Jeda

Piknik Kekinian, Kaya Pengalaman

Ahad, 7 January 2018 08:04 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi

Dago Dairy Bandung -- MI/Susanto

WALAU waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, udara masih terasa sejuk. Laju gerobak sapi yang dikemudikan sang bajingan, sebutan warga Desa Tirtoadi, Sleman, Yogyakarta, untuk menyebut kusir, melewati jalanan desa yang berkerikil.

Gerobak sempat melewati pinggiran Selokan Mataram, kanal irigasi yang menghubungkan Kali Progo di barat dan Sungai Opak di timur. Berbagai aktivitas masyarakat desa kami nikmati di tengah jalannya gerobak nan lambat. Petani di sawah, kebun cabai, kacang panjang, perajin batu bata, hingga pembuatan gatot, ketela yang dijemur dan kependekan gagal total, karena pada masa lalu lazim disantap ketika gagal panen.

Pengalaman kian seru karena para penumpang gerobak sapi, sang bajingan serta pelancong, mengenakan pakaian tradisional Jawa ala masyarakat desa, pria dengan lurik dan kain, sedangkan perempuan berkebaya dengan selendang. Kegiatan ini menjadi salah satu atraksi wisata andalan di Omah Kecebong, destinasi yang tengah hit di Yogyakarta. Di lahan seluas 1 hektare, berbagai kegiatan menghibur dan sarat pembelajaran dijual, mulai mengenakan pakaian tradisional dan berjalan-jalan dengan bajingan, membuat wayang suket, membatik, menikmati pijat ala Jawa, hingga menikmati sajian tradisi dapur masyarakat Tirtoadi.

Tanpa disertai panorama dan bentang alam yang instagramable, Omah Kecebong percaya diri menyajikan pelesir kaya pengalaman.

"Saya sejak awal memang ingin membuat tempat untuk pelestarian budaya dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Saya ingin membuat budaya dihormati dan dinikmati serta semakin menyejahterakan masyarakat sekitar," kata Hasan S Prayogo, pemilik Omah Kecebong.

Membangkitkan kultur bajingan

Aksi sang bajingan dan gerobak sapi, kata Hasan, telah mampu menghidupkan lagi tradisi gerobak sapi yang perlahan punah. Gerobak yang semula dimanfaatkan petani untuk alat angkut pertanian kini menjadi kendaraan, pun latar wisatawan berjalan-jalan berfoto.

Manfaat pun bergulir. Masyarakat lokal pun mendapatkan manfaat. Para pemilik mendapat pemasukan per bulan Rp40 juta, pun paguyuban mendapat donasi Rp1,5 juta-Rp2 juta, sedangkan pihak desa mendapat uang kebersihan Rp15 ribu per gerobak.

"Omah Kecebong dibangun mulai September 2014 hanya untuk memanfaatkan tanah 500 meter persegi untuk kebun hortikultura yang ada fasilitas menginap. Saat itu saya prihatin dengan pendirian hotel-hotel di Yogyakarta," kenang dia.

Hotel-hotel di perkotaan, kata Hasan, terasa kering. Ketika orang berlibur dan menginap, mereka hanya akan melihat tembok dan beton. Hasan pun tergugah membuat tempat berlibur sekaligus lokasi menginap dengan suasana perdesaan. Begitu bangun tidur, langsung terasa suasana perdesaan, aroma sawah, suara ayam, dan tokek.

Omah Kecebong dibangun bertahap. Awalnya kebun hortikultura dengan tanaman langka, seperti mamey sapote, ceri dari spanyol, dan black sapote alias sawo hitam. "Pada Januari 2015, saat awal merintis, kebetulan ada empat orang Italia naik sepeda dan lewat di Omah Kecebong. Saat itu masih kebun dan belum ada rumah, hanya tempat singgah. Melihat ada rumah dan suasana perdesaan di tengah sawah, mereka mengatakan, jika tempat tersebut dikembangkan dengan aktivitas, akan mengundang banyak orang datang," cerita dia.

Perkataan orang Italia tersebut menjadi pemacu Hasan mengembangkan Omah Kecebong. Jika awalnya orang datang untuk membeli tanaman, Hasan mulai menjual minuman dan makanan dengan tempat terbatas, maksimal untuk 10 orang.

Kapasitas terus berkembang hingga memuat 100 orang dan penginapan pun mulai dibangun. Awalnya 500 meter persegi. Omah Kecebong diperluas hingga kini mencapai 1 hektare dengan menyewa tanah-tanah sekitar.

