Gaya Urban

Memupuk Solid di Jeram Serayu

Ahad, 7 January 2018 05:16 WIB Penulis: Tosiani

MI/TOSIANI

DI tepi Sungai Serayu yang melintas di Desa Radegan, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sekelompok orang tampak bersiap di samping perahu karet. Wajah mereka menyiratkan semangat untuk segera bermain air.

Cuaca di Minggu (10/12/2017) itu pun tampak bersahabat, sedangkan debit air sungai yang cukup tinggi akibat hujan belakangan hari bisa menjadi tantangan sekaligus menambah keseruan. Sebagaimana pengetahuan umum di olahraga arung jeram rafting, debit air yang cukup tinggi mendukung manuver perahu. Namun, tentunya juga bisa membuat jeram-jeram makin ganas.

Di tepi sungai itu selama beberapa menit mereka menerima arahan dari pemandu terkait cara menjaga keselamatan dan teknik sederhana mendayung. Mereka juga memeriksa kembali perlengkapan pelindung tubuh termasuk baju pelampung, helm pengaman, pengaman tubuh, hingga sepatu karet.

Seusai itu, kesepuluh orang tadi dibagi menaiki tiga perahu yang masing-masing memiliki seorang pemandu. Selain itu ada pula perahu keempat yang berisi empat regu penyelamat. Keberadaan regu penyelamat ini dirasakan beberapa orang membuat kepercayaan diri mereka makin kuat karena merasa lebih aman. Meski arung jeram bukan olahraga baru dan terbuka bagi beragam kalangan, bahkan anak-anak, keselamatan memang harus diperhatikan dengan baik. Terlebih di sungai-sungai dengan arus cukup deras dan jeram beragam seperti Serayu.

Begitu memasuki sungai, kesegaran langsung menyergap dari air yang menerpa tubuh. Pada masa awal perjalanan ini arung jeram masih terasa seperti wisata karena jeram yang masih dalam kategori ringan. Sebabnya pula peserta masih bisa santai menikmati pemandangan sekitar yang cantik dengan pepohonan dan tebing.

Setelahnya, barulah jeram-jeram menantang hadir. Arus terasa kian deras seiring dengan kontur sungai yang kian menurun dan juga berliku.

Badan kini telah basah kuyup dan adrenalin kian tinggi. Keseruan makin jadi karena para pemandu lihai mengarahkan perahu layaknya permainan. Contohnya ialah ketika perahu sengaja dibuat makin tidak seimbang saat melewati jeram tertentu. Akibatnya guncangan makin kuat dan beberapa peserta terlempar ke air.

Lain waktu, pemandu sengaja memilih bagian jeram yang paling curam sehingga perahu meluncur nyaris tegak lurus. Perahu juga kemudian berputar-putar terperangkap di arus yang deras.

Namun, tentunya semua itu dilakukan dengan penuh perhitungan oleh para pemandu yang juga sudah sangat berpengalaman di sungai tersebut. Dengan begitu, keselamatan tetap terjaga.

Salah satu peserta, Fuad Rahmat Wibowo, mengaku sangat terkesan. Bagi pria berusia 28 tahun itu tantangan tinggi di jeram-jeram justru menambah nikmat kegiatan. Meski pula ada kalanya ia merasa cemas tetapi tidak sampai merasa terancam. Bahkan, momen-momen yang menegangkan dirasa sebagai pengalaman berharga yang tidak akan terlupa.

Diantranya ialah ketika perahu tidak bisa bergerak. Kala itu mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu bantuan regu penyelamat. "Terjadi sampai tiga kali dan saya sempat was-was. Tapi saya sangat terkesan dengan kegiatan ini," akunya.

Memang kala berarung jeram, ada banyak kondisi yang bisa menyebabkan perahu tidak bisa melaju. Di antaranya ialah tersangkut batu atau tumbuhan, atau bisa pula karena terjebak arus. Dalam kondisi arus yang deras dan air yang dalam maka bantuan tim penyelamat sangat dibutuhkan.

Kegiatan rafting ini merupakan yang kedua kali diikuti Fuad. Sebelumnya ia mengikuti rafting di Kali Elo dari sisi Magelang. Kendati kerawanan di Sungai Elo juga tinggi, tetapi tidak ada regu penyelamat khusus untuk kegiatan arung jeram di sungai itu sehingga Fuad mengaku saat itu lebih merasa was-was.

Melatih kekompakan

Kegiatan rafting yang menempuh jarak 14 km di Sungai Serayu ini merupakan program rutin dari grup rafting Polda Jateng. Kesepuluh pria yang ambil bagian ialah anggota tim pengawas dan auditor.

"Ini rutin dilakukan hampir tiap satu hingga dua pekan sekali di tiap waktu luang. Tujuannya untuk menumbuhkan kekompakan, komunikasi, kebersamaan, dan kerja sama di antara para auditor," jelas Komandan Tim Auditor dari Irbidops Itwasda Polda Jateng, AKBP Wahyu Wim Hardjanto.

Ia menambahkan, jika sistem kerja para auditor memang harus mandiri secara profesional. Maka ritme ini berpotensi membuat sifat individualisme, padahal para auditor ini juga harus terus melakukan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang baik.

"Kami berupaya mengikis kecenderungan individualis itu melalui kegiatan rafting. Di air, kami bisa saling tolong jika ada yang jatuh, saling bantu, mendayung bersama. Dengan demikian, keriangan di sela kesulitan yang timbul pada saat kegiatan akan menumbuhkan kekompakan, kebersamaan, kerjasama, dan komunikasi yang baik, saling memberi informasi antara sesama auditor,"tutur Wahyu.

Sebelumnya, Wahyu bersama timnya juga melakukan rafting di Sungai Progo di sisi Kabupaten Temanggung. Mereka memulai mengarungi jeram di Sungai Progo dari area di bawah Jembatan Jengkiling di Kecamatan Kranggan selama sekitar tiga jam.

Pada saat itu, arus Sungai Progo sangat deras. Perahu karet yang dinaiki Wahyu sempat merosot menuruni jeram, lalu menabrak batu besar. Perahu terbalik, Wahyu dan empat anggotanya jatuh ke air, terseret aliran sungai hingga sekitar 200 meter ke beberapa lokasi yang berbeda.

Pemandu rafting ketika itu berupaya melempar tali ke arah Wahyu yang berada pada posisi paling jauh dan paling sulit. Setelah menangkap tali tersebut, Wahyu berhasil diselamatkan. "Kejadian itu amat membekas pada kami, amat menantang, memacu adrenalin," pungkas Wahyu.

Komentar