Kesehatan

Perbanyak Spesialis Kedokteran Emergensi

Rabu, 10 January 2018 10:26 WIB Penulis:

THINKSTOCK

DI ruang unit gawat darurat (UGD) sebuah rumah sakit, ada pasien kritis yang hanya memiliki sedikit waktu. Lalu, para dokter dan petugas medis yang bekerja berhasil menstabilkan pasien tersebut. Setelah pasien stabil, dokter di UGD pun segera merujuk pasien ke bagian spesialis lain sesuai dengan kondisi medis pasien.

"Itu merupakan suatu kepuasan tersendiri untuk saya dan para dokter UGD umumnya bila berasil menstabilkan pasien dari kondisi kritis," ujar Kepala UGD RS Atmajaya, dr Lita Bestari SpEM, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Menurut spesialis kedokteran emergensi (emergency medicine) itu, pelayanan UGD 24 jam amat vital bagi pasien darurat, seperti korban kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, dan penyakit akut. Untuk itu, kemampuan dan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik di lingkup UGD sangat penting untuk memaksimalkan kondisi pasien.

"Itulah sebabnya, kehadiran dokter umum merupakan ujung tombak penanganan kasus kegawatdaruratan. Dokter jaga di UGD menjadi frontline penanganan kondisi gawat darurat," tambah anggota Perhimpunan Dokter Ahli Emergensi Indonesia (Perdamsi) itu lagi.

Dalam hal itu, lanjut Lita, mereka dituntut agar sigap dan tepat mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien. Dokter UGD pun terkadang ditantang melakukan tindakan medis yang mungkin lebih dari apa yang seharusnya menjadi kewajiban mereka.

"Di situlah timbul suatu gagasan atau pionir untuk meningkatkan pelayanan UGD di Indonesia melalui suatu program Kedokteran Emergensi (Emergency Medicine). Program tersebut diharapkan mampu memberikan penanganan maksimal bagi pasien serta merangkul seluruh dokter di RS mulai dari dokter umum hingga spesialis," jelas Lita. Lebih lanjut, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur itu mengatakan, Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Emergency Medicine (PPDS EM) di Indonesia baru ada di FK Unibraw yang diresmikan pada 2003.

Pendidikan kedokteran emergensi, lanjutnya terdiri dari basic emergency (BE) dan advanced emergency (AE). BE memiliki sistem pembelajaran yang sama dengan program pendidikan dokter umum, hanya lebih fokus di UGD.
"Pada AE para dokter ditempatkan di UGD RS jejaring di daerah. Berbeda dengan di Indonesia, dokter spesialis kedokteran emergensi di luar dapat melakukan operasi di UGD. Mereka sudah memiliki subspesialisasi masing-masing, misalnya melakukan pembedahan untuk kasus gawat darurat," jelas Lita lagi.

Ia menambahkan, spesialis kedokteran emergensi belum diakui secara resmi, meskipun sedang dalam proses pengesahan oleh Kemenristek
Dikti dan dengan dukungan IDI. Lita pun berharap suatu saat nanti spesialis kedokteran emergensi dapat dinilai setara seperti spesialis lainnya dan semua perguruan tinggi dapat membuka prodi spesialis kedokteran emergensi, yang tentunya akan banyak mencetak dokter-dokter spesialis kedokteran emergensi yang mampu membawa perubahan pada layanan sistem kegawatdaruratan di Indonesia secara holistik. (Jeremy/X-7)

Komentar