Cerpen

Anakonda

Ahad, 14 January 2018 07:01 WIB Penulis: Siwi Nurdiani

MI/Ilustrasi

DI atas bed kamar VIP class, kantuk dan insomnia tak mau berdamai. Beda adat jadi sebab. Aku terbiasa gelongsoran di atas bale bambu beratap rerimbun daun, diterpa semilir angin samudera Hindia, bukan dinginnya AC 16 derajat Grand Senyiur Hotel ini. Ketika kantuk menang, justru ada yang memaksaku untuk tak jadi tidur. Wajah Yunan muncul dari balik pintu, memberi tahu untuk bergegas ke executif dining room.

Aku menyusup di antara peserta yang siaga dengan formasi pagar betis. Sebab yang akan hadir ini, seperti blue fire di Kawah Ijen, yang hanya muncul beberapa menit jelang fajar. Jangan bayangkan artis Korea yang digilai remaja Indonesia. Di ujung sana, seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda sedang berjalan ke arahku. Kini, setiap orang meraih punggung tangannya, bersalam takdim. Ada yang tumpah ruah di dalam hatiku, saat sepasang mata benderang itu, kilat cahayanya membias di mataku. Kuraih jemari itu, hingga segenap inderaku bergerak menghirup spiritnya.

"Sop buntut..." sebuah nama hidangan yang sangat ia gemari itu menjadi password untuk kami sama tertawa. Tak kusangka, ingatannya sama kukuh dengan akar-akar pohon rimba Borneo. Seperti seorang ibu di Jawa, Pak Awan menghargai setiap persaudaraan itu dengan simbol citarasa lidah dan perut. Jiwa keakraban.

"Masih berani, Pak?" tanyaku nakal.

Pak Awan tergelak kini, mengangkat dua tangannya macam prajurit menyerah pada serdadu.

"Harus beralih, pizza growol!" celetuk Pak Awan menyebut kuliner tradisional rasa kekinian asal Kulon Progo.Aku mengangguk-angguk. Pak Awan menepuk-nepuk pundakku sebelum melanjutkan perjalanan menuju mimbar.

Ada yang menghentak dalam dada, melihatnya duduk di kursi roda di atas panggung. Hanya raga yang berbeda. Selebihnya, ia orator demonstrasi mahasiswa, ia tukang blusukan ke pelosok-pelosok, merangkai sayap dari bulu-bulu proletar. Kudengar suaranya yang besar dan lantang. Tempaan organisasi semasa di kampus, tak lekang. Seperti adonan, yang kian lama diuli, kian liatlah ia. Dia bisa abai, meski bellpalsy renggut kemerdekaan motoriknya. Dia masih berpikir untuk mengandalkan agar pemikirannya bisa tetap berjuang, dan sayap-sayap yang pernah ia rajut, akan terus membawanya terbang.

***

Senja renyah di tepian Mahakam ditemani sepiring camilan khas Borneo, mantau dan pisang gapit. Pertemuan bilateral itu terjadi antara junior dan senior, yang bersaudara semenjak saling memiliki sebab berada dalam pergerakan mahasiswa yang sama. Ini, pertemuan kedua, semenjak lima tahun lalu, saat aku ke Balikpapan dalam agenda serupa, kongres nasional. Teringat, saat Pak Awan secara khusus menyewakan sebuah home stay dan warung makan terenak di Balikpapan selama 15 hari, untuk menampung 15 orang rombongan dari Yogya. Malu rasanya, sebab agenda pemenangan Pak Awan untuk menjadi sekjen waktu itu, kandas.

"Maaf, jika kami gagal waktu itu," ujarku.

Pak Awan menghirup teh tawar dari cangkirnya, seperti orang Cirebon menikmati teh dan itu, bagiku aneh.Menikmati teh dingin dan tawar. Biarlah itu jadi paradoks dengan lampu hias aneka warna sepanjang Tepian Mahakam ini. Kata Pak Awan, jam sebelas malam nanti, akan ada festival of light. Memang, Space ini baru saja diresmikan olehnya beberapa waktu. Dan sekarang menjadi destinasi favorit, apalagi kalau bukan kepentingan swafoto.

"Seperti ombak, ia melangkah surut kemudian maju lebih jauh," ujarnya tersenyum. Matanya memandang lembayung di bentang langit ataukah laut, yang samar. Aku lakukan hal yang sama, entah untuk apa.

Pak Awan menyodorkan piring saji berisi mantau.

"Sudah lama saya tidak santap sop buntut Borobudur..." kenangannya pasti sedang mengembara saat ia masih ada di Yogya bersama teman-teman seperjuangannya. Ia tertawa, dan kulihat gelora di mata itu. Gelora seperti yang diceritakan senior-senior di Yogya."Tepatnya sejak vonis dokter yang memaksaku duduk di kursi roda ini,"ketegaran yang tidak dapat kubayangkan lagi.Bagaimana bisa, sementara aku pikir, dunia ini kiamat ketika uang di ATM ku kerontang sebab potongan bank yang tak kenal toleransi.

"Dan kecemasan mereka itu hiperbolis," sungguh, dari hatiku aku membelanya.

Ia manggut-manggut.

"Dua tahun lalu, bagian tubuh kiri saya ini tidak bisa digerakkan, bicara pun susah. Mereka semua menjauh dan seperti tidak pernah mengenal saya," ujarnya.

Rambut memutih dan agak panjang itu bagiku menambah kharisma. Ia cermin yang sesungguhnya kubutuhkan, dalam jalan gelap yang lain, obor itu menyala-nyala. Tiga puluh tahun lagi, semua investasi kuyakini bakal terbayar.

