Kuliner

Si Lintong yang Manja

Rabu, 24 January 2018 08:48 WIB Penulis: Januari Hutabarat, Puji Santoso

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

AROMA kopi lintong yang tajam menarik indra penciuman Arcuna Bakkara. Karena keunggulan itu yang membuat penikmat kopi berusia 35 tahun itu jatuh cinta pada kopi lintong dibandingkan kopi lain yang dihasilkan daerah Tapanuli. Agar lebih nikmat lagi, Arcuna yang ditemui eksemMedia Indonesiaeksem, Selasa (23/1) itu tidak pernah memasukan gula dalam gelas kopinya.

"Jangan berkhianat ketika menikmati kopi lintong, jika kita menambahkan gula setiap kali minim kopi lintong, kita tidak akan mendapatkan rasa kopi tersebut dengan baik," ujarnya.

Tidak semata dinikmati di kedai kopi, Arcuna mengaku memiliki stok kopi lintong di rumahnya. Biasanya ia menikmatinya setiap malam, sebelum tidur. "Badan terasa lebih segar ketika kita menikmati kopi lintong," ujar pria yang kerap meminta tolong saudaranya yang berdomisili di Kabupaten Humbang Hasundutan untuk mengiriminya kopi lintong melalui pos seharga Rp15ribu per 3 ons.

Rasa dari kopi asal Sumatra Utara ini juga memikat Rudianto. Wakil rektor Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) Medan mengaku menyukai kopi sidikalang. Tidak tanggung-tanggung, untuk menikmati kopi dengan baik, Rudi memiliki alat meracik kopi sendiri.

"Roasting kopi ini tidak boleh asal-asal. Dia harus terukur, makanya saya beli alat-alat peracik kopi ini agar kita bisa menemukan dahsyatnya sensasi meminum kopi," ujar Rudianto kepada Media Indonesia di Sumatra Utara, Rabu (17/1) malam.

Manja

Rasa nikmat dari kopi lintong ternyata setara dengan perlakuannya. Menurut Bernad Sihombing, petani kopi di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan-Sumatra Utara, Minggu (21/1), kopi ini merupakan tanaman manja. Pasalnya, pokok pohon kopi setinggi 200 cm itu harus bersih dari rerumputan dan menggunakan pupuk kompos lokal.

Kopi yang dibanderol Rp10ribu-Rp20ribu per gelas itu baru bisa dipanen setelah berusia 12 bulan. Kopi lintong ini kebanyakan ditanam di sekitaran rumah petani. Seperti M Siregar, 45, yang mengaku memiliki 110 pohon di pekarangannya seluas 30 meter persegi. Setiap minggunya ia memanen 15 kg dengan harga jual Rp25ribu per kg.

Promosi

Sementara untuk pemasaran kopi lintong, Siregar mengaku peminat kopi langsung datang ke rumah mereka. "Kopi tersebut dijemput peminat ke rumah tinggal masing-masing, " ujar Siregar terkait pemasarannya. Namun, jangan salah sangka, kopi lintong sudah terkenal hingga mancanegara.

Di tempat berbeda, Jakkon Marbun, Kabag Humas Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumut, juga tengah mempromosikan kopi produksi pertanian Humbahas dengan nama Lintong Arabica Coffe. Kopi ini pun pernah dipublikasikan di media Inggris dan menjadi suvenir bagi tamu negara di Istana Presiden.

"Pemkab Humbahas telah melaksanakan event-event seperti Coffe Fest Toba tahun 2017 untuk mengangkat nama Lintong Arabica Coffe sebagai identitas geografis. Event itu untuk meningkatkan gairah pariwisata kawasan Danau Toba khususnya di Humbang Hasundutan," ujarnya.

Cita rasa

Bagi pecinta kopi di Medan, tidak perlu repot mencari beragam pilihan kopi khas Sumut. Cukup datang ke Warung Omerta di Jalan Wahid Hasyim. Warung kopi yang dibuka Deny Sitohang pada 2012 ini membeli kopi langsung dari empat desa. Yakni kopi Desa Cimbang, Kabupaten Karo, kopi dari Desa Onan Ganjang di Kabupaten Humbang Hasundutan, atau kopi dari Desa Simpang Banyak, Kabupaten Mandailing Natal.

"Nah, kopi-kopi yang saya sebutkan tadi tak umum ditemukan di kafe-kafe atau gerai lain. Saat orang-orang mulai memasuki tahap pencarian cita rasa, mereka akan datang ke gerai kami," tuturnya.

Setiap kopi memiliki ciri khas sendiri. Kopi asal Tanah Karo dan Mandheling memiliki tingkat keasaman sedikit lebih tinggi daripada kopi asal Simalungun, Sidikalang-Dairi, Lintong ni huta (umumnya kopi dari Humbang Hasundutan), Samosir, dan Tapanuli Utara. "Acidity ini terdeteksi lebih tinggi meski di level roasting yang sama," ujar Deny.

"Bisa muncul caramel, dark choco, tobacco, herbs (spicy), plus fruity, tergantung kepada proses pascapanen yang digunakan petani. Sekarang rasa tanah (earthy) sudah semakin jarang ditemukan. Indikasi kalau proses pascapanen dan penjemuran petani semakin berkualitas," lanjutnya.

Suasana kedai pria yang memiliki sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Pusat (BNSP) itu pun diubah layaknya kafe di kota besar. Sehingga tidak heran penikmat kopi yang datang kebanyakan anak muda. Mantan fotografer itu mengaku ingin lebih menyebarkan kelezatan kopi asal Sumut ke banyak orang. Dengan tetap meningkatkan kesejahteraan petani. (M-4)

Komentar