Nusantara

Polda Jabar Ingin Rekrut Personel dari Kalangan Santri

Jum'at, 12 January 2018 18:46 WIB Penulis: Benny Bastiandy

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

KEPOLISIAN Daerah Jawa Barat memberhentikan 17 personelnya karena terlibat narkotika dan obat-obat berbahaya selama 2017 lalu. Pemecatan itu merupakan bentuk komitmen pemberantasan dan penyalahgunaan narkoba yang saat ini di Indonesia sudah masuk status darurat.

"Tidak tega harus memecat bawahan, tetapi kami lebih baik kehilangan 17 orang daripada harus kehilangan ribuan polisi baik lainnya yang tertular," tegas Kapolda Jabar, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, kepada wartawan saat kunjungan kerja ke Mako Polres Sukabumi, Palabuhanratu, Jawa Barat, Jumat (12/1).

Budi meminta semua pihak harus berkomitmen untuk memberantas narkoba. Masyarakat pun diimbau berani melaporkan jika di tempat tinggal mereka terdapat pengedar maupun pengguna narkoba.

"Jangan takut, laporkan saja ke polisi," ucapnya.

Narkoba bisa menggerogoti siapa pun tanpa melihat status sosial, pangkat, jabatan, maupun usia. Karena itu, lanjut Budi, Polri membutuhkan figur polisi yang tak hanya mampu mengajak masyarakat berkomitmen melawan narkoba, tapi juga harus mampu mengajak masyarakat untuk ikut memberantas narkoba melalui berbagai cara.

"Setiap tahun lebih kurang 500 orang menjadi polisi di Jabar. Saya berharap dari jumlah itu ada yang bisa hafiz Alquran, ya sekitar 20 orang atau 25 orang. Bisa saja dari kalangan santri," jelasnya.

Dengan hadirnya polisi jebolan pondok pesantren, kata Budi, maka mereka diharapkan mampu mengajak masyarakat lebih dekat dengan agama melalui sentuhan lembut dan ilmu agama yang dimiliki. Sehingga lambat laun masyarakat akan menjauh dari jeratan narkoba.

"Saya sudah instruksikan seluruh kapolres di Jabar untuk keliling ke sekolah dan juga ponpes. Jaring para santri yang hafiz Alquran untuk mendaftar jadi polisi. Tapi tentu saja harus menempuh prosedur yang ditentukan," tandasnya. (OL-2)

Komentar