Polkam dan HAM

Perbanyak Ceramah yang Perkuat Persatuan

Rabu, 14 February 2018 10:08 WIB Penulis: Christian Dior Simbolon

MI/RAMDANI

WAKIL Presiden Jusuf Kalla mengatakan para pemuka agama harus lebih banyak memberikan ceramah keagamaan yang bersifat kerukunan dan tidak memecah-belah antarumat beragama.

Hal itu disampaikan Wapres Kalla menanggapi adanya eskalasi kekerasan terhadap umat beragama di daerah.

"Ya semua harus berhati-hati, dan apalagi pemuka agama harus lebih adem caranya dalam memberikan dakwah atau khotbah atau apa pun," kata Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, kemarin.

Peristiwa kekerasan terhadap umat beragama terjadi di beberapa daerah dalam beberapa waktu terakhir. Minggu (11/2), Gereja Katolik St Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Yogyakarta diserang seorang pria bersenjata yang kemudian diketahui bernama Suliyono, 22, warga Banyuwangi.

Serangan itu melukai tiga orang, termasuk Pastor Karl Edmund Prier yang sedang memimpin misa.

Romo Prier dan seorang umat bernama Budijono mengalami luka di kepala, dan satu umat bernama Martinus Parmadi Subiantoro terluka di punggung.

"Saya cuma membaca yang di Yogya itu, mereka berkeli-ling itu, mungkin ada keresah-an dalam jiwanya, ada ajaran yang masuk. Saya tidak tahu, biar polisi nanti yang menjelaskan," ujar Wapres.

Dalam kesempatan itu, JK mengatakan dirinya dijadwalkan berkunjung ke Afganistan untuk berbagi pengalaman mengenai penanganan konflik dan pemulihan pascakonflik.

"Mereka (Afghanistan High Peace Council) mengundang saya untuk datang ke Kabul, kira-kira tanggal 26 Februari saya ke sana. Mereka sudah beberapa kali datang, pertama untuk berterima kasih atas kunjungan Presiden (Joko Widodo), kedua ingin lebih jauh lagi mencari pengalaman Indonesia dalam hal menyelesaikan konflik,

Sementara itu, Kapolres Sleman AKB Firman Lukmanul Hakim mengatakan motif pelaku penyerangan di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman masih didalami.

"Motif masih dalam pendalaman. Kami masih mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang ada, serta olah tempat kejadian perkara. Sementara ini pelaku satu orang, mengenai ada orang yang menunggu di luar gereja, masih kami dalami. Kami tidak bisa asal menuduh," Firman.

Pemicu hoaks

Menko Polhukam Wiranto mengatakan terjadi perubahan konstelasi politik global maupun kemajuan teknologi yang ditimbulkan pesatnya teknologi komunikasi. Hal itu memicu terjadinya hoaks, serangan siber, dan penyebaran ujaran kebencian lewat internet.

Mantan Ketua Umum Hanura itu menyampaikan informasi mengenai tantangan dan kinerja Kemenko Polhukam kepada para Duta Besar Perwakilan RI dalam Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI Kementerian Luar Negeri Tahun 20018 di Jakarta, kemarin.

"Sehingga ada hoaks, ada cyber attacks, lalu ada ujaran kebencian yang mudah lewat internet. Ini semuanya satu perubahan lingkungan yang harus kita ketahui bersama dengan teman-teman dari para dubes," ujar Wiranto.

Ia menambahkan, Indonesia bila ingin sukses harus tahu tantangan yang dihadapi, ancamannya, siapa pesaingnya, dan kekuatannya.

Dengan demikian, tercipta konsep untuk memenangkan persaingan global yang sangat ketat.

"Memang secara formalnya semua kerja sama dilakukan tapi esensialnya kompetisi antarbangsa sangat kuat terutama di bidang ekonomi, padahal kita ingin mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar dia.

Ia menambahkan fundamental ekonomi Indonesia harus kuat dengan angka pertumbuhan yang tinggi.

"Supaya sehat harus aman, stabil, di bidang politik, hukum, keamanan. Jadi intinya itu yang saya informasikan meskipun tentu ada hal-hal khusus yang kita elaborasi lagi," ujar dia. (P-4)

Komentar