WAWANCARA

Bambang Brodjonegoro : Optimistis Membangun di Tahun Politik

Ahad, 7 January 2018 07:57 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/ BARY FATHAHILAH

PEMERINTAHAN Jokowi terkenal dengan beragam proyek pembangunannya yang hampir merata di seluruh negeri. Jargon Membangun dari Pinggiran pun nampaknya sukses dilakukan karena beragam proyek pembangunan infrastuktur tidak hanya fokus di Pulau Jawa. Meskipun begitu, beragam pembangunan yang dilakukan tidak selamanya berjalan mulus dan penuh dengan tantangan.

Apalagi di 2018, aura politik akan semakin kuat menjelang pilkada serentak tahun ini maupun persiapan pilpres tahun depan. Bagaimana evaluasi pembangunan yang dilakukan Pemerintah selama 3 tahun terakhir? Bagaimana strategi pembangunan Pemerintah dalam memasuki tahun politik 2018? Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro di kantornya, Senin (18/12/2017).

Bagaimana evaluasi pembangunan yang dilakukan dalam 4 tahun terakhir, Apa saja pencapaian dan hambatan yang dihadapi selama ini?

Pertama, kalau kita lihat dari evaluasi paruh waktu dari RPJMN, kalau kita bagi tiga warna, hijau, kuning, dan merah. Hijau itu artinya on track dan pasti tercapai. Kemudian, kuning itu masih butuh upaya lebih untuk mencapainya, dan merah itu sulit tercapai. Kalau kita lihat persentasenya yang paling tinggi ialah yang hijau, jadi kebanyakan sudah on track sesuai target itu di atas 50%. Kemudian, yang kuning sekitar 30% yang masih butuh usaha lebih, dan yang merah itu di bawah 10%. Salah satu contoh yang merah adalah pertumbuhan ekonomi, karena targetnya itu 7%, sedangkan sekarang pertumbuhan ekonomi kita kan rata-rata 5%. Tapi yang lain-lain tercapai. Dalam sisa 2 tahun ini kita harus memastikan yang hijau tetap hijau, yang kuning berubah jadi hijau, dan yang merah bisa seminimal mungkin.

Hambatan-hambatan apa saja yang dirasakan selama 3 tahun terakhir?

Hambatan utama tentunya masalah kecepatan dari pelaksaan proyek. Ada hambatan di awal misalnya masalah tanah dan perizinan. Ada pula karena target yang terlalu tinggi saat ditetapkan di awal. Jangan lupa ekonomi kita ialah bagian dari ekonomi global pasti ada pengaruh global yang membuat ekonomi kita sulit untuk tumbuh lebih cepat.

Lalu bagaimana rencana pembangunan pemerintah di 2018, mengingat sudah memasuki tahun politik dan ada 2 provinsi besar yang juga menyelenggarakan pilkada di tahun ini?

Melihat 2 pilkada terakhir secara umum, sebenarnya Indonesia sudah menjadi negara demokrasi yang cukup mapan. Pemilunya relatif damai dan aman walaupun ada ramai-ramai sifatnya localized. Jangan lupa kalau kita bicara pemilu, partainya 12 yang tercatat sebagai peserta dan jumlah 12 ini cukup banyak, artinya tidak ada pertarungan antarideologi A versus ideologi B karena 12 partai ini punya paham masing-masing yang sebenarnya perbedaannya tidak terlalu kontras, sehingga potensi keributan antarpartai itu kecil.

Mungkin yang agak seru dari segi (pemilu) presiden. Kalau melihat pengalaman 2 pemilu sebelumnya, yang terjadi justru adanya dampak positif dari pemilu terhadap pertumbuhan ekonomi, ditambah ada pilkada meskipun lebih kecil skalanya tapi tetap ada sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi. Ada peningkatan konsumsi yang membutuhkan produksi, jadi ekonominya tumbuh, tapi permintaan itu hanya sesaat. Makanya data konsumsi kita dipisah antara yang rumah tangga dengan yang nonrumah tangga. Nonrumah tangga ini yang biasanya mencakup konsumsi untuk politik.

Bagaimana dengan ketimpangan dan kemiskinan saat ini apa sudah ada faktor penurunan? Faktor-faktor apa saja yg menjadi penyebabnya?

Indeks kita pada 2011 lompat ke 0,41, bahkan sempat naik ke 0,42 di tahun-tahun setelahnya. Justru di 2016 ini baru turun di bawah 0,4. Angka 0,4 ini seperti angka psikologis karena dia menunjukan apakah ketimpangan ini perlu diwaspadai atau tidak. Saya lihat di 2016, 2017 ini sudah cukup stabil di bawah 0,4 meskipun masih tipis. Kita harapkan dengan adanya perbaikan terutama di Program Keluarga Harapan, bantuan tepat sasaran, perbaikan akses usaha, dan akses keuangan, kita harapkan dapat ke 0,38 di 2018. Sebenarnya target kita di RPJMN 2019 ialah 0,36 cuma kita lihat apakah benar-benar bisa sampai ke 0,36 atau masih di atasnya.

