Internasional

Sebut Afrika Negara-Negara Sampah, Trump Dituntut Minta Maaf

Sabtu, 13 January 2018 18:44 WIB Penulis: Irene Harty

AFP/Joe Raedle/Getty Images

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi pembicaraan khalayak dunia karena dilaporkan menyebut negara-negara Afrika sebagai 'negara-negara sampah'.

Trump dilaporkan meminta alasan penerimaan imigran dari 'negara-negara sampah', setelah anggota parlemen mengangkat isu perlindungan bagi imigran dari negara-negara Afrika, Haiti, dan El Salvador.

"Bahasa yang digunakan oleh saya di pertemuan DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) sangat sulit, tapi ini bukan bahasa yang digunakan," kilah Trump.

Meskipun dia sudah mengonfirmasi lewat Twitter bahwa bukan bahasa itu yang digunakan, kemarahan rakyat Afrika tidak terbendung lagi dan menyebut Trump sebagai presiden rasis dan tidak peduli.

Uni Afrika yang beranggotakan 55 negara itu mengecam ucapan tersebut pada Jumat (12/1) diiringi dukungan duta besar semua negara itu di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menuntut pernyataan dicabut dan permintaan maaf.

Para Duta Besar Kelompok Afrika untuk PBB mengungkapkan mereka sangat terkejut dan dengan keras mengecam ucapan keterlaluan, rasis, dan xenofobia oleh Trump.

Duta besar dengan suara bulat menyetujui resolusi tersebut setelah sesi darurat digelar untuk menimbang ucapan Trump.

"Komentar itu jelas rasis. Ini bahkan lebih menyakitkan mengingat dalam sejarah banyaknya orang Afrika tiba di AS sebagai budak dan sangat mengejutkan karena AS tetap jadi contoh positif besar seperti migrasi menciptakan bangsa," kata juru bicara Ketua AU Moussa Faki, Ebba Kalondo.

Dia menekankan rakyat AS jauh lebih kuat dari hanya satu orang tersebut.

"Anda tidak dapat mengabaikan seluruh negara dan benua sebagai 'sampah' yang memiliki populasi tidak berkulit putih sehingga tidak diterima," kata Juru Bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB, Rupert Colville.

Botswana memanggil duta besar AS dinegaranya untuk memastikan adanya anggapan 'sampah' untuknya.

"Tolong jangan membingungkan pemimpin #shithole yang orang Afrika pilih ... Tanah air kami adalah benua yang paling diberkati namun dieksploitasi oleh kaum imperialis bekerja sama dengan pemimpin sesat dari generasi ke generasi," tulis aktivis Kenya, Boniface Mwangi, di Twitter.

Di Afrika Selatan, Partai Kongres Nasional Afrika yang berkuasa menyatakan 'negara kami bukanlah negara terpencil' dan menggambarkan Trump 'sangat ofensif'.

Juru bicara Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, Ateny Wek Ateny, mengecam komentar tersebut karena 'keterlaluan'.

Senegal pun mengikuti langkah itu lewat Menteri Luar Negeri Sidiki Kaba yang menyatakan dengan tegas mengecam ucapan yang tidak dapat diterima dan melemahkan martabat manusia, terutama di Afrika dan diasporanya.

Namun pandangan yang berbeda datang dari Dakar, ibukota Senegal yakni Administrator, Idrissa Fall menjelaskan perkataan Trump bukan sepenuhnya kesalahan Trump.

"Negara-negara Afrika, dan kadang-kadang para pemimpin kita, tidak berurusan dengan masalah-masalah yang paling buruk, itulah yang membuat orang berimigrasi," katanya.

Komentator terkenal Kenya, Patrick Gathara, mengakui kata-kata Trump bukanlah hal baru.

"Ini tidak berbeda dari apa yang media Hollywood dan media Barat katakan tentang Afrika selama beberapa dekade. Kami secara konsisten digambarkan sebagai orang-orang yang menyebalkan dari negara-negara yang menyebalkan," tuturnya.

Juba, pengusaha Jenny Jore, 31, menyatakan komentar Trump merupakan 'puncaknya'.

"Ini berkat para pemimpin Afrika kita bahwa kita dihina seperti itu," katanya.

Kendati Trump menyangkal, Senator Demokrat Dick Durbin, yang hadir dalam pertemuan tersebut, secara terbuka mengatakan Trump berulang kali menggunakan bahasa 'jahat dan rasis'.

"Trump kemudian mengatakan hal-hal yang dipenuhi kebencian, keji dan rasis. 'Sampah' adalah kata yang digunakan oleh presiden, tidak hanya sekali tapi berulang kali," jelas Durbin.

Kementerian Luar Negeri AS dibebani untuk membereskan hal itu dan kedutaan besar di Afrika Selatan secara langsung menyatakan AS sangat menghormati rakyat Afrika dan tidak ada perubahan dalam dedikasi kami terhadap mitra dan teman di seluruh benua.

Bahasa Trump juga memicu rentetan kritik dari Demokrat maupun Republik. Hillary Clinton, pesaingnya dulu, mengungkapkan pandangan bodoh Trump dan rasisnya pada siapa pun yang tidak terlihat seperti dia.

Ketua DPR, Paul Ryan, dari Republik sangat menyayangkan bahasa Trump yang tidak membantu itu.

Mia Love, anggota Kongres Haiti, menyebut kata-kata itu 'tidak baik' dan 'memecah belah'.

Sementara itu, Tim Scott dari Carolina Selatan, satu-satunya Senator Republik kulit hitam, menyebut jika Trump benar-benar menggunakan kata-kata itu, itu akan 'mengecewakan'. (AFP/OL-2)

Komentar