Spektrum

Mimpi

Selasa, 7 July 2015 00:00 WIB Penulis: Hariyanto
MI/Angga Yuniar

Mimpi itu energi yang menggelorakan kehidupan. Ia serupa api yang membakar gairah dalam menggenggam masa depan. Apa yang kita nikmati hari-hari ini ialah realitas yang dinubuatkan para pemilik mimpi. Namun, mimpi akan membawa kita dalam halusinasi jika sonder aksi.
Hal itu sejalan dengan ungkapan sastrawan besar Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), "Mengetahui saja tidak cukup, kita harus menerapkannya; berkeinginan saja tidak cukup, kita harus bergerak. Jika mimpi adalah jiwanya, tindakan adalah raganya."

Rabu pekan lalu, seusai berbuka puasa bersama, diksi 'mimpi' menjadi tema diskusi kami, awak foto Media Indonesia. Di restoran bernuansa Melayu di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, itu kami berbagi cerita, harapan, dan keluh kesah. Saya memulainya dengan mempersilakan fotografer senior Gino Franki Hadi, 55, untuk mengisahkan pengalaman kepada para juniornya. Konklusi dari virus positif yang ia tebarkan ialah kehidupan akan hampa tanpa cita-cita.

Di tengah diskusi ia melontarkan kalimat tanya kepada stringer-stringer muda Media Indonesia, "Apa mimpi kalian sebagai fotografer, anak muda?" Karena tidak menduga akan mendapat pertanyaan itu, mereka tak segera menjawabnya. Saya menangkap ada kegamangan di wajah-wajah mereka. Karena tak sabar menunggu jawaban, Gino melanjutkan apa yang ia katakan, "Kalau tak punya mimpi, lebih baik sejak sekarang berpikir mencari pekerjaan lain."

Dalam hati saya mengamini. Memang betul, menjadi jurnalis foto itu bukan pekerjaan mudah. Profesi itu menuntut pelakunya memiliki modal yang berlimpah. Tidak saja bekal pengetahuan, keterampilan, dan jaringan, tetapi juga curiosity, militansi, dan nurani. Betapa tidak? Melalui karyanya, seorang jurnalis foto mampu menggerakkan sekaligus mengubah keadaan, bahkan memengaruhi jalannya pemerintahan.

Itulah sebabnya, karier ini pantas dimiliki mereka yang mempunyai keberanian bermimpi. Tanpa mimpi, bertahan di tengah ketatnya persaingan ialah ihwal yang amat muskil. Tetaplah bermimpi meskipun apa yang kita impikan tidak selalu menjadi kenyataan. Jangan pula pernah berhenti bermimpi walau sudah mendapatkan apa yang kita impikan.

Laku hidup wajib dibangun dengan optimisme. Seperti teriakan lantang Bung Karno, "Bermimpilah setinggi langit" dengan begitu jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." Kalimat bijak itu memberi petuah kepada kita agar selalu bersemangat dalam menggapai cita-cita.

Apa pun realitas hari ini, tiap-tiap individu membutuhkan impian, bahkan setinggi-tingginya impian. Jika jalan hidup sebagai pewarta foto menjadi pilihan, gantungkanlah mimpi-mimpi setinggi bintang. Melangkahlah sebelum orang lain melangkah. Terjagalah ketika yang lain masih terlelap. Arungilah samudra tatkala orang lain hanya duduk terdiam di pinggir pantai. Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga mengguratkan catatan sejarah.

Semua itu sebagai penentu berhasil-tidaknya menggapai impian. Tanpa pengorbanan dan perjuangan, kenyataan yang diharapkan hanya khayalan.

Komentar