Internasional

Donald Trump Umumkan Rencana Anggarannya

Selasa, 13 February 2018 18:28 WIB Penulis: Irene Harty

AFP/Mandel NGAN

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan proposal ambisiusnya dalam anggaran dan belanja negara yang memotong jaring pengaman sosial, namun meningkatkan defisit negara untuk infrastruktur.

Trump berniat memperbarui infrastruktur AS yakni pembangunan kembali jalan raya, jembatan, dan bandara yang senilai US$200 miliar dana federal, tapi mendatangkan investasi US$1,3 triliun dari negara bagian dan investor swasta lain.

Pejabat pemerintahan menjalankan rencana infrastruktur sebagai bagian dari peralihan kembali ke prioritas nasional yaitu US$50 miliar. Itu didedikasikan untuk proyek-proyek di daerah perdesaan yang memilih Trump pada 2016.

Trump mengakui pergeseran terjadi setelah pembelanjaan militer yang boros sejak serangan teroris pada 11 September 2001.

Namun, dia juga memuji dorongan besar dalam belanja pertahanan, termasuk senjata nuklir yang akan kembali membuat angkatan bersenjata AS lebih maju.

"Kami telah menghabiskan US$7 triliun di Timur Tengah, US$7 triliun. Betapa salahnya. Dan kami mencoba membangun jalan, jembatan, dan memperbaiki jembatan yang jatuh dan kami sulit mendapatkan uang dan menjadi gila," kata Trump, Senin (12/2) waktu setempat.

Lebih dari 10 tahun, proposal Gedung Putih berusaha memangkas triliunan pengeluaran di sebagian besar pemerintah federal, yang menargetkan pengeluaran kesehatan dan kemiskinan.

Pemotongan di jaring pengaman sosial itu akan menghilangkan program asuransi kesehatan mantan Presiden AS Barack Obama, dan mengurangi lebih dari US$200 miliar bantuan makanan untuk orang miskin.

Pemotongan juga akan terjadi pada program medis yang ditujukan untuk yang miskin dan lansia. Terlepas dari pemotongan ini, total anggaran proposal sebesar US$4,4 triliun mengalami peningkatan sebesar 10% dibandingkan pada 2017.

Cetak biru untuk tahun fiskal 2019 menjadi tujuan Republik yang telah lama ingin menyeimbangkan anggaran federal dalam satu dekade.

Proposal anggaran Gedung Putih merupakan sinyal penting dari prioritas pemerintah, dengan perkiraan defisit mencapai puncaknya karena tingginya dana pertahanan.

Namun, rencana fiskal pemerintah kemungkinan akan lolos saat perdebatan dimulai di Kongres mengingat parlemen bisa sulit memaksakan beberapa pemotongan program besar.

Defisit diperkirakan naik menjadi hampir US$1 triliun pada 2020 dan menaikkan hutang federal hingga 61% lebih besar daripada defisit 2017 pada 2028.

"Ini adalah dokumen isyarat," ujar Direktur Anggaran Gedung Putih Mick Mulvaney, mantan anggota parlemen Partai Republik.

Dia mengakui Gedung Putih tidak mengharapkan dokumen tersebut menjadi undang-undang melainkan untuk mengatur suara di antara anggota parlemen.

Namun rencana anggaran tersebut dapat dipastikan akan menimbulkan pertanyaan di Kongres mengenai cara pemerintah membenarkan proyek ambisius di tengah pendapatan yang berkurang.

Bank investasi JPMorgan mengungkapkan defisit Trump diperkirakan akan melonjak menjadi 5,4% dari PDB pada tahun fiskal 2019, tertinggi tanpa resesi, dan melampaui defisit yang dicapai selama krisis keuangan global.

Rencana tersebut berdasarkan prediksi ekonomi AS akan berkembang 3% setiap tahun selama enam tahun ke depan, yang menurut para ekonom tidak realistis karena adanya pemotongan pajak besar-besaran yang disetujui akhir 2017.

Senator Chuck Schumer, pemimpin oposisi Demokrat di majelis tinggi, menuding Gedung Putih meminta kelas menengah, anak-anak dan pekerja untuk menanggung beban 'hadiah' pemotongan pajak kepada perusahaan-perusahaan.

Dia mengatakan akan lebih baik jika Kongres mengumpulkan tingkat anggaran dan belanja mereka sendiri dan mengabaikan presiden.

"Trump seharusnya tidak memiliki ilusi tentang anggarannya menjadi undang-undang. Itu tidak akan menjadi undang-undang," tandas Schumer. (AFP/OL-4)

Komentar