluruh penjuru jagat melalui foto jurnalistik karya fotografer Dogan News Agency, Nilufer Demir. Foto yang membuat warga dunia larut dalam duka, meratapi kematian tragis Aylan Kurdi. Foto yang membuka mata para pemimpin dunia, mencairkan hati mereka yang beku. Foto yang menggerakkan, membangkitkan kepedulian dan rasa kemanusiaan.

Sekarang, dunia tak lagi diam. Daratan Eropa mengulurkan tangan untuk mereka. Ratusan ribu pencari suaka bergelombang membanjiri Eropa. Sebanyak 51% atau sekitar 366 ribu orang berasal dari Suriah. Negeri tanpa tuan yang terus membara meski perang telah mencabut nyawa lebih dari 240 ribu jiwa. Pengungsi lain di antaranya dari Afghanistan, Eritrea, Nigeria, dan Irak.

Pemimpin Jerman, Prancis, Inggris, dan Spanyol mengizinkan para pencari suaka itu untuk menempati tanah mereka. Pun demikian dengan Australia. Namun, ironi masih saja terjadi. Kematian Aylan sebagai martir kemanusiaan tak menyentuh hati bangsa-bangsa kaya di Timur Tengah. Mereka tetap tak peduli pada kesengsaraan rakyat Suriah.

Melalui karyanya, Nilufer Demir telah menyentak dunia dan menyadarkan betapa menderitanya ratusan ribu orang yang terusir dari negara mereka karena bencana buatan manusia. Perang!
Perempuan jurnalis foto itu tidak saja menabur benih-benih kepedulian manusia pada manusia lainnya. Ia sejatinya juga mengajak warga dunia untuk mengakhiri kekejaman atas nama perang.

Demir mengikuti jejak para pendahulunya yang telah menorehkan sejarah. Menjadikan fotografi jurnalistik bukan sekadar perekam sejarah, melainkan juga mampu memberi arah jalannya sejarah. Satu di antaranya ialah foto pada 1968 saat Kepala Kepolisian Vietnam Jenderal Nguyen Ngoc Loan menarik pelatuk pistol yang diarahkan ke komandan gerilyawan Vietkong. Foto karya fotografer Associated Press Eddie Adams itu memicu gerakan antiperang dan menjadikan sang jenderal sebagai ikon kekejaman.

Perang memang harus dihentikan karena ia hanya melahirkan penderitaan, bahkan menyemai kematian. Foto jurnalistik ialah medium yang memberikan harapan. Harapan untuk terus memperjuangkan kehidupan...

Komentar