Humaniora

Karhutla Mulai Terjadi di Riau

Selasa, 13 February 2018 11:53 WIB Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani

Ilustrasi---ANTARA/Rony Muharrman

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi 15 titik panas yang mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau, kemarin (Senin, 12/2).

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru Slamet Riyadi mengatakan 15 titik panas tersebut terpantau menyebar di empat kabupaten. “Titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 50% terdeteksi di Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Bengkalis,” katanya.

Ia menuturkan, dari 15 titik panas yang terpantau Satelit Terra dan Aqua tersebut, 9 di antaranya dipastikan sebagai titik api. Titik api merupakan indikasi kuat adanya kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70%.

Sembilan titik api tersebut terpantau berada di Kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak lima titik, Pelalawan dua titik, dan di Indragiri Hilir dua titik. Lima titik api yang ada di Meranti tepatnya berkobar di Kecamatan Tebing Tinggi.

Bahkan, beberapa titik api terpantau dengan tingkat kepercayaan 90% sampai 100%. Sementara itu, titik-titik api di Kabupaten Pelalawan masih terpantau di Kecamatan Kuala Kampar. Di Indragiri Hilir, titik api menyebar di Kecamatan Kuala Indragiri.

Kepolisian Daerah (Polda) Riau menyatakan fokus dalam menangani bencana karhutla. Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Guntur Aryo Tejo mengatakan sebagian besar kebakaran hutan dan lahan terjadi akibat kesengajaan.

Karena itu, Guntur mengimbau masyarakat dan perusahaan untuk menghindari upaya membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, ancaman hukuman bagi pembakar lahan sangat berat, yakni mencapai 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

“Kami berharap jangan ada lagi yang membuka lahan dengan membakar. Ancaman hukumannya berat. Mari sama-sama kita mencegah kebakaran lahan,” ujar Guntur.

Terus ditangani
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Pandjaitan saat dimintai konfirmasi mengakui kebakaran memang mulai terjadi di Riau. Saat ini KLHK dan tim terpadu terus berupaya mema­damkan dan memantau di lapangan.

“Ya kebakaran saat ini sedang ditangani oleh Manggala Agni, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), TNI, Polri,” katanya.

Menurut Raffles, pemantauan intensif dilakukan untuk mencegah karhutla, khususnya di beberapa wilayah yang akan memasuki kemarau dalam waktu dekat, antara lain di Riau dan Kalimantan Barat.

“Manggala Agni terus menggelar patroli mandiri, sosialisasi, kampanye, dan melakukan ground check hot spot pada beberapa wilayah lainnya,” katanya.

Secara rata-rata setiap tahun, ujarnya, Riau dan Kalimantan Barat memang kerap mengalami kebakaran lebih dulu jika dibandingkan dengan provinsi lain. Karhutla umumnya dimulai sejak Februari dan terus terjadi hingga bulan April mendatang.

Karena itu, pengerahan tim dan edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan. Berbagai bantuan kebutuhan tim dan warga untuk melakukan pendeteksian dini kebakaran juga terus didistribusikan. (Ant/H-2)

Komentar