Internasional

Warga Tuntut Presiden Kuczynski Mundur

Sabtu, 13 January 2018 05:11 WIB Penulis: AFP/Ire/I-2

AFP/Ernesto BENAVIDES

RIBUAN warga Peru, kemarin, turun ke jalan-jalan di seluruh negeri untuk menuntut pengunduran diri Presiden Pedro Pablo Kuczynski setelah dia memberi grasi kepada mantan Presiden Alberto Fujimori.

Demonstrasi yang berujung bentrokan antara demonstran dan polisi itu terjadi dan polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran di ibu kota Lima dan Kota San Isidro.

Di Lima, saat malam tiba, para demonstran masih melakukan aksi mereka dengan dijaga ketat polisi yang berjumlah 5.000-8.000 personel menurut televisi setempat.

Fujimori, 79, menjalani hukuman 25 tahun karena pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan pada masa jabatannya antara 1990 dan 2000. Dia diampuni pada bulan lalu.

Langkah tersebut dilakukan hanya beberapa hari setelah putranya, Kenji, dan anggota parlemen Fujimori lainnya tidak melakukan pemungutan suara atas pemakzulan Kuczynski yang dilihat banyak orang sebagai kesepakatan terselubung untuk menyelamatkan sang presiden dari tuduhan korupsi.

Kuczynski yang mengalahkan putri Fujimori, Keiko, dalam Pilpres 2016 menyatakan dia telah memaafkan mantan presiden tersebut karena alasan kemanusiaan.

Pada hari yang sama, kerabat orang-orang yang terbunuh di bawah kekuasaan Fujimori berkumpul dan mengenakan baju hitam.

Mereka memimpin iring-iringan demonstrasi di pusat Kota Lima, dengan diawasi ketat polisi.

Demonstrasi juga diadakan di Arequipa, Cusco, dan kota-kota lain, menurut media setempat.

"Kucyzinski harus pergi. Dia tanpa malu berbohong kepada orang-orang," kata Veronika Mendoza, mantan kandidat sayap kiri untuk presiden, yang ikut dalam demonstrasi di Cusco.

Artis Carla Coronado yang berpartisipasi dalam demonstrasi di Lima berpendapat tentang grasi, "Kami yakin itu negosiasi politik."

"Kami muak dengan politik seperti biasa dan begitu banyak korupsi di negara ini," tambahnya.

Kerabat korban mengajukan pengampunan Fujimori itu ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Inter-Amerika, yang berada di Kosta Rika dan akan mendengar kasus mereka pada 2 Februari mendatang.

Komentar