Kesehatan

Rokok Elektrik juga Berbahaya

Rabu, 14 February 2018 01:31 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA/Galih Pradipta

ROKOK elektrik atau vape sedang tren dan digandrungi banyak kalangan. Rokok jenis ini disebut-sebut lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, tidak demikian menurut hasil penelitian. Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta, dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan dampak kesehatan dari rokok elektrik dan rokok biasa tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama mengandung zat berbahaya. Selain nikotin juga terdapat zat radikal bebas dan bahan-bahan karsinogen (pemicu kanker) seperti propylene, glycol, dan glycerol.

"Dalam rokok konvensional, karsinogen terkandung dalam komponen tar (hasil pembakaran tembakau), tapi dalam rokok elektrik bahan-bahan karsinogen ada pada cairan yang dilepaskan menjadi uap," jelas Agus, kemarin.
Pada rokok elektrik, lanjut Agus, penetrasi bahan-bahan berbahaya bahkan dapat lebih cepat masuk ke tubuh. "Rokok konvensional tembakaunya dibakar menghasilkan asap. Rokok elektrik cairannya dipanaskan menghasilkan uap. Partikel uap lebih halus daripada asap, sehingga penetrasinya ke tubuh lebih mudah," terang Agus.

Ia menyampaikan, berbagai dampak buruk mengintai pengguna rokok elektrik. Dampak yang paling sederhana ialah iritasi pada saluran napas karena masuknya zat-zat radikal bebas. Itu menyebabkan batuk-batuk. Apabila berlanjut, dapat menganggu sistem saluran pernapasan. Penelitian menunjukkan penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko pneumonia. Sebab Sistem pernapasan terganggu uap yang berisi radikal bebas. "Akibatnya, kuman-kuman yang terhirup lewat napas kita tidak bisa dibersihkan, mengendap, dan menjadi pnemonia," terang Agus yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu.

Ditambah lagi, ada risiko dari peralatan yang tidak steril. "Rokok konvensional, ketika habis dihisap, puntung rokoknya dibuang. Rokok elektrik, cairan diisi ulang sehingga kuman dapat masuk pada alat tersebut," imbuhnya. Selain gangguan sistem saluran pernapasan, dampak lainnya yang ditimbulkan rokok elektrik ialah adiksi atau kecanduan. Agus menyampaikan, berdasarkan penelitian, kadar nikotin yang terkandung dalam rokok elektrik lebih tinggi daripada rokok konvensional.

"Partikel halus dalam bentuk uap cepat sekali masuk ke darah dan menimbulkan ketagihan bahkan gejala keracunan nikotin akut seperti sakit kepala, pusing, mual bisa terjadi pada pengguna rokok elektrik kalau menghisapnya terlalu banyak," papar dia. Nikotin yang terus-menerus ada dalam tubuh dapat menganggu sistem pembuluh darah, seperti meningkatkan kekentalan darah dan penyempitan pembuluh darah. Sehingga meningkatkan risiko jantung koroner dan stroke. Risiko lainnya datang dari kandungan radikal bebas dan bahan-bahan karsinogen yang dapat meningkatkan terjadinya kanker.

Bukan untuk berhenti merokok
Banyak yang menganggap vape dapat membantu para pecandu rokok agar berhenti merokok. Dokter Agus yang sehari-hari berpraktik di Klinik Berhenti Merokok RSUP Persahabatan menjelaskan pihak medis tidak merekomendasikan rokok elektrik sebagai cara untuk berhenti merokok. Dipaparkan Agus, rokok elektrik mulanya diciptakan sebagai alat untuk membantu berhenti merokok, tetapi WHO maupun FDA hingga saat ini tidak merekomendasikannya karena ada kandungan berbahaya pada rokok elektrik. Di samping itu, efektivitasnya dalam membantu orang berhenti merokok tidak terbukti.

Menurutnya, seseorang yang ingin menggunakan rokok elektrik sebagai cara berhenti merokok harus dengan supervisi tenaga medis. Pasalnya, dosis nikotin dalam rokok elektrik harus diturunkan perlahan-lahan. Hingga akhirnya terlepas dari kecanduan dan berhenti merokok konvensional maupun elektrik. "Kalau dia menjadi pengguna rokok elektrik terus-menerus, tidak membantu berhenti merokok, tetapi berpindah saja. Itu yang salah. Hanya mengubah perilaku," tuturnya.
Agus menyampaikan, terapi untuk berhenti merokok pada dasarnya harus menggunakan pendekatan multidisiplin. Sebab, setidaknya empat faktor yang membuat orang sulit berhenti merokok. Pertama, faktor adiksi atau ketergantungan. Kedua, kalau berhenti merokok badannya bisa sakit semua. Ketiga, faktor perilaku, dan keempat, karena faktor lingkungan.

"Kalau ringan-ringan saja adiksinya hanya dengan konseling cukup. Tetapi kalau sudah adiksi sedang sampai berat, mereka harus datang ke pelayanan kesehatan yang menyediakan klinik berhenti merokok yang multidisiplin. Karena pendekatannya harus kombinasi, ada konseling, pemberian obat dalam membantu adiksi, dan modalitas lain untuk mengatasi perilaku sehingga keberhasilannya lebih tinggi," pungkasnya. Berdasarkan penelitian, penggunaan multimodalitas dalam terapi berhenti merokok keberhasilannya jauh lebih tinggi, mencapai 70%, jika dibandingkan dengan satu modalitas saja. (H-3)

Komentar