MI Muda

Cerita dalam Film dan lagu

Ahad, 4 February 2018 08:15 WIB Penulis: Suryani Wandari Putri

Proses syuting fi lm Mata Jiwa---MI/Suryani Wandari Putri

KERLAP kerlip bintang di langit memang selalu cantik dilihat. Keindahan benda angkasa luar itu seperti tampak di hadapan kita meski kita tak bisa berada di sana. Namun, pernahkah kamu berpikir bagaimana teman-teman kita yang memiliki keterbatasan penglihatan untuk dapat merakan keindahan langit penuh bintang seperti kita. Kira-kira bisa tidak ya?

Hal inilah yang kemudian menginspirasi Tsaqiva Kinasih Putri, siswi kelas 3 SMP Semesta Semarang untuk membuat cerita pendek yang ia kembangkan menjadi sebuah film yang seru untuk ditonton nih. Tak hanya itu, film berjudul Mata Jiwa ini pun disutradarai dirinya. Mau tahu kisahnya? Yuk kenalan!

Hobi membaca dan menulis cerpen
Lahir di Kudus pada 11 September 2003, Tsaqiva begitu sapaan akrabnya, memang sudah tertarik dibidang seni cukup lama. Ketertarikannya itu dimulai ketika ia gemar membaca dan menulis cerpen sejak kelas 2 SD.

“Saat itu aku sering sekali didongengi sama ayah sebelum tidur, seperti cerita kancil yang cerdik. Makanya aku terinspirasi membuat cerita dan mencorat-coret di kertas atau di menulis di laptop,” kata Tsaqiva saat diwawancarai, Rabu (17/1). Menurutnya, kesenangannya terhadap dongeng pun karena cerita dongeng itu mengajarkan moral dan selalu menyisakan tentang pelajaran.

Tsaqiva sangat ingat sekali cerita pendek pertama yang ia buat berjudul Sapu Ajaib yang menceritakan seorang penyihir di alam imajinasinya. Tsaqiva terus melatih kepiawannya menulis cerpen dengan bimbingan ayahnya, Hasan Aoni.

“Ayah yang edit dari segi Ejaan yang Disempurnakan (EYD), aku juga sering minta bantuan ayah ketika buntu saat menulis di pertengahan,” kata Tsaqiva.

Saat dirinya kelas 4, cerpen Tsaqiva berjudul Sahabat yang Hilang pun dimuat di Harian Media Indonesia juga loh sobat Medi. Keren kan sobat?

Film Mata Jiwa
Kepiawaiannya membuat cerpen terus ia asah hingga di penghujung 2016 cerpen buatannya yang berjudul Bintang di Langit Jakarta itu ia kembangkan menjadi sebuah film. Tsaqiva pun memberi judul Mata Jiwa untuk film yang ia sutradarai sendiri ini. Keren, kan?

Menurut Tsaqiva, film itu bercerita tentang seseorang yang memiliki keterbatasan untuk melihat. Matanya rabun, jadi hanya samar penglihatannya. Sementara itu, dia ingin sekali melihat bintang-bintang di langit. Tapi udara yang penuh dengan polusi serta penglihatan yang ditutupi gedung-gedung tinggi pun sepertinya susah untuk melihat bintang di Jakarta.

“Karena dia adalah seorang pemulung, suatu saat tempat tinggalnya digusur dan ia kembali ke kampung halamannya di Kudus, Jawa Tengah. Di sinilah akhirnya ia menemukan tempat untuk melihat kerlap kerlip bintang yang sebenarnya lampu dari puluhan rumah,” kata Tsaqiva.

Ya, karena penglihatannya samar, ia melihat lampu rumah di Kudus dari dataran tinggi itu seperti hamparan bintang di langit ya sobat.

Ya, cerita ini memang sederhana, tapi memiliki makna dan pesan yang begitu kuat. Tsaqiva menjelaskan hal tersebut dilakukan untuk bisa dinikmati semua anak-anak Indonesia. “Jangan sampai keterbatasan membatasi kita untuk meraih mimpi,” kata Tsaqiva.

Proses pembuatan film
Aktif di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Omah Dongeng Marwah (PKBM ODM) yang didirikan ayahnya, Tsaqiva mengaku ODM ini mendukung apa yang ingin anak-anak kejar ke depannya, termasuk berkarya.

Dalam proses pembuatannya, Tsaqiva belajar secara autodidak dengan dukungan PKBM ODM. Ia harus mampu untuk memilih teman-teman sebayanya untuk berperan dalam satu tokoh dalam sebuah casting. Ia pun menentukan sikap peran dalam semua adegan hingga menjadi satu cerita film yang enak ditonton.

Ia mengaku pembuatan film ini sebenarnya akan dilakukan pada liburan 2 pekan sekolah, tapi molor hingga 8 bulan. “Ini benar-benar tantangan buat saya, apalagi ini pengalaman baru menjadi seorang sutradara. Saya harus memberikan emosi, harus pintar untuk mengatur semuanya,” katanya.

Saat ditanya mengapa mengembangkan cerpen kepada film, Tsaqiva menjawab film merupakan karya yang komplet.

“Film itu karya seni yang memasukkan banyak unsur. Tak hanya drama, tapi musik, akting, skenario, pengisi suara dan lainnya yang ditangkap oleh kamera. Apalagi film ini bisa menjadi sarana untuk memasukkan nilai-nilai kebaikan,” kata Tsaqiva.

Kini film ini pun telah diputar di tujuh kota di Indonesia lo, yakni di Jakarta, Salatiga, Semarang, Kudus, Purbalingga, Pati, dan Bandung.

Persiapkan album musik
Setelah membuat film, kini Tsaqiva disibukkan dengan pembuatan album musik bersama sang ayah. Semua lagu ia ciptakan dan dinyanyikan sendiri lo. “Genre musiknya banyak seperti pop, keroncong, dengan bahasa campuran Jawa dan bahasa Inggris dengan menceritakan kehidupan di dunia,” kata Tsaqiva. Seperti lagu berjudul Samirana atau dalam bahasa Indonesia berarti angin misalnya ia mengisahkan cinta seperti doa kepada Tuhan, atau di lagu dengan sentuhan Jawa menceritakan kepergian TKW yang tak pulang-pulang ke rumahnya.

Kecintaannya terhadap seni memang sangat besar sobat, Tsaqiva berharap ia bisa menyebarkan hal positif lewat seni. Ia pun ingin anak Indonesia jangan hanya bisa konsumtif menikmati seni, tapi juga produktif membuat sesuatu. Setuju kan sobat dengan harapan Tsaqiva? Yuk dimulai dari sekarang! (M-1)

Komentar