Spektrum

Menolak Mati

Selasa, 1 September 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

MI/Hariyanto

 MI/Hariyanto

Pers nggak ada matinya

Pers nggak mungkin mati
Pers nggak ada matinya
Pers nggak mungkin dibikin mati...

Bak lantunan doa, kor para alumnus Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) menggema hingga ke luar ruangan Space Food & Entertainment, Kemang, Jakarta. Di atas panggung, legenda musik Indonesia Iwan Fals memetik gitar sambil memimpin kor dengan suara lantangnya.

Dalam gemuruh suasana, syair kehidupan pers gubahan Iwan Fals, Raja Pane, Boedi Djarot, dan Amazon itu 'mengubah' Space dalam seketika. Bingkai-bingkai wajah legenda musik dunia di dinding seolah berganti menjadi cermin. Cermin yang memaksa kami bernyanyi sembari berkaca diri. Merenungi apa yang selama ini telah kami jalani.

Minggu (30/8) malam itu, pada episode akhir 10 jam reuni, anak-anak Kampus Tercinta, kampus yang melahirkan banyak wartawan, termasuk wartawan foto seperti saya, bersatu padu. Bersama Iwan, kami dendangkan lagu tentang kegelisahan, kritik sekaligus harapan pada jagat kewartawanan. Sebuah epilog perjamuan yang terbawa hingga ke rumah.

Bagi saya, reuni bertajuk Pers nggak Ada Matinya itu tak sekadar bertemu senior dan kawan lama, tetapi juga menggoreskan pesan teramat dalam. Reuni yang mengena di hati itu membuka ruang-ruang perenungan. Mengingatkan kita bahwa idealisme seharusnya bukanlah basa-basi. Tanpa idealisme, pers akan mati suri. Idealisme juga mengajak kita bekerja pada tumpuan kejujuran. Tanpa kejujuran, pers akan sesat, bahkan bisa menyesatkan.

Pers identik dengan jurnalistik. Ia tak sama dengan politik. Jika politik berpijak pada kepentingan, jurnalistik berepisentrum pada kejujuran. Itulah tugas berat wartawan. Di tengah tingginya gelombang godaan pragmatisme, seorang jurnalis harus tetap memegang teguh iman idealisme.

Ia juga tidak boleh bekerja di ruang-ruang hampa, mewartakan fakta tanpa memedulikan hakikat kemanusiaan. Ia harus menjejak bumi, menggauli keluh kesah, bergelut dengan kegembiraan, sekaligus kegetiran. Selain itu, jurnalis harus cakap membaca perubahan zaman. Itulah sebabnya profesi ini wajib dijalankan dengan kegairahan.

Idealisme itu segendang sepenarian dengan kejujuran. Bukan sekadar kata-kata miskin makna. Keduanya tidak hanya menghadirkan nada dengan harmoni yang indah, tetapi juga memberi arah pada kehidupan dan peradaban. Tanpa idealisme dan kejujuran, dendang tentang pers pasti akan terdengar sumbang, bahkan memekakkan telinga.

Malam itu, sepanjang perjalanan pulang saya terus bersenandung lirih... "Pers nggak ada matinya, pers nggak mungkin mati." Sesampai di depan rumah batin saya bertanya, bukankah pragmatisme akut telah menggerogoti tubuh pers yang menua? Saya cemas, penyakit itu kian mengantar pers menuju ajal. Apalagi, bukankah konstruksi pilar keempat demokrasi itu kini mulai rapuh tergerus oleh zaman?

Dalam hati, saya menghibur diri, dari seratus alasan yang bisa membuat pers mati, masih ada satu alasan pers untuk terus hidup: cinta!

Komentar