Megapolitan

Kambuh lagi, Preman Kuasai Parkiran Stasiun Pasar Senen

Sabtu, 13 January 2018 14:00 WIB Penulis:

DOK MI/ARYA MANGGALA

SUARA pengumuman kedatangan kereta bergema di Stasiun Pasar Senen pagi itu.

Meski hari masih pagi, stasiun itu sudah bergeliat.

Para calon penumpang dan orang yang sekadar mengantar atau menjemput hilir mudik.

Titin, yang baru saja turun dari kereta Jayakarta Premium asal Yogyakarta, bergegas menyusuri peron menuju pintu keluar.

Ada dua pintu di stasiun itu, utara untuk pintu masuk kendaraan dan selatan pintu keluar. Dia pun memesan taksi daring di pintu selatan.

"Awalnya saya enggak ngerti kenapa sopir taksi menolak ketika saya minta janjian pesan di situ, minta agak jauh. Tapi saya tetap minta di situ," tutur Titin.

Dengan pandangan mengawasi mobil-mobil yang mendekat, ia pun melewati pintu itu mendekati trotoar.

Saat itu ia menyadari kehadiran seorang pria bertubuh tinggi dan gempal dengan kulit sawo matang berdiri tepat di ujung trotoar memandangnya tajam.

Tak lama, taksi daring yang ditunggunya datang.

Titin bergegas naik ke mobil.

Seketika, pria itu mencegatnya.

"Daripada kenapa-kenapa, sudah, mending kasih aja, biar aman," ucap pria itu seraya meminta uang sebesar Rp10 ribu.

Meski taksi yang dipesan Titin tak parkir, pria itu tetap meminta uang.

Titin pun mengalah karena takut.

"Di Yogyakarta enggak pernah seperti itu," imbuhnya.

Itu jelas pengalaman baru baginya.

Ia baru tahun ini akan menetap di Jakarta.

Kejadian semacam itu bukan baru sekali terjadi.

Para sopir angkutan daring sudah menandai pintu selatan stasiun itu sebagai titik rawan preman.

"Banyak yang pesan ojek online diminta batalin pesanan sama sopirnya kalau minta di pintu selatan," ujar Lia, 43, pedagang minuman di trotoar sekitar area stasiun.

Cerita gerbang selatan stasiun sebagai titik rawan preman juga diakui Irwan, petugas cleaning service stasiun.

"Akhir-akhir ini memang sering ada kasus pemalakan di pintu selatan," ujarnya.

Para preman beroperasi dari pagi hingga malam.

Mereka meminta sejumlah uang sebagai 'ongkos aman'.

Para pengunjung yang warga Jakarta atau yang sudah paham akan aksi pemalakan itu biasanya lebih memilih memesan angkutan daring atau jemputan pribadi di pintu utara, atau bahkan masuk ke area parkir stasiun.

Mereka lebih memilih membayar parkir dan menunggu sopir mencari lahan parkir terlebih dahulu daripada memberikan 'ongkos aman' bagi preman.

"Tapi ya, lebih lama. Kalau yang sedang buru-buru ya jadi repot," ujarnya.

Saat dikonfirmasikan mengenai hal tersebut, Senior Manager Humas PT KAI Daop 1 Edy Kuswoyo mengatakan akan segera menindaklanjuti hal itu.

"Jika sudah sangat meresahkan, akan ditindaklanjuti dengan kerja sama keamanan stasiun beserta TNI-Polri."

Ia juga mengimbau masyarakat segera melapor, tidak saja perkara keamanan, tapi juga kejanggalan apa pun, termasuk soal operasional stasiun. (Inten Soehartien/J-4)

Komentar