Megapolitan

Gara-Gara Kredit Mobil Macet, Pendi Tega Habisi Istri dan Dua Anak Tirinya

Selasa, 13 February 2018 19:23 WIB Penulis: Sumantri

Ilustrasi

POLISI akhirnya menjadikan Pendi, 55, sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap istri kedua anak tirinya di Perumahan Taman Kota Permai 2, Blok B6 RT 05/12, Kelurahan Periuk, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, Selasa (13/2)

Menurut Kapolres Metro Tangerang, Kombes Harry Kurniawan, kemarin, Pendi yang sedang kritis lantaran niat bunuh diri setelah membantai istrinya, Emang, 40, serta kedua anaknya, Nova, 19, dan Tiara, 11, menjadi tersangka setelah petugas menemukan barang bunti berupa senjata tajam yang diselipkan di samping lemari kamarnya.

Selain itu, kata Kapolres, setelah siuman, lelaki yang dirawat di Rumah Sakit Kramatjati, Jakarta itu juga mengaku bahwa dirinyalah yang tega menghabisi istri dan dua orang anak tirinya karena tidak tahan didatangi leasing yang kerap menagih ansuran mobil milik istrinya.

"Kami menetapkan dia sebagai tersangka karena di samping lemari tempat Pendi terkulai, petugas menemukan senjata tajam yang dipenuhi lumuran darah," kata Kapolres.

Hal itu, kata Harry, diperkuat lagi oleh pernyataan pelaku yang mengakui perbuatannya. Adapun motif dari pembunuhan tersebut ialah persoalan ekonomi karena mobil Daihatsu Ayla warna merah yang dibeli istri pelaku dengan cara kredit, tidak terbayarkan lagi.

"Mobil itu dibeli oleh istri korban dengan cara kredit. Karena belakangan tidak mampu bayar, maka sering terjadilah cekcok di antara mereka," kata Kapolres.

Karena percekcokan itu akhirnya melibatkan kedua orang anak korban, pelaku naik pitam dan mengambil sebuah pisau dari dapur untuk ditusukkan ke ketiga korban hingga tewas di tempat kejadian.

Melihat korbannya tidak berdaya, pelaku keluar dari kamar depan dan masuk ke kamar belakang rumahnya untuk bunuh diri. Namun upaya menghabisi diri tersebut gagal. Pelaku dilarikab oleh petugas kepolisian ke Rumah Sakit Kramatjati Jakart karena kritis.

Akibat perbuatannya, pelaku dapat diancam dengan hukuman sumur hidup, karena telah melanggar Pasal 338 KUHP juncto Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. (X-12)

Komentar