Kesehatan

Jangan Remehkan Kekurangan Vitamin D

Rabu, 10 January 2018 10:22 WIB Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani

THINKSTOCK

TREN menghindari paparan sinar matahari demi memiliki kulit putih dapat menjadi salah satu pemicu minimnya asupan vitamin D pada tubuh. Padahal, tubuh membutuhkan vitamin D yang cukup sejak dini. Selain akibat menghindari paparan sinar matahari, kekurangan asupan makanan yang baik juga berpotensi menimbulkan kekurangan vitamin D. Kondisi akan lebih parah jika keduanya terjadi.

Seperti yang dialami Ajeng, 39. Ia menderita kekurangan vitamin D hingga separuh dari kadar normal dalam tubuhnya. Perempuan yang rajin berolahraga pada malam hari itu mengaku selain jarang terpapar sinar matahari pagi, bertahun-tahun ia menghindari beberapa jenis makanan yang dianggapnya dapat meningkatkan kadar kolesterol di tubuhnya.

Padahal, tanpa disadari, makanan dan minuman yang ia hindari merupakan makanan yang banyak mengandung vitamin D. Tidak mengherankan bila kemudian ia mengeluh tubuhnya kerap merasa pegal, mood-nya kurang baik, bahkan rambut hitamnya rontok dalam jumlah yang tidak normal. Awalnya ia tidak menyadari vitamin D dalam tubuhnya mengalami defisit. Ia kemudian berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit dalam dan menyampaikan semua keluhannya.

Setelah dokter meminta Ajeng melakukan pemeriksaan darah di laboratorium, hasilnya menunjukkan ia mengalami kekurangan vitamin D. Selanjutnya, ia harus mengonsumsi penunjang vitamin D khusus yang diberikan dokter selama enam bulan. Menurut dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Cibubur Ferdinand Andy Kasim, vitamin D diperlukan tubuh bukan hanya untuk kesehatan tulang dan gigi, melainkan juga untuk mencegah berbagai dampak turunan lain yang mungkin terjadi pada tubuh.

"Saat ini semakin banyak studi yang mengemukakan kaitan antara kekurangan vitamin D dan beberapa gejala penyakit yang selama ini belum diketahui bahwa salah satu potensi penyebabnya akibat kekurangan vitamin D," katanya, Senin (8/1).

Menurutnya, beberapa penyakit yang diakibatkan kekurangan vitamin D ialah gangguan pada kekenyalan pembuluh darah tubuh hingga gangguan kecemasan yang berujung depresi. Meski jarang terjadi, kondisi tersebut dapat muncul bila kadar kekurangan vitamin D pada tubuh sudah sangat parah dan berlangsung dalam waktu yang lama. "Bila kondisinya sudah demikian, terapinya akan memakan waktu lama. Paling tidak selama enam bulan penderita kekurangan vitamin D harus dibantu dengan penunjang vitamin D khusus yang diberikan dokter," ujar Ferdinand.

Ia mengungkapkan, beberapa gejala kekurangan vitamin D sebenarnya mudah dikenali. Mulai rasa pegal pada tubuh, mudah lelah, lesu, hingga perasaan muram. Namun, gejala-gejala tersebut umumnya selalu dianggap sebagai gejala tubuh yang biasa dan tidak dihiraukan lebih jauh oleh pasien.
"Malah kalau di sini (Indonesia) rasa pegal sedikit dicurigainya sebagai akibat kolesterol atau asam urat. Padahal, kolesterol, misalnya, sebenarnya justru tidak ada gejalanya," kata Ferdinand.

Olahraga pagi

Ia juga mengatakan semua golongan manusia memiliki potensi kekurangan vitamin D bila kekurangan asupan makanan yang baik serta kurang paparan sinar matahari pagi. Namun, umumnya perempuan menjadi lebih rentan karena keengganan mereka untuk terkena paparan matahari rata-rata lebih besar bila dibandingkan dengan laki-laki. Selain itu, tambahnya, perempuan yang telah melahirkan juga berpotensi kekurangan vitamin D dalam jumlah besar. Hal itu terjadi karena selama hamil asupan vitamin D yang seharusnya diserap tubuh terbagi dua.

Namun, menurut Ferdinand, secara umum manusia akan mulai kekurangan vitamin D ketika memasuki usia 35 tahun. Oleh karena itu, apabila setelah usia 35 tahun mulai merasakan gejala pegal pada tubuh, mudah lelah, lesu, dan perasaan muram, orang harus mencurigai akibat kekurangan vitamin D.
"Kalau ada gejala-gejala tersebut, harus mulai dicurigai salah satu pemicunya akibat kurangnya vitamin D," katanya.

Untuk menghindari kekurangan vitamin D, Ferdinand mengatakan, tubuh harus diberi asupan vitamin D yang cukup secara konsisten sejak dini. Selain dari asupan seimbang dan konsumsi susu, melakukan aktivitas di bawah sinar matahari pagi secara rutin juga sangat dianjurkan.

"Aktivitas olahraga pada pagi hari sangat baik, setidaknya sampai sebelum pukul 8 pagi, kalau tidak ingin terpapar berlebihan," tuturnya. Sementara itu, untuk menghindari dampak yang lebih parah akibat kurangnya vitamin D pada tubuh, pemeriksaan dapat dilakukan bersamaan dengan medical check up. Pemeriksaan kadar vitamin D dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah. Dari sana, besaran kekurangan vitamin D akan dapat terukur untuk kemudian dapat ditentukan terapi yang akan diberikan. (H-2)

Komentar