Apa rencana pemerintah menghadapi segala perubahan yang terjadi begitu cepat yang mengarah pada disrupsi ekonomi?

Kita sedang melakukan kajian, pertama melihat sebenarnya dampak dari keberadaan digital ekonomi terhadap pola konsumsi. Jadinya pasti akan ada perubahan dan ada yang merasa penjualan turun, padahal daya belinya mungkin sama, cuma uang yang dipakai dulu untuk barang sekarang untuk jasa. Di satu sisi kita melihat konsumsi pendidikan, kesehatan, dan rekreasi, tumbuh di atas pertumbuhan konsumsinya sendiri di mana tumbuh 5,3%-5,4%, sedangkan konsumsinya tumbuh 4,93%. Kalau makanan pertumbuhannya 5%, yang agak di bawah itu ialah pakaian dan itu juga pengaruh dari perayaan Lebaran yang bergeser dari triwulan 3 di tahun sebelumnya menjadi triwulan 2 di 2017. Jadi kami melihat bahwa perubahan pola konsumsi akan terus terjadi dan peran digital ekonomi semakin besar lalu size dari kelas menengah yang didalamnya terdapat kelompok milenial itu akan semakin besar, kalau sekarang perkiraan kami jumlahnya 40 juta kelas menengah maka di tahun 2045 kelas menengah sudah 250 juta jumlahnya.

Bagaimana pemerintah melihat generasi milenial, adakah kekhawatiran tersendiri, mengingat begitu dinamisnya perubahan yang terjadi, bahkan ada penelitian yang menyebut bahwa generasi millenial nantinya akan bekerja pada pekerjaan yang belum ada?

Memang kami sedang mengkaji jenis-jenis pekerjaan yang paling terancam dari adanya digital ekonomi dan artificial intelligent (AI), karena itu mulai kita persiapkan dari sekarang pastinya ialah skill yang harus diperbaiki. Contohnya ialah pendidikan vokasi, yakni bukan hanya sekedar memperbaiki sekolah SMK, melainkan yang paling utama ialah menyiapkan tenaga kerja yang siap dapat menyesuaikan dengan digital ekonomi, meskipun beberapa pekerjaan tidak dapat digantikan dengan digital ekonomi seperti akuntan, lawyer, itu tidak dapat tergantikan. Nanti kita akan lihat seberapa jauh peran dari digital ekonomi menggantikan peran manusia dan bagaimana peran manusia yang baru atau jenis pekerjaan apa. Kalau untuk Indonesia menurut saya, kalau ancamannya lebih kepada yang bekerja misalnya kaum profesional yang bisa terancam oleh digital ekonomi, akan lebih banyak untuk kita dorong menjadi entrepreneur. Kita perlu menambah wirausahanya supaya wirausaha dan profesional inilah yang nanti menjadi motor penggerak dan mereka bisa beradaptasi dengan digital ekonominya sendiri.

Target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4%. Bagaimana cara pemerintah mencapainya?

Kuncinya pertama konsumsi harus dijaga 5%, jadi yang kemarin sempat 4,93% itu harus didongkrak lagi ke 5% dan modalnya ada karena inflasi kita rendah. Pemerintah juga mendorong padat karya yang juga nanti akan berpengaruh pada konsumsi, dan juga kita akan makin memperbaiki bantuan pemerintah yang tepat sasaran tapi yang juga akan berpengaruh pada daya beli rumah tangga. Konsumsinya harus 5% kemudian investasi harus 7%. Jadi kita melihat setelah orang beli mesin atau impor mesin itu artinya siap investasi, artinya pertumbuhan investasi kita prediksi akan terus membaik ke depannya. Ekspor selama harga komoditas tidak mengalami guncangan masih punya peluang untuk tumbuh cukup baik. Itulah yang kita harapkan bisa menjadikan pertumbuhan ekonominya 5,4%.

Bagaimana arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan? Hal-hal apa saja yang akan menjadi prioritas dan bagaimana koordinasi dengan lembaga terkait?

Investasi ialah kunci dari pertubuhan ekonomi kita ke depan. Investasi apapun in general, termasuk investasi infrastruktur, investasi pertanian, yang penting investasi bukan konsumsi. Konsumsi juga penting karena terkait dengan daya beli masyarakat, tapi yang harus dipercepat ialah investasi. Oleh karena itu, tidak ada kata menunggu untuk memperbaiki sektor investasi karena harus cepat diperbaiki agar investor mau datang.

Sejauh mana sinkronisasi antara perencanaan dan anggaran?

