MI Muda

Balai buat Warga Parung

Sabtu, 10 February 2018 23:30 WIB Penulis: Fathurrozak Jek

Ruang sisi dalam balai---MI/Fathurrozak Jek

HUJAN belum ke­ring, ketika mobil yang mengantar Muda memasuki gang dengan jalan cor semen, yang hanya muat untuk satu mobil dan motor. Dari kejauhan, nampak bentangan hijau bercampur merah berupa bayam, kangkung, dan bayam merah, tertanam di lahan, tak jauh, ba­ngunan bambu dengan samping terbuka beratap rumbia menjadi pelengkap suasana Rumah Jamur Senin pagi menjelang siang itu.

Warga sekitar menyebutnya Rumah Jamur sebab dulunya, di areal sekitar 4.500 meter persegi ini pernah dijadikan sebagai tempat budi daya jamur, sebelum akhirnya kini menjadi areal perkebunan sayuran organik.

Kini, Edi Saedi beserta istrinya ditugasi untuk mengelola lahan milik lembaga swadaya masyarakat (LSM) Urban Poor Consortium (UPC) di Desa Iwul, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.

Sebelum ditanami sayuran organik, lahan milik UPC ini ditanami singkong. Namun, karena kurang produktif secara penghasilan, kini Edi bereksperimen dengan sayuran organik.

“Kita sedang mengampanyekan tanaman organik, bagaimana cara memasarkan ke warga.” Ia pun membuat srategi, saat panen pertama, warga boleh memetik tanaman secara gratis dengan jumlah terbatas. “Panen kedua, mereka datang lagi, cuma kita tidak gratis lagi, dan dari beberapa warga yang sudah beli sayuran kita sih, mereka balik lagi ke sini.”

Balai, favorit warga
Upaya Edi mengenalkan tanam­an organik ini semakin kreatif dengan dukungan hadirnya ba­ngunan yang disebut balai, yang menjadi kegemaran warga. Tak tanggung-tanggung, balai yang terbuat dari material bambu lokal dan rumbia dari daun kelapa ini, memenangi penghargaan Acknowledgement Award dalam Lafarge Holcim Award Asia Pasifik 2017.

Adalah Kamil Muhammad, bersama tim arsiteknya, Pppooolll, yang merancang ‘balai bambu’ itu menjadi bagian dari kebun sayur organik. Kamil mencoba memanfaatkan bambu yang tumbuh di sekitar kebun, yang membatasi lahan milik UPC, dengan lahan milik para pengembang. “Saya menyebutnya ini sebagai barikade lahan.”

Melihat hijau dan produktifnya lahan sekitar yang akan menjadi lokasi pembangunan balai, Kamil menyadari arsitekturalnya tidak ingin menonjol. Ia juga memutuskan untuk memilih material bambu, saat melihat banyaknya pohon bambu yang tumbuh di sekitar.

“Ini sebagai upaya mendorong lokalitas dan yang sudah tersedia di sini, penggunaan material juga harus memperhatikan jejak karbon.”

Bambu, sang aktor utama
Vocal point pada arsitektural yang Kamil rancang ialah bagaimana ia memanfaatkan bambu sebagai penyangga bangunan di sisi depan dan belakang ba­ngunan. Ia meniadakan tiang penyangga di tengah. Bambu-bambu disusun menyilang, dan di atasnya, dibiarkan bolong, se­ngaja ketika hujan, air bisa masuk. Susunan bambu penyangga ini disebut hyperboloid.

“Awalnya kami mencoba dengan tusuk satai yang disusun menyilang, di atas dan bawahnya kami beri kaca, lalu kami coba untuk menahan beban galon yang berisi air lebih dari setengah galon, dan ternyata kuat,” cerita Kamil sambil menunjukkan dokumentasi foto percobaannya di laptop, saat ditemui di kantornya, di Hall A3 Gudang Sarinah Ekosistem.

Eksperimen Pppooolll
Namun, konsep arsitektural Kamil bersama Pppooolll ini memang masih memiliki kekura­ngan. Saat Muda mengunjungi ke lokasi di Desa Iwul, Parung, atap dari rumbia mengalami kebocoran. Hyperboloid yang menjadi jalan air hujan turun, masih terlalu terbuka atasnya, sehingga menyebabkan tampias ke tengah ruang di dalam bangunan.

“Ini karena sudah ditutup terpal aja atapnya, jadi enggak bocor. Tadinya lumayan banyak bocor kalau hujan,” terang Muhammad Anggi, siswa SMK Wiyata Mandala, Bogor, yang memang sering nongkrong di balai rancangan Pppooolll.

Kamil pun menyadari kekurang­an eksperimennya ini. “Karena Pppooolll ini berbasis studi eksperimen, jadi perlu banget melakukan evaluasi, sehingga kami enggak berhenti hanya setelah bangunan jadi, tapi setelah itu kami juga harus memantau. Nanti rencananya, Februari akan ada renovasi sekaligus workshop untuk warga sekitar, bagaimana cara memperbaiki bangunan misalkan ada kerusakan. Kemungkinan juga akan melibatkan mahasiswa.”

Rencana Edi Saedi bersama UPC untuk menjadikan training camp, tentu masih memerlukan waktu. “Target ya 2019, untuk bisa menjadi training camp, dan perkebunan, ya semacam tempat pelatihan yang didesain kreatif dengan perkebunan.”

Sementara Pppooollll ingin membangun mimpinya untuk menghadirkan study appropriate technology, “kami juga ingin dikenal masyarakat lewat proses riset dan eksperimen.”

Makna Pppooolll sederhana, “Entah ini terdengar konyol atau tidak, Pppooolll itu ya dari kata pol, yang artinya maksimal. Jadi ya menandakan etos kerja kami yang maksimal, sampai-sampai nulisnya Pppooolll, hahaha.” (M-1)

Komentar