"Apa pun yang pernah kita lakukan, jangan pikir bagaimana akan berhasil atau berimbas pada kehidupan kita," gumaman itu, menenggelamkanku ke dasar Sungai Mahakam, melesap dalam pusaran tersembunyi.

Bagaimana ia tahu?

"Itu seperti berharap anggrek merah saat bulan sabit. "Apa yang ia katakan, entah bagaimana, seolah ditujukan untukku. Ah, mungkin karena memang ia seniorku dalam organisasi yang sama, spirit itu tentu terus berlaku turun temurun seperti fabel-fabel di zaman pra-Indonesia.

Sedari tadi layar smartphoneku berdenyar-denyar. Istriku, Aida. Tiga belas panggilan tak terjawab.Pasti aduan lagi, tentang kepanikannya harus mengembalikan tukin.

"Mata anakonda melirik-lirik, mengendap. Mengincar darah segar yang tepercik dari luka, meski selubang jarum..." kini Pak Awan mencengkeram sandaran lengan kursi rodanya, hingga jari-jemari itu bergetaran. Dadaku seperti baru saja tersabet ekor ular raksasa yang hanya tampak dalam film box office itu.

Harapan bagi mereka, anakonda bagiku. Mereka yang terbatasi oleh jam, ruang, gerak, dan pemikiran oleh seorang 'serdadu'. Mendikte dan mempersempit pilihan hidup dalam lima opsi, sedang hidup ini adalah miliaran informasi acak yang berpeluang sama. Mereka yang dicetak untuk jadi jajahan. Zona yang kutawarkan itu, out of the box.

Transfer rupiah, pelatihan, seminar, sarasehan, lajur-lajur informasi bisnis. Itukah out of the box? Ugh! Sementara diriku yang lain, masih kuharap tatapan terima kasih atau investasi yang lebih panjang. Dukungan untukku.Inilah anakonda yang telah menyusup dalam pipa-pipa otakku. Aku akan menebasnya!

"Tunggu!"

Aku terhenyak.Kenapa menyergahku? Lagi-lagi ia seperti cenayang yang bisa membaca pikiran manusia. Aku menggigil, teringat teman santri jadug yang bisa menerawang seseorang.

"Tanpa jadug atau indera keenam, saya tahu, dalam pikiran seorang Fitroh Wijaya ini, telah berkelebat samurai dan keris sakti untuk membunuh anakonda yang telah teridentifikasi," Pak Awan berkata sambil menggeleng.

Apa maksudnya?

"Satu ekor terbunuh tapi ribuan ekor akan berkeliaran mencarimu, meremukkan tulang-tulangmu, menelanmu sebelum malaikat maut sempat menarik ruh dari ubun-ubun...,"

Tremor. Lemas, tak kuat kutahan beban satu gadget superslim. Benda itu melesat, melayang, dan mendarat di pinggir pagar. Sedetik kemudian tertelan dalam sunyi arus Mahakam.

***.

Peristiwa tenggelamnya HP, pertemuan bilateral antara aku dan Pak Awan jadi topik gathering di acara penutupan. Beberapa menanyakan soal nasib HP, apakah ada TIM relawan SAR yang menyelam untuk mengambilnya, dan tentu kujawab dengan gelengan kepala. Pertanyaan konyol yang menyakitkan sedangkan ia tahu, derajat kepentingan HP itu di mata seorang Pak Awan. Ada pula yang nyeletuk jika sebentar lagi akan ada paketan HP berikut sinyal dan program anti-air atau outo-safety sehingga HP itu otomatis akan berubah mode kapal selam ketika jatuh di air, mode helikopter ketika jatuh di udara, dan mode pegas jika terjatuh di atas lantai.

Satu yang terasa mencolok, Yunan tampak seonggok batu di sana, tanpa ekspresi. Sekian banyak asumsi dalam benak ini mengalir deras, mulai dari manuver yang akan ia jalankan terhadap rekan-rekanku demi kepentingannya, siapa tahu! Sesekali aku masih ikut tertawa dalam candaan sarkastis mereka. Akan tetapi, aku lebih tertarik kesibukan Yunan menerima telepon. Tiap ekspresi di wajah itu, bagiku satu kalimat tanya yang dituliskan ribuan kali.

"Pak Awan di rumah sakit. Besok pagi beliau sudah harus ada di Jakarta. Jadi sisa waktu pascaterapi rutin, benar-benar harus bed rest." Yunan kembali ke kamar panitia di lantai satu. Lantas ia kembali duduk di sofa seberang meja. Diletakkannya satu buah kotak, bungkusan.

"Titipan dari Pak Awan," ujar Yunan. Lidahku kelu.

Selama Mahakam masih mau menampung aliran-aliran kecil dari hulu dalam rimba Kalimantan, selama itu pula perahu perjuangan kami terus berpacu. Terus mendayung.

Ia berjanji akan mengunjungiku sepulang dari Jakarta esok. Ia ingin menikmati suasana di warung kopi dan angkringan yang sedang hits di Kulon Progo, ehm, salah satu usaha binaanku yang paling sukses. Kami akan mengobrol panjang lebar soal burung-burung besi yang kelak akan jadi hiasan abadi di atas langit-langit Menoreh, seperti yang terjadi di langitnya negeri anakonda. Ah, apalah itu. Lebih penting karena aku berjanji tidak akan menghidangkan sop buntut lagi. Aku akan memintanya untuk menyantap tumpeng growol dengan lauk thontho gembut.

Siwi Nurdiani merupakan guru bahasa Indonesia di salah satu sekolah Yogyakarta. Di waktu luangnya ia juga menjadi penulis cerpen.

Komentar