Humaniora

RI-Tiongkok Tingkatkan Kerja Sama via Film

Sabtu, 13 January 2018 06:51 WIB Penulis: Ind/H-2

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

BADAN Ekonomi Kreatif (Bekraf), Pusbang Film, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, dan Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, bekerja sama dengan Kedutaan Besar RI Beijing dan Red and White Culture Development membuat kolaborasi film Indonesia-Tiongkok berjudul Boundless Love.

Kerja sama tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap industri kreatif film.

Film tersebut bertema tentang cinta pasangan yang berbeda suku dan latar belakang budaya.

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak mengatakan, film itu ialah perwujudan program promosi Shooting Location yang dibawa pada pertemuan bisnis di Shanghai Mei 2017.

"Bekraf mengoordinasikan agar syuting ini bisa terlaksana dan berjalan dengan baik. Agar tidak hanya Tiongkok, tapi negara lain juga tertarik untuk melakukan syuting di Indonesia," ujar Joshua dalam di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin. Turut hadir Staf Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Tiongkok Wang Li Ping.

Menurutnya, Indonesia tidak hanya punya lokasi yang Indah, tetapi budayanya juga menarik.

Hal tersebut bisa menjadi salah satu pengembangan ide untuk membuat film.

Film Boundless Love disutradarai Wang Yiming asal Tiongkok dan melibatkan 77 kru yang 25 di antaranya juga dari negeri tersebut.

Pemeran utama pria ialah aktor Tiongkok, Shen Hao, sedangkan pemeran utama perempuan ialah aktris Indonesia, Putri Ayudya.

Film tersebut juga dibintangi aktor kawakan Ray Sahetapy, dan sederet aktris Tanah Air seperti Nungky Kusumastuti, Maryam Supraba, dan Ade Firman Hakim.

Sejumlah tempat menarik menjadi lokasi syuting film tersebut. Kota Palembang, Sumatra Selatan, dengan ikon Jembatan Ampera dan Sungai Musi dipilih untuk memperkaya cerita film, sedangkan Kota Bandung dipilih karena merupakan tempat awal dibangunnya hubungan Indonesia-Tiongkok melalui Konferensi Asia Afrika.

Joshua menyampaikan, Tiongkok sangat tertarik bekerja sama dengan Indonesia.

Berkali-kali Indonesia melakukan pameran pada festival film di Cannes, Prancis, tetapi hanya sedikit yang dapat diwujudkan menjadi satu kerja sama antarnegara.

Hal itu sangat berbeda dengan Tiongkok.

Sementara itu, Wang Ming mengatakan target pasar bukan menjadi fokus utama, melainkan kebudayaan antarnegara.

Komentar