Spektrum

Kita dan Bahasa

Selasa, 25 August 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

BAHASA itu jati diri bangsa. Ia pembeda bangsa satu dengan lainnya. Pun pula bahasa Indonesia. Itu termaktub tegas dalam salah satu ikrar Sumpah Pemuda 1928, 'Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia'. Bahasa Indonesia ialah lingua franca, ikatan yang menyatukan aneka rupa penghuni Nusantara.

Bahasa juga menjadi salah satu penentu tinggi rendahnya perbawa satu bangsa. Itulah sebabnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, mestinya, menjadi perhatian kita semua. Lisan, juga tulisan. Bagi mereka yang pekerjaannya mengolah kata ataupun merangkai kalimat, kecakapan berbahasa Indonesia menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar.

Namun, lain keharusan lain pula kenyataan. Meski sudah diikrarkan sejak 1928, hingga kini masih sangat mudah menemukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Salah menuliskan kata hingga salah kaprah memaknainya. Sastrawan kondang Ajip Rosidi menyebutkan salah kaprah adalah kekeliruan yang telah digunakan secara luas sehingga dianggap sebagai suatu hal yang kaprah (lazim, lumrah).

Tengoklah penggalan awal lirik lagu bertitel Ku Cinta Kau Apa Adanya yang dipopulerkan Once Mekel: 'Kau boleh acuhkan diriku, dan anggap ku tak ada, tapi takkan merubah perasaanku kepadamu'. Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata acuh bermakna 'peduli, mengindahkan'. Lalu, kata merubah sejatinya berarti menjadi seperti binatang rubah. Jadi, yang benar ialah kata ubah mendapat awalan me- menjadi mengubah.

Penulisan kata yang tidak sesuai dengan bentuk bakunya juga kerap menodai ruang-ruang media. Tidak hanya pada berita, tetapi juga caption atau keterangan foto di media tersebut. Itu mengotori bahasa jurnalistik yang seharusnya bersih dari kesalahan. Ada kekeliruan penulisan kata antri, apotik, konkrit, supir, terlantar, sekedar, dan masih banyak lainnya. Padahal, yang benar ialah antre, apotek, konkret, sopir, telantar, atau sekadar.

Kesalahan mendasar lainnya ialah penulisan kata depan di, ke, dan dari. Yang benar ialah bila kata yang diikuti menunjukkan tempat, penulisannya di dipisah karena berfungsi sebagai kata depan. Contohnya di Papua, di sana, ke mana, ke Jepang, dari Bogor, dari hati. Jika tidak menunjukkan tempat, penulisan di- disambung karena  berfungsi sebagai awalan pembentuk verba pasif. Semisal dipukul, difoto, dan keburu. Ada pula verba keluar sebagai lawan kata kerja masuk.

Paparan contoh itu bak segayung air di kolam, masih sangat kecil. Deretan kesalahan kian banyak ditemukan pada penulisan kalimat, singkatan, akronim, penggunaan kata ganti, dan tanda baca. Kekeliruan itu, jika terus terjadi, perlahan tapi pasti, akan menggerus kepercayaan pembaca pada industri berbasis berita. Kesalahan itu membuat publik mencibir para pelaku jurnalistik.

Tugas utama pewarta, termasuk jurnalis foto, ialah mewartakan fakta secara akurat dalam bahasa yang baik dan benar, serta lugas, sehingga pembaca memahami tanpa distorsi. Nilai berita yang sangat eksklusif pasti anjlok jika amburadul penulisannya. Foto yang 'paling berbicara' jelas berkurang mutunya jika keterangan fotonya tidak sesuai dengan kaidah. Kualitas rangkaian kalimat yang indah dalam pengantar sebuah buku foto akan merosot jika masih ada kesalahan menuliskan kata.

Namun, bahasa sejatinya selaras dengan napas kebudayaan. Seperti halnya ciri kebudayaan yang selalu dinamis, bahasa Indonesia pun tak boleh statis. Tentu saja, demi mengikuti arah aliran zaman. Itu yang menyebabkan kita mesti rajin menengok, merawat, dan menyegarkan cara berbahasa kita.

Kita memang bukan ahli bahasa, tetapi bagi seorang wartawan, menulis berita dan keterangan foto tanpa cela bahasa ialah sebuah keniscayaan. Bukankah bahasa adalah kita?

Komentar