Humaniora

Perbukitan di Jawa Rawan Longsor

Rabu, 14 February 2018 09:00 WIB Penulis: Dhika Kusuma Winata

MI/Dede Susianti

HAMPIR seluruh daerah perbukitan di Pulau Jawa rawan longsor. Karena itu, kewaspadaan melalui deteksi dini diperlukan untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian materiil.

Sayangnya, sistem deteksi dini longsor belum diterapkan secara menyeluruh di Tanah Air, seperti halnya pada peristiwa longsor di sejumlah lokasi di Indonesia, termasuk longsor di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, dua pekan lalu.

“Dalam kasus itu tidak ada peringatan kepada pengguna jalan. Namun, dengan sistem peringatan dini untuk memantau potensi longsor, saat hujan deras jalan itu seharusnya ditutup sampai dinyatakan aman untuk dilalui,” kata peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tingkat kerawanan daerah perbukitan di Pulau Jawa yang menyimpan potensi bencana longsor bervariasi, bergantung pada kondisi geologi, kemiringan lereng, kondisi keairan, dan tata guna lahan, selain faktor cuaca. Terlebih lagi karakteristik longsor di berbagai daerah dominan longsor luncuran (bergerak cepat) seperti yang terjadi di Puncak.

Ia menyebutkan, risiko korban jiwa akibat longsor luncuran lebih besar ketimbang longsor nendatan (bergerak lambat). Apalagi, bila di lereng terdapat banyak permukiman, risiko longsor akan tinggi bila dibandingkan dengan lereng dengan permukiman sporadis.
“Ancaman longsor itu sudah terberi (given) dan tidak bisa dihindari. Namun, sistem pemantauan longsor belum digunakan secara menyeluruh di wilayah-wilayah yang rawan longsor. Berbeda dengan gempa, hampir semua wilayah ada seismograf,” jelas Adrin.

Potensi longsor

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan potensi longsor di Jawa meningkat seiring dengan dimulainya puncak musim hujan pada bulan ini. Daerah-daerah rawan itu ialah yang memiliki topografi pegunungan, perbukitan, dan lereng-lereng yang di bawahnya banyak permukiman.

Wilayah tersebut memanjang di Jawa bagian tengah hingga selatan. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur ialah daerah yang paling banyak memiliki potensi ancaman longsor. Daerah rawan longsor tinggi di Jawa Barat meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Bandung Selatan, Purwakarta, Garut, Sumedang, Kuningan, dan Tasikmalaya.

Di Jawa Tengah, daerah rawan longsor terdapat di Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Pekalongan, Temanggung, Semarang, Karanganyar, Tegal, Wonogiri, Magelang, Purbaling­ga, dan Boyolali. Di Jawa Timur, daerah rawan terutama ada di Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, Malang, Pacitan, Mojokerto, Jember, dan Banyuwangi.

BNPB juga mencatat awal tahun ini bencana longsor paling banyak menimbulkan korban jiwa jika dibandingkan dengan jenis bencana lain. Sedikitnya 19 orang meninggal dunia akibat longsor di sejumlah wilayah.

Soal diperlukannya sistem deteksi dini longsor, LIPI melalui penelitian berhasil menciptakan alat untuk mengetahui akan adanya longsor, yakni Wiseland dan The Greatest. (Yan/H-2)

Komentar