PIGURA

Pemimpin Bersahaja

Ahad, 7 January 2018 05:46 WIB Penulis: Ono Sarwono

DOK. MI

GAYA berpakaian Presiden Joko Widodo tak jarang mendapat perhatian publik. Terutama belakangan ini karena pakaian yang dikenakannya tidak seperti biasanya, terkesan santai dan modis.

Yang anyar ketika Presiden meresmikan beroperasinya kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Selasa (2/1). Saat itu Kepala Negara mengenakan kaus lengan panjang tanpa kerah berwarna merah marun dipadu dengan celana blue jeans dan bersepatu kets merah, sedangkan sejumlah menteri Kabinet Kerja yang mendampingi necis mengenakan batik lengan panjang.

Dalam urusan berpakaian, Jokowi selama ini memang tampak lebih suka nonformal. Dalam bekerja sehari-hari, pakaian yang sering dikenakan hanyalah kemeja putih lengan panjang yang digulung dan kadang batik biasa. Ini sudah menjadi 'pakemnya' sejak ia masih sebagai Wali Kota Surakarta, kemudian Gubernur DKI, dan kini presiden.

Tinggalkan mahkota

Poinnya ialah bahwa gaya berpakaian Jokowi sederhana. Nah, bila ditengok dalam dunia wayang, tokoh yang modelnya seperti Jokowi ialah para kesatria Pandawa, lima putra mendiang Raja Astina Prabu Pandudewanata-Kunti Talibrata/Madrim. Malah bukan sekadar sederhana, cara dan model berpakaian mereka mencerminkan watak masing-masing.

Pandawa adalah para pangeran dan ahli waris kekuasaan dan kekayaan Astina, tetapi dewasanya mereka menjadi para titah yang sangat sederhana dalam segala hal, termasuk dalam berpakaian itu. Ini semua dipengaruhi perjalanan hidup mereka yang kerap pahit.

Eloknya, meski cara dan pakaiannya sederhana, Pandawa tidak kehilangan kemilau pribadinya. Kegenturannya menjalani laku prihatinlah yang mentransformasikan mereka menjadi insan-insan seminau dan senantiasa memancarkan kedamaian dan kenteraman bagi semua makhluk.

Di antara kelima trah Pandu itu, dalam konteks sebagai pemimpin negara yang cara berpakaian sederhana ialah ada pada Puntadewa. Sulung Pandawa ini ialah penguasa Amarta bergelar Prabu Yudhistira. Ketika dilantik menjadi raja, ia langsung menanggalkan segala perhiasan yang melekat pada tubuhnya.

Puncak kesederhanaannya ia tidak ingin tampil sebagai raja dengan segala kebesarannya seperti pada umumnya. Puntadewa tidak berkenan mengenakan kuluk kanigara (mahkota) raja. Ia memilih membungkus kepalanya dengan kain dan bergelung keling. Ini persis seperti penampilan Bathara Darma, dewa pemberi keadilan jagat.

Dalam bahasa lain, Yudhistira tidak suka formalitas. Pakem atau keharusan bahwa raja itu harus berpakaian atau mengenakan ini dan itu sebagai lambang keagungan, ia tinggalkan. Niatnya itu agar dirinya tidak berbeda dengan yang dipimpin. Tidak pula ingin ada jarak begitu kentara antara dirinya dengan rakyatnya.

Sesungguhnya itu bukan sekadar karena kedewasaannya berpikir, melainkan, ini sejatinya, merupakan cermin dari watak atau kepribadiannya yang memang sederhana tulen. Jadi, kesederhanaannya bulat dan utuh, luar dalam. Ini bukan gaya-gayaan atau pencitraan demi kepentingan politik.

Laku lahir dan batin demikian ini ia jalani selama hayatnya. Bahkan, hingga detik-detik ia meninggalkan dunia fana ke alam keabadian.

Lahir dan batin

Kisahnya, sejak masih anak-anak dan tinggal di Istana Astina, Puntadewa gemar membaca, terutama kitab suci dan buku-buku spiritual. Maka, tidak aneh bila sejak belia ia sudah paham akan makna kehidupan. Keyakinannya bahwa misi manusia hidup ini sejatinya berdarma.

Berangkat dari pemahamannya itu, ketika ia dipercaya menjadi pemimpin Amarta, Puntadewa tidak pernah merasa paling berkuasa, apalagi ingin menikmati kedudukannya. Jabatan tersebut merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Maka, segala kekuatannya, lahir-batin, ia persembahkan untuk rakyat.

Kepada putranya, Pancawala, ia mewanti-wanti agar tidak sekalipun memanfaatkan kedudukan bapaknya. Pun kepada para saudara dan keponakannya, ia tekankan bahwa hidup ialah berdarma. Wejangannya, ada kemuliaan yang mesti dicari daripada kenikmatan duniawi.

Sebagai pemimpin, cerita tentang kesederhaannya, bukan hanya dalam berpakaian atau sesuatu yang melekat pada tubuhnya sehari-hari. Ia adalah tokoh besar yang yang rendah hati, ramah, sopan, dan santun kepada siapa pun. Ia pantang membuat orang lain susah karenanya.

Dalam sejarahnya, Puntadewa juga tidak pernah libur dari tugas dan pekerjaan demi bangsa dan negara. Tidak sekalipun terdengar kabar ia menikmati bebedhat (berburu) ke hutan, misalnya, seperti yang kerap dilakukan para raja.

Puntadewa juga tidak pernah mat-matan (menikmati) hidup dengan menyelenggarakan pesta di luar acara kenegaraan untuk menyambut tamu dari negara lain. Ini berbeda dengan para saudara sepupunya, Kurawa, yang setiap saat berpesta dengan mengggunakan anggaran negara.

Laku inilah sebagai kunci keberhasilan Puntadewa membawa Amarta menjadi negara yang adil dan makmur. Bahkan, kebesaran Amarta, yang terbilang negara anyar, mampu mengalahkan 'induknya', Astina, negara yang didirikan nenek moyangnya.

Karakter lain pada diri Puntadewa sebagai pemimpin ialah ia pribadi yang welas asih. Karena itu, jangankan membenci, untuk bersikap tidak suka saja, ia tidak kuasa. Meski, sepanjang memimpin Amarta, ia nyaris tidak pernah henti dari sasaran cercaan, fitnah, dan sejenisnya.

Anutan dan teladan

Keluhuran budinya itu bukan hanya menyasar sesama manusia, melainkan juga terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh karenanya, kualitas pribadinya disebut-sebut mengalahkan para dewa di Kahyangan. Oleh karenanya, Puntadewa diceritakan naik ke nirwana tanpa proses kematian.

Hikmahnya adalah bahwa Puntadewa ialah pemimpin yang bersahaja, yang tidak ikut-ikutan gaya 'pakem', seolah-olah ada keharusan bahwa kalau raja itu dalam berpakaian mesti mengenakan ini dan itu. Poinnya ia lebih mengutamakan substansinya sebagai seorang pemimpin.

Meski demikian, Puntadewa tetap menghormati aspek kepatutan, kepantasan, dan kesantunan. Ia tidak seenaknya sendiri dalam berpakaian. Dalam kearifan lokal, sikap demikian itu yang disebut ngepan papan duga prayoga. Ia menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di Amarta. Ia sadar bahwa seorang pemimpin itu merupakan anutan dan teladan. (M-4)

Komentar