Sinkronisasi perencanaan anggaran intinya kita ingin memastikan yang namanya program prioritas itu nantinya benar-benar jalan. Selama ini sudah ditentukan program prioritasnya nanti waktu penganggaran tidak masuk penganggaran atau hanya masuk separuhnya, sehingga ketika delivery, output yang diharapkan tidak tercapai. Kita tidak mau seperti itu karena seolah-olah perencanaannya gagal, padahal perencanaan tidak ter-deliver dengan baik di tahap pelaksanaan. Karena itulah diperlukan sinkronisasi penganggaran agar dalam melaksanakan program-program priorotasnya sesuai dengan anggaran yang diinginkan baik dari segi jumlahnya, coverage, dari situ baru kemudian kita berharap dapat output yang sesuai dengan harapan. Kalau ketika pelaksanaan melalui penganggaran sudah dipotong-potong atau diganti, nanti output-nya tidak tercapai. Jadi sinkronisasi ialah antara yang sudah direncanakan dengan output itu bertemu. Di 2018 kita harapkan bisa berjalan benar-benar baik.

Bagaimana pandangan Anda soal pertumbuhan online ritel di Indonesia sekarang ini, apakah dampaknya memang ada pada pendapatan ekonomi nasional, atau terhadap produk domestik bruto?

Memberi dampak, karena sebagian besar transaksi yang dilakukan secara daring itu belum terdeteksi data kita di BPS. BPS itu masih memakai pendataan yang normal pada kios-kios maupun toko-toko. Namun, yang daring ini baru akan dicatat secara benar, sehingga kalau sudah dicatat secara benar kita tahu bahwa online itu tidak mengganggu perekonomian nasional atau tidak mengakibatkan daya beli turun. Jadi, ini sekarang yang akan kita lihat apakah daya belinya benar-benar turun, atau sebenarnya pola pembelanjaan yang berubah. Karena online itukan ada yang resmi ada yang tidak resmi, yang tidak resmi itu misalnya yang jual-jual via Instagram atau Facebook itukan tidak ada company resminya, tidak ada nomor wajib pajaknya, jadi datanya saja tidak tercatat apalagi pajaknya.

Bagaimana pendapat Anda soal banyaknya toko-toko retail konvensional yang tutup?

Menurut saya, mau tidak mau toko-toko ritel harus mengikuti mereka yang bisa survive di luar negeri. Di luar negeri pun banyak toko yang tutup, tapi ada juga yang bisa survive dan bertahan. Kuncinya ialah meskipun saya bukan ahli marketing, tapi mereka itu masuk ke online juga. Jadi kalau toko-toko ritel ingin survive mereka tidak bisa lagi 100% offline harus ada porsi online. Contohnya Walmart itu yang merupakan supermarket biasa sekarang 30% sudah online, jadi dia tetap buka dua-duanya Walmart toko ada dan Walmart dunia maya juga ada, termasuk juga toko-toko kecil. Kemudian, menurut saya, kunci untuk dapat bersaing ke depannya ialah meskipun perusahaan kecil itu harus ada product development atau R and D.

Dalam survei peringkat daya saing global 2017-2018, di mana Indonesia naik lima peringkat dari 41 menjadi 36, di sisi lain di antara negara Asia sendiri industri Indonesia masih tertinggal (contoh industri manufaktur). Terkait dengan perbaikan peringkat daya saing kita yang kian membaik, apa dampaknya? terutama bagi perkembangan industri ke depan?

Saya pikir akan sangat berpengaruh pada industri, karena kita tetap perlu FDI (foreign direct investment), capital in flow itu sangat diperlukan. Capital in flow itu ada 2, yang bersifat portofolio melalui capital market dan ditentukan rating kita. Untuk yang real investasi atau FDI, yang memmengaruhi itu ialah infrastruktur, karena infrastruktur yang membaik, kedua perizinan sudah mulai dikurangi atau diperpendek. Infrastruktur harus terus dibangun dan dilengkapi, perizinan dikurangi, kalau 2 hal ini konsisten dilakukan dan membaik terus maka arus investasi kita akan lebih baik.

Terkait dengan pemindahan Ibu Kota, sudah sejauh mana kajian yg dilakukan Bappenas? Infonya akan dibangun di Kalimantan, apa benar seperti itu? Dan kapan akan diinfokan ke publik?

Pokoknya kita fokus di luar Jawa, tapi kita fokus pada daerah yang relatif bebas benacana, artinya resiko bencananya lebih kecil di pulau lainnya. Daerah mana persisnya nanti harus saya konsultasikan dulu ke presiden, karena akhir bulan ini (Desember 2017) yang penting kita siapkan adalah alternatif-alternatifnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kemudian untuk diputuskan daerah mana sehingga dapat dilakukan pengkajian lebih lanjut terutama untuk menyusun visibility study yang lebih lengkap, detail engineering design-nya dan satu kagi yang penting ialah skema pembiayaan. Tugas kami ialah menyiapkan kajian, sehingga saat dibutuhkan tidak perlu mengulang dari nol lagi, gunakan apa yang ada dan seolah-olah ini akan terjadi. Namun, kalau terjadi atau tidak itu keputusan politik, yang kita siapkan ialah studi selengkap mungkin dan siapa pun nanti pengambil keputusan, mengambil keputusannya itu gampang. (M-4)

Komentar