PIGURA

Mahar Politik

Ahad, 21 January 2018 01:01 WIB Penulis: Ono Sarwono/M-4

Ono Sarwono/M-4

ISU mahar politik menjelang pilkada kini ramai dibicarakan lagi. 'Makhluk' ini memang selalu bergentayangan menjelang kegiatan politik dan banyak pihak meyakini itu ada. Namun, sejauh ini, 'hantu' itu belum pernah tertangkap, apalagi terungkap dan tuntas tertangani.

Kalau dalam dunia wayang, mahar politik itu terang sekali. Bedanya pula, itu diberikan setelah jabatan tergenggam. Mahar ini bukan dalam bentuk materi, melainkan wujud pengabdian hingga penyerahan jiwa raga kepada 'sang pemberi' jabatan yang diteguhkan dalam sumpah suci.

Kisah itu dapat disimak dalam perjalanan karier politik Karna Basusena. Saking hebatnya, putri Kunti Talibrata yang menjadi 'kader Kurawa' ini menjadi salah satu kesatria yang pantas diteladani.

Dihanyutkan di kali

Alkisah, sejak bayi Karna tidak digulawentah (diopeni) ibu kandungnya. Tidak lama pascakelahirannya, Karna dimasukkan ke kendaga (kotak kayu) kemudian dilarung (dihanyutkan) ke Sungai Swilugangga. Tragisnya, tindakan tidak umum itu dieksekusi sekadar demi kehormatan keluarga besar orangtuanya.

Orok kemudian ditemukan seorang sais bernama Adirata. Kusir kereta raja Astina itu bersama istrinya, Radha, membesarkan anak angkatnya tersebut yang ia beri nama tambahan Karna Basusena. Karna tumbuh menjadi anak sehat, cerdas, dan trengginas. Wajah tampan dan postur mbambang (atletis). Kesukaannya bergeladi menggunakan berbagai senjata di pekarangan belakang rumah. Selain keris, Karna paling berbakat dalam hal memanah. Ketika usia menginjak dewasa, Karna meminta izin kepada orangtuanya untuk pergi menemui Resi Durna, guru para pangeran Astina. Tujuannya ingin ngangsu kawruh (menimba ilmu), khususnya dalam memanah.

Adirata meminta putranya untuk mengurungkan niatnya mengingat dirinya dari keluarga sudra. Namun, Karna berkeras dan tetap datang menghadap Durna. Namun, seperti ucapan orangtuanya, Durna menolak mentah-mentah permintaan Karna yang ingin nyantrik (berguru).

Durna menjelaskan dirinya dikontrak hanya untuk mengajar para pangeran Astina. Mereka ialah para putra Drestarastra-Gendari, yakni Kurawa dan lima putra Pandu-Kunti/Madrim yang dikenal sebagai keluarga Pandawa. Jadi, tidak ada peluang untuk Karna, apalagi dari kaum sudra.

Tentu Karna kecewa. Namun, karena besarnya ambisi, penolakan itu tidak menyurutkan tekadnya menyerap ilmu Durna dengan caranya sendiri. Ia diam-diam mengintip dan memperhatikan setiap pelajaran yang diberikan Durna kepada para Kurawa dan Pandawa. Berbekal ilmu 'nyuri' itu, Karna mempraktikkannya di sekitar rumah. Karna antusias dan keras berlatih.

Pada suatu ketika, Durna menggelar ujian kepada Kurawa dan Pandawa. Salah satu mata ujian terpenting ialah menggunakan senjata. Dalam aspek itu, Pandawa jauh lebih unggul atas Kurawa. Yang menarik dalam ujian ialah munculnya 'peserta' dari luar gelanggang. Dia ialah Karna. Kemampuannya memanah menyamai Permadi, panengah (anak tengah) Pandawa. Di setiap target yang diminta Durna, selalu ada dua anak panah yang menancap secara bersamaan.

