Spektrum

Jeda

Selasa, 28 July 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

SETIAP yang bergerak butuh saat untuk berhenti sejenak. Itulah jeda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata jeda bermakna waktu berhenti (mengaso) sebentar. Diksi itu juga memiliki arti waktu istirahat di antara dua kegiatan atau dua babak. Jeda menjadi saat yang dinanti dalam laku kehidupan. Utamanya bagi para pekerja. Jeda bukan monopoli atasan, ia juga milik bawahan.

Jeda ada ketika libur tiba. Seperti halnya hari libur lainnya, masa libur Lebaran merupakan momen efektif untuk menyegarkan kembali tarikan napas yang tersumbat karena rutinitas. Ia menjadi sarana untuk keluar sejenak dari atmosfer keseharian yang bercorak sama. Itulah hari-hari ketika jutaan manusia larut dalam aktivitas yang menyempal dari biasanya.

Selama ini, prei memang identik dengan rekreasi. Umumnya warga mengisi masa jeda dengan berwisata bersama keluarga. Melakukan perjalanan panjang ke luar kota bahkan hingga negeri seberang. Menelusuri jejak-jejak sejarah, menjelajahi sudut-sudut perdesaan, merasakan hawa pegunungan, hingga menikmati suasana pantai nan indah.

Namun, bagi sebagian kalangan, termasuk pewarta foto, hari libur ialah katarsis jiwa. Momentum itu merupakan medium untuk melepaskan ketegangan atau kejenuhan menghadapi rutinitas pekerjaan. Tidak sedikit di antara kita yang memaknai masa jeda dengan berkarya. Salah satu di antara mereka ialah fotografer Media Indonesia, Ramdani.

Libur saat musim mudik Lebaran bagi Unank (panggilan akrab Ramdani) merupakan peluang istimewa. Dengan persetujuan istrinya yang tengah hamil tua, ia bertamasya ke jalur pantura.  Di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Sukamandi, Ciasem, Subang, Jawa Barat, ia berhenti. Kain putih ia bentangkan di antara dua penyangga beberapa jengkal dari warung kecil di sudut SPBU. Di SPBU itu sepanjang dua hari ia berpiknik sembari merasakan euforia para pemudik.

Satu per satu pemudik bersepeda motor yang tengah beristirahat atau mengisi bahan bakar didekati dan diwawancarainya. Setelah merasa yakin, ia pun berusaha menggiring pemudik itu menuju layar putih yang telah disiapkan lalu memotretnya. Dari 36 pemudik yang telah diwawancarainya, 18 di antara mereka bersedia berpose seperti yang ia inginkan.

Sebagai anak Betawi asli, Unank berketetapan hati ingin merasakan apa yang dialami kaum urban saat menjelang Lebaran. Sebagai pewarta foto, ia ingin kisah yang dilakoni para pemudik bermotor itu mengalir hingga ke ruang-ruang baca keluarga. Itulah sebabnya ia membulatkan tekad bertamasya ke jalur pantura.

Dengan perencanaan yang matang, segala alat penunjang dibawanya serta. Pulang tamasya ia membawa oleh-oleh yang layak diacungi jempol. Sebuah cerita tentang mereka yang menerjang angin dan segala romantikanya. Stori yang menuai banyak sanjungan (termasuk dari Kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara Oscar Motuloh) itu ditayangkan di Media Indonesia edisi Rabu (15/7).

Dari kisah itu, Unank sejatinya tidak sekadar membentangkan kain putih di salah satu sudut SPBU. Ia sebenarnya tengah memasang cermin pada bingkai-bingkai imaji garapannya. Mengingatkan kita agar tidak hanya bergembira menyambut datangnya jeda, tetapi juga bergairah mengisinya. Supaya jeda menjadi penuh makna.

Komentar