Nusantara

Valentine, Warga Karawang Aksi Kasih Sayang Untuk Alam

Rabu, 14 February 2018 12:03 WIB Penulis: Cikwan Suwandi

MI/CIKWAN

BERTEPATAN dengan Hari Valentine, Rabu (14/2), puluhan warga Karawang, Jawa Barat yang tergabung dalam Koalisi Melawan Tambang (KMT) menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor Pemkab setempat.

Bertemakan Aksi kasih sayang terhadap alam, warga yang terdiri dari berbagai komunitas itu menyuarakan penolakan izin tambang berkedok pariwisata di wilayah Karst Pangkalan.

Juru bicara KMT, Yuda Febrian menjelaskan wilayah Karst Pangkalan memiliki potensi 18 mata air yang telah terdata. Namun yang baru terhitung debitnya baru 7 mata air dengan debit 481,5 liter /detik.

Yuda menambahkan pihaknya telah mendata goa di Karst Pangkalan sebanyak 39 goa dan memiliki debit air tanah mencapai 2.21 m3/detik yang mengalir di tiga sungai bawah tanah.

"Jika dihitung valuasi ekonomi berdasarkan rata-rata harga air permeter kubik US$0.50. Itu data harga air di kawasan industri per 1 januari 2010. Dengan asumsi 0.481 m3/detik mata air ditambah 2.12 m3 /detik sungai bawah tanah. Dan dikalikan potensi air pertahun menjadi 80.917 juta m3 air, maka Karawang memiliki potensi US$ 40 juta/tahun. Jika karst rusak, hitungan kerugian masyarakat terhadap air adalah senilai itu, " katanya kepada Media Indonesia, Rabu (14/2).

Sedangkan potensi lainnya dari 39 goa yang terdata telah teridentifikasi 6 spesies kelelawar dengan jumlah 12.601 ekor sebagai pemakan serangga dan 11.289 kelelawar pemakan buah.

"Seekor kelelawar dapat mengkonsumsi 7 gram dalam setahun. Jika dikalikan 12.601 kelelawar maka akan mengkonsumsi 31.7 ton serangga dalam setahun.

Dan kelelawar terkenal sebagai predator alami untuk hama. Lalu kelelawar pemakan buah memiliki jelajah 20 kilometer. Jika dihitung 11.289 kelelawar pemakan buah dapat membantu penyerbukan tanaman pangan seluas 126.6 km2," terang dia.

Sehingga Yuda meminta pemerintah untuk menolak rencana pengajuan izin perusahaan tambang dengan modus pariwisata.

Saat ini ada salah satu perusahaan yang tengah mengajukan izin pariwisata. Tetapi perusahaan tersebut merupakan perusahaan tambang. Beberapa konsepnya mereka membangun pariwisata tetapi melakukan penggalian. "Tentu kami menolak," katanya.

Padahal, Bupati telah sangat jelas untuk melindungi kawasan karst pangkalan. Ia menilai kawasan lindung itu, harus tetap menjadi penyangga alam yang lestari di Karawang.Â

"Kami minta bupati juga untuk memastikan secara jelas dengan bertindak tegas bahwa tidak akan ada izin yang sifatnya penggalian di kawasan Karst Pangkalan," pungkasnya.(OL-3)

Komentar