Permadi sempat meradang dengan kelancangan Karna dan merasa tersaingi oleh orang yang ia anggap tidak jelas. Karna pun tak kalah jemawanya, bahkan ia menantang perang Permadi. Durna melerai dan meminta Permadi tidak meladeni.

Memegang teguh sumpah

Kepiawaian Karna memanah membuat Duryudana kagum dan kepincut. Sulung Kurawa itu pengin Karna dijadikan aset masa depannya ketika kelak dirinya menjadi raja. Ia merajuki bapaknya, Drestarastra, raja ad interim Astina, agar mengangkat derajat Karna sebagai saudara.

Singkat cerita Drestarastra memberikan wilayah Awangga kepada Karna. Kawasan itu masih bagian negara Astina. Versi lain, Karna dihadiahi wilayah itu setelah membunuh Raja Awangga Prabu Kalakarna yang membangkang terhadap pemerintah pusat Astina.

Kalakarna juga sosok yang mencuri dan ingin memperistri Dewi Surtikanti, putri Raja Mandaraka Prabu Salya, yang ialah pacangan Duryudana. Namun, Surtikanti pada akhirnya menikah dengan Karna. Duryudana menikah dengan Banowati, adik Surtikanti. Karna merasa jabatan atau kekuasaan Awangga yang ia genggam serta Surtikanti, istrinya, merupakan buah kebaikan hati Duryudana. Dengan berangkat dari kesadaran itu, muncul keinginan dalam hatinya untuk memberikan 'mahar' kepada sosok yang telah berjasa kepada dirinya itu.

Pada suatu hari yang telah ditentukan, Karna menghadap Duryudana yang kala itu sudah diangkat bapaknya menjadi raja. Di depan raja dan disaksikan sejumlah nayaka praja, termasuk patih Senkuni dan Resi Durna, Karna mengucapkan sumpah suci. Karna bersumpah menghibahkan seluruh jiwa raganya untuk kejayaan Duryudana. Ia menegaskan tidak ada satu orang pun, bahkan dewa di kahyangan sekalipun, yang bisa mengurungkan atau menghalangi sumpahnya. Sumpah kesetiaan itulah yang ditunggu-tunggu Duryudana.

Dalam perjalanannya, ujian sumpah Karna datang silih berganti. Puncaknya, ketika pecah Perang Bharatayuda. Inilah perang antarsaudara sepupu, yakni Kurawa melawan Pandawa memperebutkan kekuasaan Astina dan Amarta atau Indraprastha. Sebelum perang, duta Pandawa, Kresna, sempat menemui Karna empat mata. Dalam pertemuan itu, Kresna mengajak Karna bergabung dengan Pandawa karena sedarah. Ia jelaskan bahwa Karna dan Puntadewa, Werkudara, dan Permadi (Arjuna) ialah saudara kandung lain ayah. Namun, Karna tidak terpengaruh. Ia tegaskan dirinya telah bersumpah selama hayatnya berada di pihak Duryudana. Karna juga mengatakan dirinya hanya memegang teguh jiwa kesatrianya. Karena itu, baginya, mati ialah urusan enteng.

Perbaiki peradaban

Dalam kisahnya, Karna gugur di tangan adiknya, Arjuna. Lakon peperangan di antara kedua bersaudara itu sering disebut Karna Tandhing. Konon, perang di antara kedua kesatria yang sama-sama tampan dan sakti itu ditonton para dewa di kahyangan.

Benang merah kisah ini ialah bahwa Karna balas budi kepada Duryudana yang dianggap telah berjasa mengangkat derajatnya. Dalam konteks ini, 'mahar' yang ia berikan itu bukan di depan untuk mendapatkan jabatan, melainkan di belakang. Bentuknya ialah pengabdian yang tulus dan ikhlas. Dengan belajar dari kisah ini, mahar itu sejatinya mulia bila itu diwujudkan dalam hal-hal yang bisa membuat peradaban dunia semakin baik. Sebagai kesatria, Karna telah memberikan keteladanan itu. (M-4)

Komentar