Spektrum

Spirit Mudik

Rabu, 15 July 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto

Iring-iringan kendaraan pemudik melintasi jalur alternatif Pejagan-Brebes yang berdebu di kawasan Brebes, Jawa Tengah, Minggu (12/7). MI/Susanto

MUDIK merupakan ritus persisten setiap menjelang Lebaran. Tradisi yang terlahir dari magnet pembangunan di perkotaan itu tak mengenal kasta. Ia milik si kaya, pula si miskin. Mudik juga tidak terlalu terpengaruh oleh situasi ekonomi. Antusiasme pemudik tak luruh oleh hujan, tak lumer karena sengatan panas. Ritual mudik memberi gambaran nyata betapa gigihnya bangsa ini.

Statistik mencatat setiap tahun jumlah pemudik selalu bertambah. Bak gelombang bah, tahun ini sekitar 27 juta kaum urban se-Nusantara berduyun-duyun kembali ke kampung halaman. Selain untuk bersilaturahim pada orangtua dan sanak kerabat, momentum mudik juga menjadi ajang nostalgia, sekaligus menunjukkan keberhasilan di tanah perantauan. Itulah yang meringankan langkah mereka dalam menaklukkan segala bentuk hambatan di perjalanan.

Jangankan berjam-jam, berhari-hari didera kemacetan pun mereka lakoni. Jangankan berdesak-desakan di dalam bus atau kereta, berimpitan di sepeda motor, bahkan berjubel di truk bak terbuka juga tak masalah. Maut yang mengintai kadang tak lagi mereka hiraukan. Besarnya ongkos mudik juga bukan penghalang. Tradisi setiap akhir Ramadan itu telah membuat kehidupan menjadi sangat bergairah. Segala kegetiran seolah terlupakan. Pulang ke tanah asal menjadi satu titik tujuan, untuk selanjutnya kembali merantau, bertarung lagi memungut remah-remah rezeki di bulan-bulan selanjutnya.

Bicara mudik bukan sekadar bicara tentang mobilisasi jutaan manusia dari kota ke desa. Bicara mudik juga menguar soal begitu beragamnya peluang visual di depan mata. Tengoklah halaman-halaman depan koran menjelang Lebaran. Di sana pasti kita dapatkan fakta-fakta visual yang 'indah'. Pula akan kita lihat bagaimana perjuangan para pemudik menuju kampung tempat mereka berasal.

Inilah kesempatan bagi kaum jurnalis foto dan editornya untuk menunjukkan eksistensi diri. Daya juang serta kejelian menjadi faktor yang menentukan. Spirit para jurnalis foto di medan liputan tidak boleh kalah dengan militansi pemudik yang berjuang menuju kampung halaman. Menikmati liputan sambil merasakan euforia para pemudik akan menjadi salah satu kunci menghasilkan karya yang tidak biasa.

Sama dengan ritual Ramadan lainnya yang selalu berulang, maka peristiwa mudik menghadirkan tantangan bagi kita untuk menghasilkan imaji yang berbeda dengan sebelumnya. Itulah sebabnya, keberadaan Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Sabtu (13/4) lalu, menjadi penting untuk kita 'mainkan'. Banyak cerita yang bisa dicuplik dari jalan bebas hambatan sepanjang 116,75 kilometer itu.

Pun demikian dengan jalur-jalur alternatif pemecah arus deras kendaraan dari Tol Cipali. Pengoperasian ruas Tol Pejagan-Brebes yang belum rampung sehingga menimbulkan debu tebal saat dilintasi iring-iringan kendaraan pemudik merupakan sajian istimewa yang layak disebarluaskan.

Hari-hari ini, euforia mudik menaungi pelabuhan, stasiun, terminal, dan bandara. Euforia yang sama membentang di sepanjang jalan raya, termasuk Tol Cipali, dan jalur pantura. Namun, itu semua akan terlewatkan begitu saja jika tidak ada pewarta foto yang jeli mengabadikannya. Sebaliknya, di tangan pewarta foto yang peka, semangat, kegembiraan, dan militansi para pemudik akan mengalir hingga ke ruang-ruang baca keluarga. Bahkan, mampu menggerakkan para pengambil keputusan sehingga hari depan mudik menjadi lebih nyaman.

Komentar