Internasional

800 Aktivis Tunisia Ditangkapi

Sabtu, 13 January 2018 10:01 WIB Penulis: Haufan Hasyim Salengke

AFP/Faouzi DRIDI

KERUSUHAN sporadis terus terjadi di berbagai wilayah Tunisia saat pihak berwenang, kemarin, mengatakan lebih dari 800 orang telah ditangkap dalam gelombang demonstrasi yang berlangsung selama sepekan terakhir di negara di Afrika Utara itu.

Aktivis menyerukan aksi demonstrasi besar pada Jumat (12/1) untuk menolak dan mengecam langkah-langkah pemerintah pada awal tahun, yang diperkirakan mendorong kenaikan harga.

Ilmuwan politik Olfa Lamloum menyebut tindakan-tindakan tersebut sebagai 'jerami yang mematahkan punggung unta'.

"Kaum muda kecewa dengan revolusi, terutama karena mahalnya biaya hidup," katanya.

Seorang koresponden AFP di Kota Siliana di utara Tunisia melaporkan polisi menembakkan gas air mata ke puluhan pemuda yang melempari mereka dengan batu selama sekitar tiga jam, kemarin malam.

Namun, situasinya nampak tenang di kota-kota dan lingkungan yang sebalumnya menjadi titik-titik kemarahan masyarakat di seluruh negeri, tempat bentrokan yang melukai puluhan polisi.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Khalifa Chibani mengatakan kepada radio lokal bahwa bentrokan antara pemuda dan polisi 'terbatas' dan 'tidak serius'. Dia juga berkeras bahwa tidak ada tindak kekerasan, pencurian, atau penjarahan yang terjadi pada Kamis (11/1) malam.

"Dua puluh satu anggota pasukan keamanan terluka," ungkap Chibani yang juga mengklaim tidak ada warga sipil yang terluka.

Tunisia dianggap sebagai kisah sukses langka aksi perlawanan Arab Spring yang dimulai di negara itu pada 2011 dan menyebar ke seluruh wilayah, menjatuhkan sejumlah pemimpin otokrat.

Namun, pihak berwenang telah gagal menyelesaikan masalah kemiskinan dan pengangguran, pendorong utama gelombang Arab Spring.

Aksi protes umum terjadi di Tunisia pada Januari, ketika warga merayakan ulang tahun revolusi yang menggulingkan diktator Zine El Abidine Ben Ali.

Kenaikan harga

Kerusuhan dimulai dengan demonstrasi damai pekan lalu yang meningkat menjadi bentrokan dengan polisi dalam semalam, Senin hingga Selasa.

Kerusuhan melanda beberapa daerah termasuk Kota Kasserine, dan Siliana, Tebourba, dan Thala.

Warga Tunisia telah menyatakan frustrasi mereka sejak awal tahun ini karena langkah-langkah penghematan yang diperkirakan dapat meningkatkan harga di tengah kondisi ekonomi negara yang tidak baik.

Tunisia telah memperkenalkan kenaikan pajak pertambahan nilai dan kontribusi sosial sebagai bagian dari anggaran baru yang sulit.

Lamloum menunjuk pada masalah 'mendalamnya ketidaksetaraan sosial' yang disorot oleh tokoh resmi yang menunjukkan meningkatnya kemiskinan, pengangguran, dan buta huruf, terutama di kalangan kaum muda.

Di Tebourba, tempat seorang pria meninggal dalam kerusuhan pertama pada Senin (8/1) sampai Selasa (9/1), suasana suram.

"Kelas politik bertanggung jawab atas semua ini," kata Fatma Ben Rezayel, guru di Tebourba pada Kamis.

"Wilayah ini benar-benar terpinggirkan."

Dia menyesalkan pihak berwenang yang mencap 'para kaum muda yang menganggur yang muak dengan kehidupan buruk mereka' sebagai kriminal.

(AFP/I-2)

Komentar