Tifa

Manifestasi Suara Perempuan dalam Rajutan

Ahad, 7 January 2018 08:58 WIB Penulis: */M-2

DOK. GALIH AGUS SAPUTRA

SIANG itu, pemandangan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, tidak tampak seperti biasanya. Berbagai macam instalasi seni yang terbuat dari bahan rajutan disusun sedemikian rupa untuk menghiasi ruangan di Galeri Cipta III.

Rajutan itu berisi suara para perempuan buruh rumahan. Misalnya, pada rajutan yang membentuk tulisan 'Apa Bedanya Upah Sama Gaji?', kemudian 'Mau Harian atau Borongan?', serta pada tulisan 'Tulang Punggung' yang ukurannya lebih besar ketimbang lainnya, dan di bawahnya terdapat kursi goyang berbalut rajutan dengan berbagai macam warna. Menurut Kurator Proyek Seni Perempuan Perupa (PSPP) 2017, Angga Wijaya, suara yang dirajut pada permukaan bantal, kain ayunan, dan kursi goyang itu merepresentasikan 'ruang istirahat' yang selalu dilawan buruh rumahan.

Di samping itu, dahulu aktivitas merajut atau menyulam sering dianggap sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang dan dilihat sebagai paragon kebijaksanaan. Namun, melalui pameran bertajuk Tulang Punggung: Relasi Industri terhadap Buruh Perempuan, kegiatan merajut dan meyulam telah melampaui domestifikasi dan menjadi political statement untuk menyuarakan persoalan perempuan secara lebih luas dan bersama-sama.

"Ada 200 perempuan dari berbagai kota dan kelompok yang berpartisipasi. Mereka membuat semacam gerakan berantai dengan tema perempuan dan pekerjaan hingga menjadi suatu rangkaian yang dapat kita saksikan ini," imbuh lulusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta itu.

Tulang pungggung

Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merasa perlu menyoroti persoalan tersebut. Ketua Komite Seni Rupa DKJ Mia Maria berharap PSPP terus berlanjut agar dapat mengangkat kekuatan perempuan dalam membangun komunitas dan menjadi tulang punggung dalam pengembangan budaya.

"Dari gugus yang terkecil yaitu keluarga sampai pengembangan budaya bangsa," tuturnya. Dua gerakan kolektif perempuan yaitu Rajut Kejut dan Buka Warung turut digandeng dalam PSPP 2017. Keduanya juga bekerja sama dengan Trade Union Right Center (TURC) untuk melakukan penelitian, penulisan buku, dan mendapatkan akses ke sejumlah serikat buruh.

Pameran Tulang Punggung: Relasi Industri terhadap Buruh Perempuan turut diperkaya dengan berbagai macam kegiatan seperti lokakarya bersama perempuan buruh rumahan dan diskusi yang membahas persoalan terkini terkait dengan relasi industri dan perempuan. Pelaku sekaligus pengamat politik perempuan Ruth Indah Rahayu dan aktivis Lembaga Informasi Perburuhan Sadane Syarif Arifin turut diundang untuk memantik diskusi bertajuk Relasi Industri terhadap Konteks Perempuan Pekerja Saat Ini.(*/M-2)

Komentar