"Menteri Pariwisata, Arief Yahya, pada Mei 2016 pernah menginap di Omah Kecebong. Katanya, bisa mendengarkan konser kodok di sini," terang dia.

Panorama desa yang autentik dengan bangunan-bangunan dari kayu dan bambu dipadukan dengan aneka sajian lokal, seperti lompong, gatot, hingga tiwul.

Wirausaha sosial

Kini, sebulan hampir 1.000 orang menjelajah Tirtoadi di Omah Kecebong. Mereka ialah pelancong keluarga pun peserta piknik dari perusahaan atau komunitas, dari Jakarta, Surabaya, Medan, dan Palembang hingga turis asing, sebagian besar dari Prancis dan Belanda.

"Kini kami memiliki 40 karyawan dari masyarakat sekitar," kata Hasan yang mengaku pengembangan Omah Kecebong mengaplikasikan konsep wirausaha sosial, mengedepankan pemberdayaan masyarakat setempat. Mereka dilibatkan dalam setiap kegiatan.

Nyatanya, bukan cuma menebar kebahagiaan dan inspirasi bagi para pengunjung, Hasan yang mantan profesional di Jakarta itu merasa meraih pencapaian pun kebahagiaan. "Ternyata kehidupan tidak hanya mengejar hal-hal duniawi. Saya harus kembali ke desa dan lebih bermanfaat lagi," ujar pria yang pernah menjabat Project Manager Tour de Singkarak 1 hingga 6 itu.

Kunci buat bermitra dengan masyarakat, kata Hasan, ialah ketulusan. "Saya meyakinkan masyarakat, tulus untuk ikut membangun desa dan tidak ada tujuan merusak alam. Saya ingin bisa baik dan bermanfaat. Memang ada kalanya sulit, tetapi selalu diberi jalan," kata Hasan.

Inovasi sebagai pembeda

Ketika piknik telah jadi identitas kaum urban, lanjut Hasan, optimisme pelaku industri pariwisata mesti dibarengi dengan inovasi. Jangan sampai Yogya menjemukan, banyak tujuan wisata tapi tidak punya inovasi," kata Hasan yang mengagendakan mengelola 2 hektare kebun hortikultura untuk menawarkan pembelajaran soal alam sekaligus lahan berkemah serta miniatur tanaman Indonesia.

Pelesir bermakna

Riuhnya liburan kaum urban, kata Devie Rahmawati, Dosen Tetap Program Komunikasi Vokasi Universitas Indonesia, mestinya tak cuma meninggalkan jejak di media sosial.

"Agar para pecinta perjalanan dapat pengalaman yang sarat makna, ada rumusannya, yaitu 3P, yaitu photo, people, dan places, sehingga bukan cuma bersenang-senang, melainkan juga berkontribusi," ujar Devie.

Photo, kata Devie, bermakna tidak hanya berisi foto diri atau swafoto, tetapi juga lingkungan sekitar tempat yang kita kunjungi. Mulai budaya masyarakat sekitar hingga aktivitas fisik penduduk lokal. "Ini penting untuk menjadi narasi sekaligus dokumentasi sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi orang yang belum bepergian ke sana dengan pembanding pada kenyataan sehari-hari di tempat masing-masing," kata Devie.

Sementara, prinsip people diimplementasikan dengan berbicara pada orang lokal. "Sempatkan berdialog untuk memperoleh kesan dan catatan nyata tentang denyut kehidupan yang tidak akan tertangkap oleh kamera video sekalipun," kata Devie.

Berbicara dan berinteraksi langsung dengan warga lokal, kata Devie, akan memberikan gambaran utuh yang membuat kita semakin mencintai Indonesia, pun menjadi masukan tentang fakta sosial di tempat tersebut.

Pada prinsip places, kata Devie, ada beberapa tempat wajib yang harus dikunjungi ketika bepergian ke tempat lain. Pertama, museum, kita dapat memperoleh ringkasan bagaimana sejarah masa lalu masyarakat di tempat yang kita kunjungi.

Kedua, universitas atau sekolah untuk dapat melakukan proyeksi bagaimana masyarakat ini dimasa datang. "Karena segala inovasi masa depan dimulai dari sekolah atau universitas." Yang ketiga, lanjut Devie, pasar lokal, untuk memperoleh informasi masa kini dari perilaku masyarakat lokal. Yuk, piknik! (Wnd/M-1)

Komentar