Internasional

Di Jepang, Tak Perlu Slogan Untuk Menjaga Kebersihan Kota

Selasa, 13 February 2018 13:29 WIB Penulis: Jonggi Pangihutan

MI/Jonggi Pangihutan

DI JEPANG kita tidak akan pernah menemukan onggokan sampah. Warga Negeri Sakura itu meski tidak mempunyai jargon antisampah seperti slogan ‘kebersihan adalah bagian dari iman’ yang banyak kita temui di Tanah Air, mereka secara konsisten dapat menjaga kota tetap bersih.

Tiga kota yang disambangi Media Indonesia, yaitu Tokyo, Ishigaki dan Naha menggambarkan hal tersebut. Seperti saat berada di Ishigaki pada Kamis (8/2), sejak menginjakkan kaki di bandara domestik hingga berkeliling menyusuri sudut kota, sama sekali tidak terlihat sampah yang berserakan termasuk di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sekitar Pelabuhan Ishigaki.

Kegiatan pelelangan ikan telah usai saat jurnalis dari sembilan negara menyambangi TPI itu sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Jika tempat-tempat pelelangan ikan di Tanah Air identik dengan bau amis menyengat dan lantai becek, hal itu tidak ditemui di TPI Ishigaki. Lantai TPI itu kering tanpa genangan air dan sama sekali tidak tercium bau amis ikan.

Ishigaki ialah kota kecil nan indah di prefektur Okinawa. Di Tanah Air, prefektur lebih lazim kita kenal dengan sebutan provinsi. Pemerintahan di wilayah itu setara dengan pemerintahan daerah tingkat dua yang dipimpin oleh seorang Walikota.

Banyak turis domestik maupun dari manca negara melancong ke sana. Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Jepang, Ishigaki memiliki berbagai tempat rekreasi memikat, seperti Cape Hirakubozaki, Kabira Bay, Yonehara Beach, Tamatorizaki Observatory, Yaima Village, Banna Park, dan puluhan tempat menarik lainnya.

Selain tempat-tempat wisata itu, wilayah Ishigaki yang merupakan gugusan pulau-pulau kecil memiliki daya tarik khas, yakni wisata memancing ikan tuna. Perairan yang mengelilingi pulau-pulau tersebut kaya akan habitat ikan tuna.

Pesona keindahan Ishigaki semakin komplit karena dibalut oleh kebersihan lingkungan. Pekarangan rumah warga, halaman perkantoran, hotel, ruko, area publik dan trotoar enak dipandang mata karena terbebas dari sampah. Selama menyusuri kota itu tidak terlihat puntung rokok, kertas dan plastik bekas yang tercecer di trotoar.

Hal yang sama juga ditemui di wilayah lainnya seperti di Naha (Ibu Kota Okinawa) dan Tokyo. Di Ibu Kota Jepang yang sangat sibuk, sukarelawan dari berbagai kalangan seperti siswa-siswi SMP berpartisipasi menjaga kebersihan kota.

Mereka dikerahkan memungut dedaunan pohon hutan kota dan sampah tercecer yang biasanya dibuang secara sembarangan oleh beberapa warga asing yang belum menyadari tentang pentingnya kebersihan kota.

“Kami mengumpulkan kantong plastik bekas, kertas yang tidak terpakai, botol-botol plastik dan kaca, serta kaleng minuman di tempat-tempat sampah menurut jenisnya. Sampah-sampah itu kemudian didaur ulang untuk dipakai kembali,” jelas petugas pemandu, Hisako Suzuki.

Untuk soal kebersihan, warga Jepang memang patut diacungi jempol. Penduduk ‘Negeri Sakura’ sangat peka terhadap kebersihan dan keindahan kota mereka.

Menginspirasi
Udara sejuk menyelimuti Ishigaki saat rombongan jurnalis menyambangi tempat pelelangan ikan di kota itu. Angka di alat pengukur suhu udara menunjukkan 14 derajat Celcius.

Kegiatan pelelangan ikan telah usai sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Dua pemuda asal Indonesia yang bekerja di TPI itu sedang duduk melepas lelah.

Mereka ialah Deni Rudiansah, 20 dan Andri Ardiansyah, 20. Keduanya berasal dari Sumedang, Jawa Barat. “Kami sudah satu tahun bekerja di TPI ini,” kata Deni.

Di sana mereka berstatus sebagai pekerja magang untuk masa kontrak selama tiga tahun. Menurut Deni, terdapat 30 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja magang di Ishigaki.

Mereka bekerja di kota itu lewat jasa perusahaan swasta penyalur TKI ke Jepang. Keduanya mengaku senang bekerja di sana karena bisa mengantongi pendapatan yang lumayan.

Upah yang mereka terima sebesar 750 yen per jam atau Rp90 ribu (memakai kurs Rp120/yen). Di TPI tersebut, mereka bekerja selama 8 jam sehari. Itu berarti masing-masing mengantongi honor Rp720 ribu per hari.

Selain upah yang lumayan, keuntungan lain yang mereka peroleh ialah pembelajaran tentang kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi. “Kalau masih dalam jam kerja, semua karyawan harus tetap berada di area TPI. Tidak bisa keluar dari area kerja,” jelas Andri.

Kedua pemuda itu menuturkan perilaku warga Jepang yang sangat memperhatikan kebersihan lingkungan kerja juga menginspirasi mereka. Area kerja, lanjut Andri, tidak boleh kotor dan harus selalu bersih dan tertata rapi. Bila menemukan sampah yang tercecer, mereka diajarkan harus memungutnya dan membuang ke tempat yang disediakan.

“Kelak saat kembali ke Indonesia, kami akan menerapkan kedisplinan kerja yang kami dapat di sini,” kata Andri menutup pembicaraan singkat dengan Media Indonesia. (OL-3)

Komentar