Ekonomi

Satgas E-commerce Berantas Penipuan Daring

Sabtu, 13 January 2018 03:21 WIB Penulis: (Mal/E-3)

thinkstock

DIREKTORAT Tindak Pidana Siber (Ditsiber) Bareskrim Mabes Polri membentuk satgas e-commerce untuk menekan angka kejahatan bisnis di dunia maya. Satgas ini juga menggandeng pihak-pihak terkait lainnya, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Financial Technology (Fintech), dan Ikatan Digital Ekonomi. Kasubdit II Ditsiber Bares-krim Polri Kombes Asep Safrudin yang kabarnya akan mengepalai satgas tersebut menyampaikan saat ini banyak terjadi kerawanan atau kejahatan di masyarakat, termasuk pula kejahatan e-commerce, dengan menggunakan kemajuan teknologi finansial (tekfin).

“Kita tahu financial technology ada beberapa celah yang digunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan. Karena di situ banyak terjadi transaksi secara digital yang tentu polisi harus hadir,” kata Asep. Asep melanjutkan akibat kejahatan e-commerce, kerugian konsumen yang terjadi berdasarkan laporan yang diterima polisi sejak September hingga Desember 2017 mencapai Rp2,2 miliar. “Contohnya ialah kasus soal jual beli barang elektronik semisal handphone secara online ataupun barang lainnya. Kasus-kasus seperti itu nantinya bisa diadukan kepada kami,” tutur Asep.

Ia menambahkan, korban penipuan e-commerce yang ingin melakukan peng­aduan bisa melakukannya melalui saluran aplikasi yang nantinya dibuat satgas. Namun, data pengaduan tersebut hanya sebagai database satgas. “Masyarakat tetap membuat laporan resmi kepada polisi. Jadi, menginformasikan dulu (melalui aplikasi), baru ditindaklanjuti dengan membuat LP Bareskrim,” ujar Asep. Terkait dengan pengungkap­an kasus kejahatan e-commerce, ia mengakui terdapat kesulitan karena pelaku dapat menghilangkan identitasnya seusai beraksi. Namun, dengan kerja sama antar-stakeholder, polisi kini dapat memonitor pergerakan akun e-commerce para pelaku.

“Kami sampaikan kepada pelaku-pelaku atau operator, ada teknik dari mereka misalnya jual barang A satu kali, ternyata melakukan penipuan, lalu berikutnya pelaku tidak bisa masuk lagi ke akun tersebut. Nah itu (hasil) kami bekerja sama memonitor akun tersebut,” Asep menegaskan. (Mal/E-3)

Komentar