Internasional

Eropa Selatan Bersatu Hadapi Imigran

Jum'at, 12 January 2018 13:30 WIB Penulis: Haufan Hasyim Salengke

KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

PEMIMPIN tujuh negara Eropa selatan, kemarin, berjanji meningkatkan upaya mereka dalam upaya mengatasi salah satu duri paling tajam yang dihadapi Uni Eropa, yaitu arus imigran dari negara-negara yang dilanda perang dan negara-negara miskin.

Pemimpin Siprus, Prancis, Yunani, Italia, Malta, Portugal, dan Spanyol bertemu di Roma, Italia.

Mereka mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyatakan mereka 'benar-benar berkomitmen terhadap kebijakan bersama Eropa mengenai imigrasi'.

Kelompok yang disebut Southern Seven itu menghadapi masalah-masalah, seperti masa depan zona euro dan upaya untuk mendorong pertumbuhan.

Namun, karena ketujuh negara itu menjadi tempat mendaratnya imigran asal Afrika, topik utama pertemuan mereka kali ini ialah para imigran.

Ketujuh negara itu berada di garis depan dalam menghadapi arus kedatangan imigran di tengah keengganan beberapa negara Eropa--seperti Polandia atau Republik Ceko--untuk berbagi beban menerima para imigran.

"Kita harus berjuang bersama untuk menerapkan kebijakan migrasi yang menunjukkan solidaritas dengan negara-negara yang menerima arus signifikan ini," kata Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengecam 'ketidakkonsistenan' peraturan suaka Dublin di Eropa yang memaksa negara-negara yang menjadi titik kedatangan di Eropa untuk mengatasi krisis tersebut.

Sementara itu, bagi Italia, 2017 ialah titik balik. Setelah mereka menerima pendatang berskala besar selama enam bulan pertama, terjadi penurunan tajam jumlah imigran berkat adanya kesepakatan kontroversial di Libia.

Sekitar 119 ribu orang mendarat di Italia pada tahun lalu, turun 35% dari 2016.

Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni membual, "Hasil yang menggembirakan dalam mengendalikan arus migran dan perang melawan perdagangan manusia."

Ia pun mendesak Eropa untuk memastikan capaian-capaian saat ini segera dikonsolidasikan.

Berbeda dengan Italia, Spanyol mengalami peningkatan yang signifikan soal imigran dari Aljazair dan Maroko.

Dari 6.000 orang yang melintasi persimpangan pada 2016, jumlahnya meningkat hampir 23 ribu pada tahun lalu.

Di Yunani, sebuah kesepakatan antara Uni Eropa dan Turki membatasi jumlah pendatang hingga 28.800 jiwa, enam kali lebih sedikit ketimbang 2016.

Namun, hal itu tidak menyelesaikan masalah untuk merawat mereka yang telah kadung tiba.

Tenggelam

Jumlah korban tewas atau hilang di Laut Mediterania turun dari hampir 5.000 orang selama penyeberangan pada 2016 menjadi 3.116 pada 2017, sebagian besar di lepas pantai Libia.

Namun, pada awal 2018, beberapa statistik suram telah mencuat.

Antara 90 dan 100 migran hilang setelah kapal darurat mereka tenggelam di Libia, kata angkatan laut negara itu, Selasa (9/1) malam.

Sejumlah 10 migran juga meninggal akhir pekan lalu dan puluhan lainnya hilang setelah kapal mereka tenggelam.

Menteri Dalam Negeri Italia Marco Minniti, pria di balik kesepakatan yang didukung Brussels dengan Libia untuk melarang migran berangkat ke Eropa, telah mendesak Uni Eropa untuk mengikuti Roma terkait dengan koridor kemanusiaan. (AFP/I-2)

Komentar