Inspirasi

Achmad Zaky Dorong UKM Indonesia Naik Kelas

Kamis, 8 February 2018 01:00 WIB Penulis: M Taufan SP Bustan

Dok MI

BERBICARA tentang marketplace tidak lepas dari nama Bukalapak. Situs jual beli ini dibangun Achmad Zaky pada 2010, hingga kini penggunanya sudah lebih dari 13 juta orang. Ada 2,2 juta usaha kecil, menengah (UKM) menjadi pelapak. Di usia Bukalapak ke-8 tahun, startup ini masuk menjadi unicorn keempat di Indonesia. Sejajar dengan Go-Jek, Traveloka, dan Tokopedia. Istilah unicorn merujuk pada startup dengan valuasi mencapai US$1 miliar atau setara Rp14,2 triliun. “Meskipun kami telah menjadi unicorn, itu bukan suatu kepuasan. Bukalapak masih akan terus dikembangkan hingga semakin berguna untuk semua orang,” kata CEO Bukalapak ini mengawali sesi wawancara bersama Media Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/1).

Sayangnya, alumnus Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu enggan membocorkan sejak kapan mereka menjadi unicorn ataupun pemodal yang menyokong mereka. Ia hanya menegaskan Bukalapak ingin terus mendukung di Indonesia agar naik kelas dan bisa memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan ekonomi nasional. Bahkan, untuk meningkatkan kinerja, Bukalapak membangun pusat riset dan pembangunan produk di Bandung, Jawa Barat. Saat ini pun kurang lebih sudah ada puluhan engineer yang bekerja di sana, rencana akan ada ratusan engineer lain yang bergabung. Pusat riset dan pengembangan produk itu, lanjut Zaky, tidak sebatas pengembangan software, tapi juga hardware.

“Hadirnya pusat riset dan pengembangan itu tidak lain untuk peningkatan produk dan service di Bukalapak bagi penggunanya yang semakin modern ke depan,” ujarnya. Tidak sebatas itu, tenaga kerja yang dipilih pun berasal dari Tanah Air. Pasalnya, Zaky percaya suatu saat nanti mereka akan termotivasi untuk lebih maju lagi. “Kalau mereka nantinya keluar dari Bukalapak siapa tahu bisa bikin startup sendiri, itu bagus untuk ekosistem di negara kita,” harapnya. Zaky melihat e-commerce di Indonesia akan terus berkembang. Akan banyak bermunculan startup, bahkan marketplace yang semakin canggih. “Bisa saja nanti hadir drone delivery atau smart speaker yang bisa digunakan semua orang untuk belanja dan lainnya. Pokoknya ke depan itu akan terus berkembang industri digital,” pungkasnya.

Lahir dari kegelisahan
Saat ini orang melihat Bukalapak sebagai startup besar, di balik itu butuh banyak perjuangan melambungkan nama perusahaan rintisan ini. Apalagi, Bukalapak terlahir dari kegelisahan Zaky dan temannya saat di Bandung pascalulus ITB. Kala itu, mereka melihat dunia sudah sangat idealistis dengan kehidupan mereka sebagai anak muda yang naif. “Saat itu kami merasa baru lulus tapi tidak bisa bikin apa-apa bahkan tidak berguna begitu untuk banyak orang. Padahal kami juga punya kerja masing-masing, namun masih kurang,” katanya.
Berbekal ilmu yang dimilikinya dan kegelisahan, mereka pun mulai merintis situs daring yang berguna bagi semua orang dalam hal jual beli produk. Bermodalkan uang pribadi, mereka mulai menjalankan rencana mereka di kamar indekos. Jatuh bangun mereka lalui, karena mimpi yang begitu tinggi mereka terus bekerja keras.

“Ternyata saat memulai itu tidak gampang. Kami sedikit pun tidak ada ekspektasi Bukalapak akan seperti saat ini. Karena mimpi tadi itu kami terus berusaha dan ternyata menuai hasil,” terangnya. Namun, sebelum serius mengurus Bukalapak, Zaky sempat mendirikan perusahaan jasa konsultasi teknologi bernama Suitmedia. Website itu merupakan proyek internal perusahaan. Proyek itu tidak bertahan lama hingga akhirnya Bukalapak diseriusinya. Seiring waktu, Bukalapak tumbuh pesat. Modal pribadi mereka kini berganti menjadi pendanaan dari beberapa investor.

Dia berpesan, ketika ingin mendirikan sebuah startup harus diawali dengan kesusahan yang dibarengi dengan konsistensi tingkat tinggi. Jangan minder dan ragu, putra-putri Indonesia juga mampu membuat bisnis startup digital yang sukses. “Pokoknya harus susah banget dan kerja keras. Seorang yang bermimpi besar harus susah dulu. Harus pernah menderita karena untuk membuat sesuatu yang besar harus ada perjuangan. Terus konsistensi tingkat tinggi untuk menggenjot mimpi itu,” ungkapnya. Zaky menyebutkan, Bukalapak memiliki visi untuk mengubah hidup banyak orang dengan memajukan UKM lewat internet. Di awal pengembangan Bukalapak membutuhkan waktu kurang lebih setahun. Selama masa pengembangan itu, Zaky secara perlahan mengajak seluruh pedagang yang ada di sejumlah mal untuk bergabung.

Sayangnya, waktu itu respons yang diberikan para pedagang di mal sangat rendah. Respons positif justru datang dari pedagang kecil. Sejak itu, Zaky dan tim Bukalapak fokus mengajak para pelaku UKM. “Dari situ pelapak yang bergabung bersama Bukalapak semakin bertambah. Sekarang kurang lebih 2,2 juta pelapak yang sudah terdata dengan jumlah karyawan kami seribuan orang,” ungkapnya. (M-4)

Komentar