PIGURA

Hoaks Positif

Ahad, 14 January 2018 05:31 WIB Penulis: Ono Sarwono/M-4

KEPALA Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi menjadi perbincangan publik seusai dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (3/1). Itu gara-gara pernyataannya yang mempersilakan masyarakat membuat hoaks atau kabar bohong asal itu membangun.

"Tentu hoaks ini kita lihat, ada yang positif dan negatif. Saya imbau kepada kawan-kawan, putra-putri bangsa Indonesia ini, mari sebenarnya kalau hoaks itu hoaks membangun ya silakan saja," kata Djoko kepada sejumlah wartawan yang mewawancarainya.

Banyak warga geleng-geleng kepala sambil tersenyum hambar mendengar kata hoaks membangun tersebut. Dalam benak masyarakat, hoaks itu tidak baik karena tidak berdasar fakta. Namanya saja kabar bohong, pasti negatif. Realitas menggiriskan itulah yang sesungguhnya terjadi.

Terlepas dari 'kebingungan' itu, bila menengok dunia wayang, hoaks positif itu memang ada. Uniknya, kabar bohong ini dikreasi berdasar fakta bukan ilusi. Ini terjadi saat berkecamuknya perang Bharatayuda.

Strategi cakrabyuha

Alkisah, pasukan Kurawa yang dipandhegani (dikomandani) Durna mengharu biru bala tentara Pandawa. Kemunculan Durna sebagai senapati di Kurusetra membalikkan keadaan. Pandawa yang sebelumnya menguasai pelagan berubah tertekan dan mundur kocar-kacir.

Durna benar-benar berhasil membangkitkan semangat tempur Kurawa dan sekutunya. Sebelumnya, moril mereka kendur pascagugurnya senapati agung Bhisma. Ahli waris sejati Astina itu mati di tangan Srikandi.

Selain sakti mandraguna dan piawai menggunakan berbagai senjata, Durna memang ahli strategi perang. Usia sepuh dan fisiknya yang tidak sempurna, tidak membuat sepak terjangnya serbalambat. Ia bergerak trengginas dan mampu berteriak lantang mengomando pasukan.

Dengan menghunus pusaka Cundamanik, Durna menyihir ribuan tentaranya sehingga patuh mengikuti perintahnya. Tidak ada satu pun yang ragu atau takut bergerak maju menerjang batalyon lawan. Inilah yang mengakibatkan pasukan Pandawa keteteran.

Faktor lain Durna mampu menguasai palagan berkat kecerdikannya menerapkan strategi perang Cakrabyuha. Ini formasi pertempuran berkekuatan ribuan prajurit yang membentuk lingkaran berlapis-lapis.

Dengan strategi itu, laju pasukan Kurawa bak ombak laut yang terus datang bergelombang mengganyang tanpa henti. Kekuatannya sulit dihadang, apalagi ditembus, sehingga ini benar-benar membuat pasukan Pandawa seperti tergulung alun tanpa akhir.

Salah satu korban besar yang diderita di pihak Pandawa dalam alunan perang yang digelar Durna ini ialah Abimanyu alias Angkawijaya. Putra Arjuna yang tinggal di Kesatrian Plangkawati itu terkurung dalam barisan musuh hingga akhirnya gugur mengenaskan.

Kisah Abimanyu menjemput ajal sungguh heroik. Ketika terjebak dalam kungkungan musuh, ia menjadi sasaran empuk senjata lawan. Tak terbilang anak panah meranjab tubuhnya. Dalam kondisi kritis, sambil menggenggam keris pulanggani, Abimanyu tak menyerah dan malah merangkak mengobarkan semangat perang. Salah satu korbannya Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Astina. Derap perjuangan Abimanyu baru terhenti setelah kepalanya dikepruk Tirtanata dengan gada.

Gajah Hestitama mati

Tewasnya Lesmana membuat Duryudana berduka. Namun, di sisi lain ia bangga dan bertepuk dada atas kesuksesan bala tentaranya yang dipimpin Durna. Penguasa Astina itu pun yakin kemenangan akan jatuh ke tagannya. Dengan demikian, kekuasaan Astina dan Indraprastha (Amarta) serta seluruh negara jajahannya akan tetap dalam kepalannya.

Terdesaknya pasukan Pandawa memaksa botohnya, Kresna, berpikir keras. Laju pasukan Durna harus segera dihentikan. Namun, upaya ini tidak gampang sebab Pandawa enggan menghadapi Durna, guru mereka.

Di saat Kresna menyiapkan strategi baru, tiba-tiba tersiar kabar Aswatama mati. Berita yang tidak diketahui asal usulnya itu tersebar ke segala penjuru Kurusetra hingga sampai telinga Durna. Aswatama ialah satu-satunya putra Durna.

Berita itu membuat Durna kehilangan kontrol. Konsentrasi komando perangnya pun kehilangan arah. Pikirannya bukan lagi di medan laga, melainkan terhadap anaknya tersebut. Namun, ia masih penasaran, belum yakin benar Aswatama mati.

Untuk memastikan kebenaran berita itu, Durna berniat bertanya kepada Puntadewa. Ia meyakini salah satu muridnya itu selamanya tidak pernah bohong. Selain itu, sebagai pemimpin Amarta, Puntadewa pasti tahu segala yang terjadi di Kurusetra.

Namun, sebelum kedatangan Durna, Kresna lebih dulu menemui Puntadewa. Ia berpesan kepada adik sepupunya tersebut agar berbicara dengan bijaksana demi kemenangan perang bila sewaktu-waktu ditanya Durna.

Tidak lama kemudian Durna datang. Ia bertanya, apakah benar Aswatama mati di pelagan. Puntadewa, yang dikenal sebagai kesatria berbudi luhur, menjawab bahwa benar Hestitama mati. Namun, ketika ia mengucapkannya, hanya dua kata terakhir yang jelas.

Durna, yang pendengarannya sudah berkurang jauh semenjak digebuki Gandamana kala masih muda, memahami ucapan Puntadewa bahwa Aswatama benar-benar mati. Padahal, faktanya yang mati ialah gajah bernama Hestitama, tunggangan Bogodhenta, tokoh pendukung Kurawa.

Seketika itu, Durna menangis sejadi-jadinya. Dia tampak linglung dan berjalan luntang-lantung di Kurusetra sambil meracau meratapi 'kepergian' Aswatama.

Termakan hoaks

Dalam situasi demikian, senapati Amarta, Drestajumna, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan pedang di tangan ia mendingkik--diam-diam--mendekati Durna. Lalu, secepat kilat ia mengayunkan pedang ke leher Durna sehingga sang senapati Astina itu gugur seketika.

Kisah ini menggambarkan Durna telah termakan oleh hoaks. Ia tidak cermat pula memahami yang terucap oleh Puntadewa yang ia percaya soal kejujurannya. Karena itu, ia membayar mahal, kehilangan nyawa.

Namun, di pihak Amarta, berita bohong yang tersebar di Kurusetra itu menguntungkan. Itulah yang menghentikan laju pasukan Kurawa yang dipimpin Durna. Entah apa jadinya jika tidak ada hoaks tersebut.

Barangkali inilah yang dimaksud hoaks positif, membangun. Namun, poin kisah di atas ialah hoaks diadakan untuk menghancurkan musuh (negara lain) demi kejayaan bangsa dan negara. Bukan mengobral hoaks di rumah sendiri yang bisa mengoyak ketenteraman serta kerukunan saudara sebangsa. (M-4)

Komentar